Benarkah Orang Pidie Itu Pelit? Ini Sejarahnya!

0
Source: youthmanual.com

Istilah untuk ‘Pidie Kriet’ (pelit) masih familiar dan menghiasi cakrawala sudut pandang masyarakat kabupaten lain yang berada di Aceh. Aceh Pidie diklaim sebagai orang pelit karena dianggap begitu perhitungan terhadap gejolak apapun jika sudah menyangkut perkara uang atau materi. Benarkah demikian?

Berdasarkan analisa dan referensi berbagai sumber, pengistilahan Aceh Pidie itu pelit merupakan identitas  yang tidak sesuai. Sebab pelit merupakan sikap yang melekat pada segelintir oknum bukan kelompok. Tidak bisa dibenarkan jika Aceh Pidie dikatakan pelit hanya oleh oknum tertentu tanpa mempertimbangkan oknum lainnya. Padahal, bukan hanya di Pidie terdapat orang pelit, hampir di seluruh dunia juga terdapat individu yang memiliki karakter demikian.

Pelitnya orang Pidie sudah mengalami generalisasi oleh masyarakat. Sama seperti halnya seorang wanita yang baru dihianati oleh pasangannya, dengan penuh kekecewaan Ia beranggapan; “Semua lelaki buaya!” Padahal hanya beberapa lelaki saja yang demikian, namun sudah diklaim semuanya. Begitu juga dengan anggapan bahwa ‘orang kaya itu sombong.’ Padahal tidak semua orang kaya sombong, masih banyak ditemukan berbagai orang kaya yang ramah, santun, dermawan, tawadhu, dan lebih bersahabat dari orang miskin sekalipun. Jadi intinya, identitas mengenai pelitnya orang Pidie adalah sebuah generalisasi yang sudah terisolir oleh peradaban, bukan substansial.

Adapun sejarahnya, mengapa Aceh Pidie mengalami generalisasi sedemikian ternyata tak terlepas dari karakter masyarakat yang  terkenal dengan jiwa dagangnya. Konon menurut literatur sejarah, orang Pidie khususnya laki-laki diwajibkan merantau dan jangan pulang jika belum bisa membawa pulang emas atau kerbau. Sebegitu dramatisnya, bahkan jika ditemukan pemuda Pidie yang masih berada di kampung, maka dianggap sebuah ‘aib. Karena merantau adalah ciri khas anak Pidie.

Sebelum merantau, pemuda Pidie biasanya minimal dibekali dengan dua keahlian khusus yakni, pintar memasak, dan atau pintar berdagang. Tidak heran jika warung makan Aceh Pidie berserakan dimana-mana begitu juga para pedagangnya. Dengan sistem peradaban masyarakat Pidie yang demikian, menjadikan orang Pidie lebih hemat dan perhitungan. Sebab jika seorang perantau tidak hemat, maka ia tidak akan mendapat apapun untuk dibawa pulang. Hal itu dinilai berdampak kepada kehidupan keseharian para perantau tersebut, apalagi jika sudah berkaitan dengan keuangan. Bagi masyarakat Aceh lainnya, sikap inilah yang kemudian disalah artikan dengan istilah ‘pelit.’

Kesimpulannya, Pengistilahan pelit akan melekat pada seorang etnis yang memiliki jiwa dagang yang tinggi, tidak mesti bagi orang Pidie. Sebab, karakter pedagang akan membentuk karakter pelakunya menjadi perhitungan sedetail mungkin, dan itupun jika menyangkut soal keuangan. Hal ini seharusnya dimaklumi, sebab tanpa sikap demikian pedagang tidak akan memperoleh keuntungan. Pengistilahan pelit juga berlaku pada etnis lain yang terkenal jiwa dagangnya seperti suku Padang dan Cina. Pasti tidak asing, jika mendengar bahwa orang Padang itu pelit, atau orang Cina itu pelit. Karakter dagang mereka yang dominan, sering kali masyarakat mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang pelit.