Berita Perang Aceh di Surat Kabar The New York Times Tahun 1873

0
Source: Foto Mhd. Saifullah

Tulisan ini bersumber dari salah satu media cetak The New York Times edisi Sabtu, 3 Mei 1873, dengan judul Perang di Sumatera. Media tersebut memberitakan perang antara Belanda dengan Kerajaan Aceh.

Berikut isi surat kabar The New York Times  yang telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia.

 

Perang di Sumatera (Perang Belanda di Aceh)

Sebuah kejadian yang sangat menarik dalam sejarah penjajahan modern sudah kita dengar di Pulau Hindia Timur. Satuan tentara Eropa yang megah sudah kalah berperang dan dibasmi oleh pejuang di Aceh.

Sebagian besar Pulau Sumatera sudah berada dalam kekuasaan Belanda, tetapi sebelah utara dan timur pulau tersebut masih terdapat dua negara merdeka. Yang sebelah utara adalah Negara Aceh (State of Achin). Pada tanggal 26 Maret 1873, Belanda dengan resmi menyatakan perang kepada Bangsa Aceh dan pada tanggal 12 April, Belanda menyatakan sudah meraih beberapa kemenangan.

Belanda mengatakan bahwa sudah sanggup menduduki dua buah kuta (benteng) Aceh dan sedang mengatur strategi untuk merebut istana Sultan Aceh. Walau saat itu Belanda sudah mulai merasa apa yang dilakukan itu tidak seperti yang dipikirkan sebelumnya. Selain itu, juga terdapat kabar jika pasukan Belanda harus meminta bantuan ke Jakarta. Lima hari sesudah itu, Belanda sudah mengakui mereka diserang dan hampir kalah.

 

Sesudah mencoba merebut beberapa kuta Aceh, Belanda masuk ke Kutaraja (Banda Aceh) tetapi dipukul mundur oleh pejuang Aceh. Dalam pertempuran itu, Belanda hampir putus asa karena banyak pasukannya luka-luka dan tewasnya para jenderal. Menurut beberapa sumber nama kuta tersebut adalah keraton. Dan menurut sumber dari Belanda, kuta yang diperjuangkan oleh pejuang Aceh dengan meriam-meriam altiler yang besar dan di samping itu juga terdapat kuta-kuta kecil. Tentara Aceh berusaha keras mempertahankan kuta tersebut. Belanda tidak hanya berhadapan dengan tentara Aceh yang berada di kuta.

Di luar kuta, Belanda juga diserang oleh tentara Aceh dari berbagai penjuru dan pasukan yang bervariasi. Belanda harus meminta bantuan pasukan dengan kapal perang di Pulau Jawa. Sekarang semua pasukan Belanda di Aceh harus mundur. Dalam rapat perang Belanda di Kuala Aceh, semua panglima perang Belanda sepakat menghentikan agresi selama setengah tahun karena banyak pasukan Belanda tewas dan posisi Belanda yang tidak dapat dipertahankan lagi.

 

Namun alasan yang diberikan oleh Belanda atas keputusan tersebut adalah karena musim hujan dan angin kuat sehingga membuat ombak di pinggir pantai membesar yang menyebabkan kapal perang angkatan laut Belanda tidak bisa melakukan hubungan maksimal dengan pasukan angkatan darat. Serta tidak bisa memasok makanan kepada pasukan Belanda di daratan. Belanda hanya bisa melakukan kegiatan di seputaran laut Aceh.

Jadi untuk saat ini orang Aceh sudah memperoleh kemenangan yang terakhir, kemenangan yang bisa memberi keputusan bahwa musuh bukan hanya kalah tetapi juga harus melarikan diri keluar Aceh.

 

Kita merasakan kejadian ini membuat kita heran karena bagaimana perkiraan Belanda bisa salah terhadap kekuatan Aceh. Negara Aceh (State of Achin) tidak banyak yang mengenalinya di negara-negara Eropa.

