Belajar Dari Jepang: Kreatif Menghadapi Bencana

0
Source: @aslansaputra collections

Alhamdulillah, beberapa tahun yang lalu saya berkesempatan untuk mengunjungi Jepang pada kegiatan JENESYS 2.0 Disaster Prevention Course selama sembilan hari. Sesingkat itu saya banyak mengambil pelajaran dan tips trik dalam mencegah dan menghadapi bencana serta pemulihan pasca bencana. Beberapa di antaranya malah tidak terkait sedikitpun terhadap kecanggihan teknologi yang Jepang miliki. Oleh sebab itu saya yakin Aceh bisa lebih jauh siap dalam penerapannya.

Persiapan Sebelum Bencana

Bencana yang pernah terjadi tentu saja menjadi pelajaran yang baik untuk pencegahan selanjutnya. Misalnya, bagaimana gejala alam yang terjadi sebelum tsunami, apa-apa saja yang harus dipersiapkan ketika bencana datang, dan bagaimana menyelamatkan diri ketika bencana datang. Berikut ini beberapa cara untuk meningkatkan persiapan dalam menghadapi bencana.

1. Mengetahui Manajemen Siaga Bencana Gampong

Setiap individu harus paham kemana harus berlari ketika tsunami datang

Di Jepang, manajemen bencana terintegrasi mulai dari lini pemerintahan sampai rumah tangga. Setiap orang diwajibkan paham terhadap apa yang harus ia lakukan sebagai bagian masyarakat setempat demi keselamatan terhadap bencana. Misalnya sebagai dokter yang sedang merawat pasien di rumah sakit, apa yang harus dilakukan ketika bencana datang. Begitu juga untuk para tentara, pegawai kantoran, anak sekolah hingga para disabilitas.

Seperti di kota Nagareyama tempat saya homestay selama dua hari. Ibu kami mengajak kami jalan-jalan dan menjelaskan persiapan desa mereka dalam menghadapi bencana. Setiap lorong memiliki satu ketua siaga kebencanaan yang bertanggung jawab menyebarkan informasi mengenai kebencanaan kepada tiap-tiap rumah di bawah pengawasannya. Kemudian tiap-tiap ketua ini harus melapor ke kepala RT dan begitu seterusnya sampai ke tingkat kota.

Setiap RT memiliki meeting point yang berbeda-beda mengingat agar jarak dari rumah menuju tempat-tempat meeting point lebih dekat. Biasanya digunakan gedung sekolah. Apabila bencana terindikasi semakin berbahaya, maka seluruh warga diarahkan menuju escape building. Bagi sekolah yang bukan merupakan tempat meeting point, semua murid akan diarahkan oleh guru-gurunya untuk bergerak ke tempat escape building. Ini agar tidak ada anggota keluarga yang terpencar.

Begitu pula untuk perkantoran dan instansi pemerintah memiliki manajemen mitigasi bencana yang berbeda-beda. Setiap lini diajarkan untuk mandiri dan untuk disaster prevention drill biasanya dilakukan mandiri oleh masyarakat RT, sekolah dan perkantoran. Untuk tempat umum biasanya disediakan tanda jalur evakuasi.

Di Aceh juga bisa diterapkan seperti ini dengan memandirikan pencegahan bencana dari tingkat gampong. Setiap kepala dusun bertanggung jawab terhadap keselamatan masyarakat dusunnya.

Surat edaran bagi setiap kepala keluarga dari ketua siaga kebencanaan


2. Rumah Siaga Bencana


Kantor Kepala Desa yang sering dijadikan tempat berkumpul para ketua siaga bencana

Di Jepang, setiap rumah memiliki tas siaga bencana. Isi tas siaga bencana terdiri dari selimut, makanan kaleng yang tahan sampai 3 bulan, botol minuman, arsip penting, senter, dan obat-obatan. Tas ini diletakkan di dekat pintu rumah atau tempat yang mudah terjangkau. Jadi apabila terjadi bencana, bisa langsung mengambil tas ini.

