Benarkah Adopsi Anak Dilarang Dalam Islam?

0
Source: tribunnews.com

Banyak alasan poligami dilakukan. Akan tetapi, bagi istri yang mandul, poligami merupakan sebuah alternatif apabila sebuah keluarga hendak memiliki keturunan dan generasi penerus. Menurut pakar Islam, poligami adalah solusi agar sebuah keluarga tidak melakukan adopsi anak. Menurutnya, seorang istri harus lebih memilih merelakan suaminya menikah lagi dari pada mengadopsi seorang anak.

“Islam does not allow adoption, for which there are several reasons, I will not go into. The only option remaining here is, that he either divorces the first wife, and takes another wife, if he wants children – or he keeps the first, and takes another wife, and treats them both of them equally.”

Dalam kondisi demikian, Islam tidak mengizinkan adopsi, karena ada beberapa alasan, saya tidak akan melakukannya. Satu-satunya pilihan yang tersisa di sini adalah, jika dia (suami) menginginkan anak-anak  maka dia bisa menceraikan istri pertama, dan mengambil istri lain, atau dia mempertahankan (pernikahan) yang pertama, dan mengambil istri lain, dan memperlakukan mereka berdua secara adil.

Dengan adopsi, berarti sepasang suami-istri membawa anak kecil, anak yang malang dan memberinya penginapan, asrama, pakaian ke rumahnya. Islam selalu menekankan di dalam Al-Qur'an bahwa muslim harus membantu orang-orang miskin, membantu orang-orang yang membutuhkan. Muslim bahkan bisa membawa anak itu ke rumah nya, dan memberinya cinta sosok orangtua kepadanya.

Apa yang Islam beratkan adalah, adopsi tidak dapat mengubah realitas secara hukum. Seorang ayah tidak dapat memberikan nama belakangnya kepada anak. Penerapan hukum, dilarang dalam Islam. Mengapa? karena jika seseorang mengadopsi anak secara legal, mungkin ada beberapa komplikasi.

Pertama, kalau orang itu, maaf anak itu, entah itu cewek atau anak laki-laki, itu akan kehilangan identitasnya. Kedua, seandainya setelah mengadopsi anak, suami-istri mungkin memiliki anak sendiri, tidak ada yang bisa mengatakan, bahwa mereka tidak akan pernah memiliki anak seumur hidupnya. Jika suami-istri memiliki anak sendiri, mereka akan menjadi lebih dominan terhadap anak kandungnya sendiri, daripada anak angkat.

Ketiga, jika anak kandung lahir, kemudian mereka berbeda jenis kelamin dengan  anak angkat, mereka tidak dapat dengan bebas tinggal di rumah yang sama, karena mereka bukan saudara perempuan dan saudara laki-laki, satu sama lain. Jika anak angkat, setelah dia dewasa, apabila anak itu seorang wanita, maka dia harus mengenakan jilbab dengan ayah angkatnya tersebut, karena dia bukan ayah kandungnya.  Jika dia laki-laki maka ia juga tidak bisa berduaan saja dengan ibu angkatnya.

Dan ada beberapa alasan lain selain itu, jika anda mengadopsi anak, anda akan merampas banyak hak kerabat anda. Bila setelah seseorang ahli bait meninggal, apapun harta miliknya, dibagi sesuai dengan apapun yang disebutkan dalam Al-Qur'an. Jika orang itu memiliki anak, dan jika dia mengadopsi anak, secara alami dia akan mencabut bagian dari anaknya sendiri. Jika orang itu meninggal, jika dia memiliki anak, maka istri akan mendapatkan separuh dari jumlah yang seharusnya didapatnya, jika dia tidak memiliki anak, termasuk ibunya. Jika ada anak, dia mendapat seperenam, jika tidak ada anak, dia mendapat sepertiga. Sekali lagi jika suami-istri mengadopsi anak, maka anak itu merampas bagian ibu mereka. Jadi untuk mencegah komplikasi ini, hukum adopsi dilarang dalam Islam.