3 Sebab Mengapa Tahun Baru di Aceh Cenderung Sepi

0
Source: newsbandaaceh.blogspot.co.id

Bukan hal yang tabu jika tahun baru dilakukan berbagai agenda seperti pesta kembang api, meniup trompet secara masal, dan beragam agenda lainnya. Tak jarang pada malam pergantian tahun tersebut kondisi yang seharusnya menjadi agenda tidur akan diliputi berbagai agenda meriah tak ubahnya siang hari.

Berbeda halnya dengan provinsi Aceh, terakhir kali tahun baru pada tahun 2017 silam hampir tidak ditemukan segelintir oknum atau sekelompok komunitas yang mengadakan perayaan. Jalanan sepi dan pusat hiburan justru tutup lebih awal. Adapun sepinya malam tahun baru di Aceh disebabkan;

3. Aceh Negri Syariat Islam

Sudah tidak diragukan lagi dalam perspektif seluruh masyarakat di Indonesia bahwa Aceh merupakan daerah model syariat Islam. Hal tersebut sudah menjadi identitas yang patut dibanggakan sebab tidak sembarang daerah mampu menerapkan nilai-nilai syariat meskipun mayoritas penduduknya adalah muslim.

Begitu juga dalam perayaan tahun baru masehi, bagi Aceh selaku daerah yang menjunjung tinggi nilai keislaman, perayaan tahun baru masehi merupakan budaya barat. Dimana pada malam puncaknya akan digandrungi oleh pria dan wanita yang belum tentu muhrim sembari meniupkan terompet sekeras-kerasnya. Dalam ajaran Islam tentu yang demikian dilarang dan ditentang keras.

2. Tahun Baru Aceh pada 1 Muharram

Sebagai daerah yang menjadikan budaya Islam sebagai kiblat, tentu Aceh memiliki tahun baru sendiri, yakni tahun baru hijriah yang jatuh pada tanggal 1 muharram. Di Aceh, apabila tahun baru Islam tiba maka akan digelar berbagai acara keislaman seperti MTQ, pawai pakaian muslim-muslimah, pawai sepeda hias islami dan masih banyak lagi. Berbeda jauh dengan tahun baru masehi yang justru membeludak perayaannya bagi masyarakat di luar Aceh.

1. Himbauan Pemerintah Aceh

Otoritas penguasa memang selalu menjadi momok yang paling efektif dalam melarang suatu kebijakan. Jangankan selevel gubernur atau walikota, bahkan tingkat kepala desa sekalipun akan lebih didengar warga dibanding ustadz atau tokoh pengemuka agama yang menyiarkannya.

Ini tentu menjadi indikator kuat, bahwa syariat Islam akan lebih terealisasi apabila berada pada pemimpin yang benar. JIka tidak, maka syariat Aceh akan tinggal nama belaka. Begitu juga dalam perayaan tahun baru. Dari berbagai aspek, sepinya malam tahun baru di Aceh, adalah otoritas pemerintah Aceh yang sudah turun temurun melarang adanya perayaan bentuk apapun.

Seruan ini tentu bukan sebatas lisan semata, secara praktis, selain pusat hiburan yang harus tutup, implementasi kebijakan pelarangan tahun baru ditindak lanjuti dengan adanya razia malam oleh apparat pemerintah daerah seperti WH, Satpol PP, bahkan Kepolisian dan TNI. Bila ada oknum yang nekad menggelar perayaan, maka mereka akan diamankan dan dibawa ke pos terkait. Sebagai warga yang masih memiliki moral dan rasa malu bersosial, tentu akan memilih untuk tidak melaksanakan perayaan.