Agar Maju, Perlukah Aceh Mencontoh Eropa yang Memisahkan Sains dan Agama?

0
Source: www.rdmag.com

Eropa yang dikenal dengan benua biru, memiliki anggota negara-negara yang jauh berbeda dengan negara-negara yang ada di benua lainnya. Salah satu yang paling mencolok adalah kemajuan sains dan teknologinya yang secara totalitas digandrungi oleh negara-negara maju seperti Inggris, Sepanyol, Italia, Perancis, Jerman, Belanda dan masih banyak lagi. Berdasarkan realitas sejarah, ternyata dibalik kemajuan peradaban bangsa Eroba saat ini adalah pristiwa Renaisans yang diplopori oleh sekularisasi agama.

Sekularisasi agama merupakan sebuah tindakan dimana bangsa Eropa yang didominasi oleh agama Kristen, memisahkan antara kepentingan agama dan sains. Eropa yang sebelumnya terpuruk pada masa kekuasaan dipegang oleh gereja (masa patristik) mencoba bangkit dengan menentang otoritas yang menyandingkan antara agama dan sains tersebut. Gereja pada masa itu yang radikal dan ortodoks dinilai menghambat kemajuan bangsa Eropa dengan berbagai aturan keagamaan (dogma) nya. Para peneliti, filosofer, bahkan ilmuan, banyak yang dihukum mati hanya karena mengembangkan ilmu pengetahuan yang secara tekstual keagaman mereka bertentangan dengan keyakinan pihak gereja.

Salah satunya adalah Nicolas Copernicus dan Galileo Galilei yang  dihukum mati akibat bersikukuh pada penelitian mereka bahwa secara sains bumi mengelilingi matahari, sedangkan pihak gereja menentang teori tersebut sebab dalam alkitab menurut mereka justru mataharilah yang berputar mengelilingi bumi.

Berangkat dari fenomena diatas, didukung oleh berbagai kasus radikal lainnya, Eropa akhirnya melakukan gerakan sekularisasi besar-besaran yang berdampak pada pemisahan antara aspek agama dan sains secara global. Bagi kaum agamawan tidak boleh mencampuri urusan perkembangan sains lagi, agama berjalan dijalurnya sendiri sedangkan sains bebas berkreasi tanpa ada batas dari ajaran agama yang dinilai menghambat kemajuan IPTEK dan teknologi. Alhasil, akibat peristiwa bersejarah tersebut, bangsa Eropa berhasil bangkit melampaui bangsa lainnya dan mengambil pusat peradaban yang sebelumnya dipegang oleh umat Islam.

Aceh untuk saat ini secara literal memiliki masa yang pelik sebagaimana bangsa Eropa pada masa sebelum kebangkitan mereka. Pristiwa patrestik di Eropa silam sebelum abad pertengahan, dimana otoritas kekuasaan dipegang oleh kaum agamawan sekarang tengah dialami di Aceh yang mana agama senantiasa menjadi pembatas bagi kaum intelektual Aceh dalam mengembangkan kreativitasnya. Segala bentuk inovasi yang ditonjolkan di Aceh kerap kali mendapat kecaman serius seperti;  bid’ah, haram, sesat dan masih banyak lagi. Pertayaannya, perlukah Aceh mencontoh Eropa yang berhasil maju karena melakukan sekularisasi dengan memisahkan otoritas agama dan sains?

Jawabannya tentu saja tidak! Tokoh ilmuan Islam mengatakan bahwa barat (Eropa) maju bila meninggalkan agamanya, sementara Islam justru terpuruk karena meninggalkan agamanya. Hal itu karena ajaran agama barat tidak mendukung kemajuan teknologi sejalan dengan penerapan nilai-nilai keagamaan mereka, sedangkan ajaran Islam senantiasa relevan dan sesuai dengan perkembangan zaman bagaimanapun. Alasan mengapa Islam saat ini terpuruk adalah karena kaum muslimin sedang lemah-lemahnya khususnya mentalias mereka dalam bersaing dengan bangsa barat.

Begitu juga dengan Aceh yang secara mayoritas didominasi oleh penduduk beragama Islam. Aceh pernah menorehkan tinta emas kejayaan pada masa silam, dimana syariat dan keagamaan bangsa Aceh diimplementasikan secara kaffah dan sungguh-sungguh. Jadi salah satu upaya agar masyarakat Aceh bisa maju adalah dengan mengembalikan marwah Aceh kedalam ajaran Islam yang hakiki bukan topeng-topeng identitas keagamaan semata. Sebab ajaran Islam merupakan karunia Allah Swt yang apabila dijalani dengan sungguh-sungguh niscaya umatnya akan memperoleh keberhasilan didunia maupun diakhirat.