Sebuah buku ilmiah yang terbaru menyatakan Aceh dari zaman dahulu merupakan sebuah kerajaan yang sangat besar kekuasaannya, tetapi sekarang hampir hilang. Ketika pertama kali Portugis mendarat di Sumatera pada tahun 1509, mereka melihat semua negara di sekeliling Aceh diperintahkan oleh seorang raja yang melarang Portugis mendirikan kuta dekat daerah tersebut. Belanda mendapat keuntungan 100 tahun sesudah itu karena saat itu diterima oleh Raja Aceh. Duta Besar Aceh ke Belanda bersamaan dengan Duta Besar Belanda yang mengunjungi Aceh.

 

Ringkasnya Kerajaan Aceh sangat tangguh, bahkan ketika pertama kali Eropa mendarat di Sumatera. Dan Belanda dalam hati kita tentu harus mengetahui asal-usul kerajaan dan kekuatan bangsa dan daerah Aceh. Aceh merupakan daerah perdagangan dan menurut apa yang kita ketahui bahwa orang Aceh sudah mampu membuat meriam-meriam yang besar dan kuat.

Bangsa Sumatera banyak didominasi oleh keturunan Melayu, tetapi yang mendiami sebelah utara Pulau Sumatera (Aceh), orang mengatakan terdapat sebuah bangsa yang sangat pandai dari bangsa-bangsa yang lain. Mereka lebih tinggi, lebih bagus badannya, dan agak sedikit hitam dari bangsa-bangsa lain di daerah tersebut. Menurut sumber tersebut, mereka bercampur dengan darah India. Mereka beragama Islam, tetapi mereka bermazhab apa, itu tidak tahu.

Kita sangat heran, bagaimana mereka jika kita bandingkan dengan orang-orang Eropa yang bisa kita katakan bahwa mereka sedikit kurang maju tetapi mampu mengalahkan sebuah kerajaan Eropa dalam medan perang. Belanda sudah memperluas wilayah jajahannya di Sumatera dengan cara mengambil manfaat dan mengadu-domba para pemimpin-pemimpin Sumatera. Tetapi orang Aceh tentu sudah mempersiapkan diri untuk berperang dengan Belanda sehingga Belanda tidak tahu siapa yang mereka hadapi.

 

Tentunya, akhir dari peperangan ini hanyalah satu tujuan. Orang Aceh bisa merayakan kemenangannya hingga setengah tahun lagi. Walau blokade Belanda di perairan Aceh bisa merusak perdagangan Aceh. Orang Aceh mungkin masih bisa merebut kembali tempat-tempat yang diduduki Belanda di Sumatera. Tetapi, ketika angin dan musim hujan selesai, tentunya Belanda akan mempersiapkan dan menyatukan kembali pasukannya dengan lebih besar untuk melawan Aceh.

Tidak mungkin kita melihat tanpa rasa sedih perjuangan terakhir rakyat negeri ini (Aceh) melawan kekuasaan Eropa. Ini merupakan sebuah cerita yang sama sekalipun kekuatan mereka tidak seimbang walaupun itu adalah orang-orang Melayu yang setengah beradab atau orang-orang Indian Moduc yang masih liar. Mereka sanggup merampas kembali pada suatu saat nanti walau akhirnya mereka kalah. Kita belum mengetahui masalah yang menyebabkan perdebatan antara Belanda dan orang-orang Melayu. Tetapi segera bisa kita pahami bahwa orang-orang Melayu melihat kekuasaan Belanda dengan rasa tidak percaya. Dan masalah-masalah yang menyebabkan perdebatan akan terulang kembali. Belanda terkenal baik dengan tanah jajahannya.

Tetapi Aceh bukanlah sebuah tanah jajahan Belanda. Hubungan antara Bangsa Aceh dengan Bangsa Belanda tentunya dipengaruhi oleh perasaan umum di Pulau Sumatera terhadap strategi politiknya yang tidak menyebabkan kekurangan perlawanan anak negeri terhadapnya. Tanah jajahan Belanda tidak sama dengan tanah jajahan Inggris yang berpikir terhadap anak-anak negeri. Belanda hanya mencari keuntungan untuk negaranya sendiri. [fer]


--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Sumber:

Tiro, di M. Hasan. 2013. Aceh Di Mata Dunia. Banda Aceh: Bandar Publishing.