Benarkah Ada Nabi Perempuan?

0
Source: mozaik.inilah.com

Dalam buku Women Right in Islam; Modern or Outdated dijelaskan;  Makna istilah nabi memiliki banyak perbedaan, dua diantaranya nabi sebagai pembawa risalah dan nabi sebagai insan yang disucikan. Jika 'Nabi' yang dimaksud sebagai seseorang yang menerima pesan dan yang bertindak seperti pemimpin terhadap rakyat (pengantar risalah), maka dapat dikatakan dengan pasti, bahwa dalam Islam tidak mendapatkan 'Nabi Wanita'. Karena jika seorang wanita harus menjadi seorang Nabi. Al-Qur’an dengan jelas menyatakan, bahwa pria itu adalah pemimpin keluarga.

Jadi jika pria itu adalah pemimpin dalam keluarga, bagaimana wanita bisa memimpin, bagaimana seorang wanita bisa memimpin orang-orang? Kedua, seorang nabi bahkan harus memimpin shalat berjama'ah. Dan seperti yang dikatakan sebelumnya, bahwa ada postur tertentu seperti; Ruku, Sujud, berdiri, membungkuk dan melakukan Sujud. Jika seorang nabi wanita yang melakukannya, jemaah lelaki di belakang tentu akan terganggu.

Ada situasi seperti Nabi harus bertemu dengan orang biasa, secara teratur. Jika itu adalah nabi wanita, Islam tidak akan membiarkannya bercampur-baur dengan berbagai jenis kelamin. Jika Nabi adalah seorang wanita, dan jika dia hamil, secara alami ia tidak akan bisa melakukan tugasnya selama beberapa bulan.

Jika nabi wanita memiliki anak, akan sulit baginya, untuk melakukan tugas ibu sebaik Nabi. Dan seorang pria lebih mampu melakukan tugas Nabi sekaligus seorang ayah dibandingkan dengan wanita yang melakukan tugas seorang ibu sekaligus sebagai nabi.

Tapi jika makna nabi sebagai insan yang disucikan, maka ada beberapa contoh nabi wanita, dan contoh terbaik adalah, Siti Mariyam. Disebutkan di Surah Maryam (3), ayat 42; “Dan lihatlah malaikat-malaikat itu berkata kepada Mariyam, Bahwa Allah telah memilihmu, dan menyucikanmu, dan dimurnikan di atas wanita dari semua bangsa.”

Selain itu, ada juga Siti Asiyah, pada Surah Tahrim (66), ayat 11, dijelaskan bahwa; “Sebagai contoh bagi orang-orang yang beriman, adalah istri dari keluarga Firaun, Siti Asiyah (semoga Allah berkenan dengan dia), dia berdoa kepada Allah SWT, buatlah untukku, dalam kedekatan dengan Engkau, sebuah rumah besar dit taman , Dan selamatkanlah aku dari Fir'aun, dan kejahatannya.”

Bayangkan, dia adalah istri orang terkuat saat itu , Firaun. Dia menolak semua kemewahan, dan meminta kepada Allah Swt sebagai gantinya, ditinggikan derajatnya dan ia diberikan jaminan sebuah rumah besar di taman yang memiliki banyak interpretasi tertentu dalam menafsirkannya. Jadi, menurut Islam, ada 4 wanita nabi (dalam konteks wanita yang disucikan atau diangkat derajatnya), selain Siti Mariyam dan Siti Asiyah, yaitu; Siti Fatimah dan Siti Khadijah selaku anak dan istri Nabi Muhammad Saw.