5 Badan Esekutif dalam Sejarah Kerajaan Aceh

0
Source: rumahpintarr.com

Pada masa kerajaan sebelumnya, Aceh memiliki sistem pemerintahan yang jauh berbeda dengan masa sekarang. Sistem tersebut diatur dalam Qanun Meukuta Alam Al-Asyi atau dapat dipahami sebagai Undang-Undang Kerajaan Aceh Darussalam yang dicetuskan pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda.

Menurut Ali Hasjmy, strukur itu terdiri atas:

1. Raja atau Sultan

Raja merupakan pemilik kekuasaan tertinggi yang memimpin seluruh wilayah suatu negri. Pada masa kerajaan Aceh silam, raja memiliki gelar khusus sebagai Sultan Imam Malikul Adil. Seperti halnya para mentri bagi presiden. Raja juga memiliki pembantu khusus dalam bidang administrasi kerajaan, merekalah yang dikenal dengan Kadhi. Dalam beberapa literatur, Kadhi merupakan ulama yang memahami berbagai ilmu keislaman, hukum, dan tata negara.

2. Panglima Sagoe

Merupakan istilah atau gelar untuk seorang pejabat yang berada dibawah kekuasaan raja dan berkuasa atas wilayah Sagoe. Sagoe sendiri merupakan daerah yang terdiri dari beberapa wilayah federasi  yang biasanya dipimpin oleh Uleebalang. Tak jauh berbeda dengan raja, Panglima Sagoe juga memiliki penasehat dalam menjalankan tugasnya. Mereka biasanya disebut Kadhi Sagoe.

3. Uleebalang

Merupakan pemimpin atau pejabat kerajaan yang menguasai satu wilayah federasi atau biasa dikenal pada masa itu sebagai wilayah naggroe. Wilah ini terdiri dari beberapan satuan daerah mukim. Dalam menjalankan tugasnya, Uleebalang juga dibantu oleh seorang Kadhi yang biasanya disebut sebagai Kadhi Nanggroe.

4. Imeum Mukim

Merupakan pemimpin suatu daerah yang secara struktur kerajaan dibawah wilayah nanggroe. Ia terdiri dari kumpulan beberapa gampong. Dalam menjalankan tugasnya lagi-lagi pemimpin wilayah ini juga didampingi oleh seorang Kadhi yang dikenal Kadhi Mukim dan dibantu beberapa wakil Mukim.

5. Keuchik

Dalam sistem pemerintahan sekarang, Keuchik atau kadang disebut Geuchik merupakan istilah untuk Kepala Kampung di Aceh. Tak jauh berbeda pada masa kerajaan Aceh sebelumnya, istilah Keuchik masih diimplementasikan hingga saat ini. Dalam menjalankan tugasnya, Keuchik dibantu Wakil Keuchik, Imam Gampong atau Imam Meunasah, dan Tuha Peuet atau dikenal dengan Dewan Empat. Sebagian riwayat menjelaskan bahwa kata Keuchik berasal dari kata 'ku' (ayah) dan kata 'chik' (tua). Jadi Keuchik dianggap sebagai ayah paling dihormati melebihi kedudukan seorang ayah dalam suatu gampong.