Aceh Seharusnya Memiliki Pabrik Tekstil Sarung Sendiri

0
Source: acehinfoweb.blogspot.co.id

Kain sarung merupakan komuditi tekstil yang tak bisa dipandang sebelah mata. Walaupun bukan bagian dari pada seragam utama namun eksistensinya mampu menembus pasar permintaan yang tak bisa dikatakan sedikit. Apalagi di Aceh, bisa dikatakan permintaan sarung mencapai kuantitas yang lebih tinggi dibanding daerah lainnya. Fenomena tersebut tak terlepas dari kultur sosial dan adat Aceh yang menjadikan sarung sebagai pakaian rekomendasi bila melaksanakan ibadah-ibadah keagamaan seperti shalat, pengajian, dan acara zikir bersama.

Begitu seriusnya sarung bagi civitas masyarakat Aceh khususnya mereka yang mengklaim dirinya kelompok tradisonalis seperti kalangan ulama, tengku, santri, menjadikan sarung sebuah busana yang lebih prioritas dibandingkan celana khususnya saat shalat. Bahkan, dibeberapa daerah Aceh yang nuansa tradisionalnya masih kental, khatib jumat tidak boleh naik mimbar bila tidak mengenakan sarung. Lebih fenomenal lagi, sarung sudah pernah masuk dalam daftar wacana DPR-Aceh agar menjadi pakaian resmi para wakil rakyat tersebut.

Sangat disayangkan, walaupun Aceh memiliki angka permintaan sarung yang besar, faktanya sumber sarung tekstil Aceh di order dari daerah luar (non-lokal) seperti Bandung, Jakarta, dan Medan. Tak dipungkiri, di Aceh juga ada tenunan sarung tradisional yang mencoba menunjukkan eksistensinya bagi warga Aceh. Akan tetapi berhubung produksinya masih menggunakan skill tangan dan mesin sederhana, efektivitas jumlah produksinya masih kalah jauh dari sarung hasil produk luar Aceh. Tidak hanya itu, warga Aceh sendiri lebih antusias membeli sarung produk luar atas faktor biayanya yang murah dan terjangkau. Sementara, produk sarung hasil kreativitas lokal walaupun memiliki karakter ke-Acehan namun aspek harganya jauh diatas sarung luar produksi luar.

Melihat realita ini, seharusnya Aceh memiliki pabrik tekstil sarung sendiri. Ini tentu sebuah tantangan potensial bagi pemerintah atau para investor dalam menginventasikan uangnya demi kemaslalahatan Aceh bersama. Dengan adanya pabrik sarung sendiri, tidak hanya meningkatkan pendapatan dan prekonomian daerah, melainkan juga membuka lowongan lapangan pekerjaan yang tengah dibutuhkan warga Aceh saat ini.