Benarkah Merayakan Tahun Baru Masehi dengan Kegiatan Islami Juga Termasuk Haram?

0
Source: wajibbaca.com

Tahun baru hijriah tentu memiliki polemik beragam bagi eksistensi masyarakat khususnya bagi umat Islam dalam bersosial dan berbudaya. Sebab, kepopuleran tahun baru masehi begitu mengakar kuat hingga ke praktik kehidupan di berbagai negara bahkan yang secara mayoritas didominasi oleh umat muslim.

Secara lahiriah, turut merayakan hari besar umat agama lain dengan budaya, adat, dan bentuk kebiasaan umat tersebut jelas haram. Dalam Islam sendiri, berangkat dari sebuah hadis nabi yang artinya:

“Barangsiapa yang membangun negeri-negeri kaum ‘ajam, meramaikan hari raya Nairuuz dan Mihrajaan milik mereka (yaitu perayaan tahun baru mereka), serta meniru-niru mereka hingga ia mati dalam keadaan seperti itu, ia akan dibangkitkan bersama mereka di hari kiamat.”

Problema selanjutnya, bagaimana jika perayaan tersebut dilakukan dengan kegiatan Islam seperti berdzikir atau pengajian islami? Tentu ini kembali ke ragam penafsiran para mufassir. Sebab, berbeda penafsiran maka berbeda pula pendapat dan implementasi yang diterapkan. Selain itu, makna perayaan juga harus dipahami dengan teliti tergantung niat dan tujuannya.

Sebagai contoh, pada malam tahun baru di Indonesia akan meliburkan aktivitas formal dan sekolah. Sebagai penduduk Indonesia tentu walaupun umat muslim sekalipun akan meliburkan diri karena merupakan prosedur dari kebijakan suatu negara. Nah, apakah itu berarti umat muslim yang ada di Indonesia dapat dikatakan turut merayakannya?

Sebagian beranggapan bahwa kalau cuma libur tidak bisa disebut sebagai ikut merayakan, sebab pemerintah memang meliburkan, ya kita ikut libur saja. Tapi niat di dalam hati sama sekali tidak bermaksud untuk merayakannya.

Sebaliknya, jika pada malam tahun baru justru 'berencana merayakannya' dengan kegiatan Islami seperti berdzikir, mengadakan pengajian, tausiah dan sebagainya, jika itu dimaksudkan untuk merayakan hari besar umat lain maka sebagian kalangan berpendapat ini bid’ah bahkan haram. Sebab sebagian hadis menjelaskan bahwa tidak boleh mencampur adukkan hari besar umat non-muslim dengan perayaan islami bentuk apapun.

Akan tetapi, tidak jarang juga ada kalangan yang berpendapat; "Dari pada beraktivitas hura-hura, maka lebih baik mengisinya dengan agenda yang bernuansa islamiah." Lagi-lagi masih seputar kontroversi. Jadi, solusi terbaik dari persoalan yang mengandung perdebatan tersebut adalah dengan ‘tidak mengkhususkan’ penggelaran apapun baik dalam bentuk islami maupun non-islam kecuali pada malam tahun baru tersebut memang bertepatan dengan tanggal hari kebesaran umat Islam seperti maulid Nabi, Isra Miraj dan sebagainya.