Di rumah homestay kami lebih preventif. Dua buah helm diletakkan tepat di atas pintu dan terikat dengan tali yang disimpulkan di dinding dekat engsel pintu. Jadi ketika menarik tali tersebut, maka helm akan turun ke bawah. Helm digunakan karena di Jepang sangat rawan terjadi gempa.

Tas siaga ini masih sangat jarang diterapkan di Aceh. Seharusnya perlu karena di saat bencana terjadi kita tidak sempat lagi packing barang.

Masih ada kaitannya dengan manajemen siaga bencana gampong, di Jepang setiap rumah memiliki masing-masing peta evakuasi. Di Aceh hal ini perlu disediakan pula, karena belum tentu seisi rumah paham kondisi di daerah tempat tinggalnya, atau mungkin ada saudara yang hanya menetap baru sehari atau dua hari sehingga masih bingung cara evakuasi.

3. Bukan Sekedar Museum

Saya di Disaster Prevention Gallery, Sona Area Tokyo

Tempat yang kami kunjungi di Jepang sangat berbeda dengan museum tsunami yang ada di Banda Aceh. Jika di museum tsunami Banda Aceh lebih kepada memori tentang kedahsyatan tsunami, di Sona Area Tokyo lebih kepada mengajarkan pengunjung tentang kesiapan terhadap bencana. Di sana disediakan simulasi bagaimana bertahan hidup selama 72 jam.

Selain itu juga dipamerkan beragam barang persiapan yang berbeda-beda untuk penanganan bencana yang berbeda-beda pula. Misalnya barang-barang yang harus disediakan untuk pemulihan trauma anak-anak, barang-barang yang harus dipersiapkan untuk bertahan hidup, dan beberapa barang lainnya yang dipisah sesuai dengan kebutuhan. Bahkan beberapa botol minuman bekas dijadikan meja darurat.


Tempat ini tidak hanya untuk menyampaikan sejarah yang ada tapi juga lebih kepada persiapan apa yang harus dipersiapkan oleh kita demi menghadapi bencana yang akan terjadi ke depan. Ini lebih efektif dan lebih mengedukasi masyarakat.

Sebaiknya museum tsunami banda aceh juga disediakan bagian untuk belajar persiapan menghadapi bencana gempa dan tsunami di masa yang akan datang.


4. Universitas Sebagai Laboratorium Ilmu Kebencanaan


Ada baiknya di setiap daerah yang pernah terkena tsunami memiliki satu universitas yang intern mengkaji dan meneliti puing-puing tsunami yang masih tersisa di seputar daerah bekas terjangan gempa dan tsunami. Hal ini agar persiapan suatu daerah lebih teruji secara ilmiah. Selain untuk meneliti bagaimana proses bencana terjadi, universitas juga bisa membuat inovasi-inovasi terbaru guna mengurangi dampak bencana.

Seperti di daerah Chiba, Jepang, Chiba Science of Institute rutin mengadakan penelitian mengenai tingkat kekuatan gempa dan bagaimana cara mendesain perabot rumah anti gempa, serta menghitung tingkat kecepatan air tsunami sehingga bisa memperkirakan jarak rute terdekat pada tiap-tiap tempat rawan bencana. Dan masih banyak lagi penelitian yang telah dilakukan.

Di Aceh, harus ada universitas yang mengkaji lebih dalam agar Aceh bisa lebih siap dalam menghadapi bencana. Sejauh ini baru Unsyiah dengan magister kebencanaannya. Ke depan diharap lebih banyak kampus yang mau fokus terhadap penelitian kebencanaan yang sampai saat ini masih terus diteliti oleh para ilmuan Jepang. Mengingat Aceh yang telah dan pernah diterjang tsunami harus bisa melahirkan ilmu-ilmu kebencanaan agar bisa digunakan bagi negara-negara lain yang belum pernah terkena tsunami.

5. Fasilitas Untuk Penyandang Disabilitas


Jujur saja Aceh masih sangat minim atau bahkan mungkin tidak ada fasilitas bagi mereka yang kurang dari segi fisik. Seperti pada panti disabilitas yang ada di daerah Ladong, Aceh Besar. Mereka mengakui tidak tahu apa yang harus dilakukan ketika terjadi gempa bumi. Mereka masih tetap berada di ruangan dan tidak tahu harus berlari kemana.

