3 Ulama yang Mewarnai Corak Tassawuf di Aceh

0
Source: pustakaperadaban.blogspot.com

Di Aceh adalah daerah yang dominan pemeluk agama islamnya sangat besar, bahkan Aceh disebut sebagai Negri Serambi Mekah dengan alasan merupakan daerah pertama di Nusantara yang bersentuhan dengan Islam. Tidak dapat dipastikan kapan Islam masuk ke Aceh. Suatu pendapat memperkirakan agama tersebut mulai masuk kedaerah ini pada abad Ke-9 menyusul kedatangan Hinduisme pada abad Ke-7 dan Ke-8.

Begitu halnya dengan ajaran-ajaran yang dibawa oleh tokoh Islam, Fiqh atau Tasawuf. Mereka mempunyai sistem organizir yang terarah dan disiplin yaitu dayah. Semuanya semakin meluas dan mengakar sehingga tak hanya satu paham dan satu pemikiran yang mewarnai pemikiran khususnya tasawuf di Aceh.

Tasawwuf merupakan jalan hidup dan cara tertentu dalam tingkahlaku manusia, dalam upayanya merealisasikan kesempurnaan moral, pemahaman tentang hakekat realitas, dan kebahagiaan rohaniah. Apa yang dijalani seorang sufi sebagian besar memiliki metode dan dampak yang berbeda, faktorlingkungan, adat, keagamaan, bahkan pemerintahan menjadi unsure penting dalam penerapannya sekalipun demi kebaikan bersosial. Berikut tokoh ulama yang memperngaruhi corak tasawuf di Aceh;

1. Hamzah al-fansuri

Orang banyak menolak pemikiran Hamzah al-Fansuri karena paham wahdatul wujjud, hullul dan ittihadnya. Karenanya banyak orang yang mengecapnya sebagai seseorang yang Zhindiq, Sesat, kafir dan sebagainya. Ada orang yang menyangkanya sebagai pengikut ajaran Syi’ah, ada juga yang mengakui ia bermazhab Syafii dibidang fiqh. Dalam bidang tasawuf ia mengikuti Tareqat Qadariah yang dibangsakan kepada Syekh Abdul Qadir Jailani.

Pemikiran beliau banyak terpengaruhi oleh paham wahdatul wujud Ibn Arabi, kecenderungan ini bisa dilihat ketika ia mengajarkan bahwa Tuhan lebih dekat dari pada urat leher manusia sendiri dan bahwa Tuhan tidak bertempat sekalipun sering dikatakan bahwa Ia ada dimana-mana.

2. Syamsuddin as-Sumatrani

Setelah Hamzah Fansuri wafat, kekuasaan ulama dalam Kerajaan Aceh Darussalam dipegang oleh salah satu muridnya yaitu Syamsuddin as-Sumatrani.  Tidak hanya mahir dalam bidang Aqidah dan ibadah ummat, beliau juga memiliki kemampuan yang tidak kalah dalam bidang Tatanegara dan Kepemerintahan.

Kelebihan Syamsuddin dari Hamzah Fansuri adalah dalam bidang politik, inipula yang menyebabkan berbagai kebijakan politik dalam dan luar negri pada masa Sultan Iskandar Muda sangat gemilang.  Beliau adalah penerus dan pelanjut pemimpin keagamaan pada saat itu, ia menerjemahkan pemikiran Hamzah Fansuri hingga lebih mudah dipahami. Ia juga mengembangkan “martabat empat” dan “martabat lima” yang dipopulerkan Hamzah Fansuri menjadi “martabat tujuh”.

3. Nuruddin Ar-Raniry

Inti ajaran tasawuf mengenai wujudiyyah (Panteisme), menurut Ar-Raniry berpusat pada wahdat Al-wujud yang dislah artikan kaum Wujudiyyah dengan arti kemenunggalan Allah dengan alam. Menurutnya, pendapat Hamzah al-Fansuri tentang wahdat al-Wujud dapat membawa kepada kekafiran. Ar-Raniry berpandangan bahwa, jikabenar Tuhan dan mahkluk itu hakikatnya satu, dapat dikatakan bahwasanya manusia adalah Tuhan dan Tuhan adalah manusia dan jadilah seluruh mahkluk sebagai Tuhan. Semua yang dilakukan manusia, baik-buruk tidaknya maka Allah turut serta melakukannya. Jika demikian halnya, manusia memiliki sifat-sifat Tuhan.

4. Abdur Rauf Al-Singkili

Syeikh Abdur Rauf as-Singkili sempat menerima bulat Tareqat Syathariyah disamping ilmu-ilmu sufi yang lain, termaksuk sekte-sekte dan bidang ruang lingkup ilmu pengetahuan yang ada hubungannya dengannya.

Kiranya namanya di Nusantara dikalangan ulama dan sarjana penyelidik keislaman, tak asing lagi hampir semua penulis sejarah islam mencatat bahwa Syeikh Hamzah Fansuri termasuk dalam tokoh sufi yang sepaham dengan al-Hallaj. Sebelum al-Singkili membawa ajaran taswufnya, di Aceh telah berkembang ajaran tasawuf falsafi yaiutu tasawuf wujudiyyah yang dikenal dengan nama wahdatul wujud. Ajaran ini dianggap ar-Raniry suatu tindakan sesat dan penganutnya sebagai orang yang murtad sehingga terjadilah prosses penghukuman untuk mereka. Tindakkan ar-Raniry dinilai as-Singkili sebagai perbuatan yang terlalu emosional.

as-Singkili berusaha merekonsilasi antara tasawuf dan syari’at mengenai paham satu-satunya wujud yang hakiki yaitu Allah Swt. Sementara alam ciptaannya bukanlah merupakan wujud yang hakiki. Menurutnya, jelaslah berbeda antara Allah dan alam. Walau antara Allah dan mahklunya bisa sangat-sangat dekat seperti dekatnya antara jasad dan bayangan yang tak pernah bisa dilepaskan, tetapi Mereka tetaplah berbeda. Dianalogikan dengan tangan manusia yang memiliki bayang, bisa kita buktikan secara rasional bahwasanya antara bayang dan tangan tidak bisa dipisahkan. Namun bayangan bukanlah tangan dan begitu juga tangan bukanlah bayangan.

Menanggapi tentang pertikaian yang terjadi antara pengikut Hamzah Fansuri dan Nuruddin ar-Raniry, as-Singkili datang sebagai pendamai dua Mazhab tersebut. Disana setelah ia menuntut ilmu lebih jauh, ia mendapat solusi bahwasanya Menurut guru beliau, “Islam melarang saling mengkafirkansesama muslim. Karena menurut hadist Nabi; Barang siapa yang mengkafirkan orang lain sementara ia kafir maka ialah yang kafir.”