Beberapa teman saya yang tergabung dalam tim Life For Share juga pernah mengadakan kegiatan pelatihan kebencanaan bagi mereka dan memasang peralatan-peralatan sederhana untuk evakuasi bencana. Seperti menarik tali panjang agar bisa diraba oleh mereka yang tunanetra untuk bisa menuju tempat yang aman. Untuk di daerah-daerah umum seperti rumah sakit, mall, museum dan perkantoran masih belum menyediakan fasilitas bagi para penyandang disabilitas di Aceh.

6. Story Telling


Di Jepang ada komunitas story telling yang memberikan ruang bercerita bagi para korban gempa dan tsunami. Mereka menjelaskan bagaimana bencana itu terjadi dan bagaimana mereka bisa berjuang untuk hidup. Memang kesannya membosankan karena harus mendengar cerita yang sama. Namun konsep komunitas story telling ini lebih disediakan bagi para pengunjung yang belum pernah mendengar cerita mengenai kisah selamat dari Tsunami. Kegiatan story telling ini tidak lebih dari sejam dan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab.

Di Banda Aceh, story telling ini sudah ada di museum tsunami dan selalu diadakan ketika ada rombongan yang mengunjungi museum tsunami. Namun, baiknya kegiatan tidak selalu harus diceritakan pada event-event tertentu. Sebaiknya cerita mengenai tsunami harus terus disampaikan dari orang tua ke anak dan begitu seterusnya agar terus sampai hingga ke generasi berikutnya. Karena sebelum terjadi tsunami pada tahun 2004, sebenarnya Aceh sudah pernah dilanda tsunami. Namun akibat informasi yang terputus ini, membuat banyak korban yang terenggut.

Konsep story telling ini sudah pernah diterapkan oleh generasi dahulu ketika mengerti istilah smong di Simeulue. Ketika terjadi gempa tahun 2004 lalu, masyarakat percaya bahwa air laut akan naik beberapa saat nanti dan mereka semua naik ke gunung untuk menyelamatkan diri. Ini membuat sebagian besar masyarakat di Simeulue selamat dari tsunami.

8. Kearifan Lokal Aceh

Di antara semua hal yang diterapkan Aceh untuk siaga bencana, kearifan lokal adalah yang paling menarik. Terbukti, Jepang sampai sekarang masih mengkaji mengenai kearifan lokal yang ada di Aceh untuk bisa diterapkan di negara mereka. Lho? Kenapa bisa? Bukannya Jepang telah mapan dalam hal siaga bencana? Lalu kenapa masih memakai cara Aceh yang masih tradisional? Begitulah. Selalu ada cara untuk belajar. Mereka terus dan terus melakukan penelitian demi mendapatkan pengetahuan baru. Mereka saja mau belajar dari kita, kenapa kita tidak mau belajar dari mereka?

Untuk itu penting untuk tetap terus melestarikan kearifan lokal aceh khususnya yang terkait dengan persiapan bencana. Saya yakin dan percaya akan banyak ilmu mengenai kebencanaan yang lahir dari Aceh.

Keseluruhan cara yang saya sebutkan di atas bisa dilakukan tanpa perlu memiliki teknologi yang canggih. Walaupun diakui memang di Jepang telah dilengkapi dengan teknologi pendukung seperti tsunami radar dan lainnya. Namun walaupun begitu, inti dari penyelamatan adalah dari diri kita masing-masing. Karena ketika bencana terjadi, bisa saja seluruh teknologi yang menggunakan energi listrik tidak akan berfungsi. Semua orang akan kembali menggunakan cara-cara tradisional.

Yang paling penting adalah sikap kita untuk tetap terus siap dan belajar dalam menghadapi bencana. Menumbuhkan sifat konservatif terhadap alam demi keberlangsungan hidup di masa yang akan datang. Dengan menerapkannya di Aceh, saya yakin dan percaya Aceh akan lebih siap terhadap bencana yang akan datang. Walaupun kita tidak bisa menahan bencana, setidaknya kita bisa mengurangi dampak bencana yang ada. InsyaAllah.