Dampak Negatif Fenomena ‘Wali Santri Pukul Guru’ Bagi Eksistensi Pesantren di Aceh

0
Source: panoramio.com

Akhir-akhir ini kita sering mendengarkan informasi buruknya relasi sosial antara wali santri dan oknum pesantren dimana tempat santri diajarkan. Bahkan tercatat ada beberapa kasus di Aceh dimana orangtua santri memukul guru pesantren karena tak terima anaknya mendapat kontak fisik dalam proses belajar mengajar. Begitu juga dengan pihak pesantren, tak terima karyawan mereka mendapat perlakuan kasar oleh wali siswa, mereka melaporkan tindakan kekerasan tersebut kepada pihak berwajib.

Dari contoh fenomena diatas, merupakan sebuah kerugian besar apalagi sampai masuk dalam media di Indonesia khususnya di Aceh. Proses generalisasi bergulir laksana air yang mengalir dari ketinggian menuju lembah-lembah tak tentu arah. Dengan maraknya intensitas kasus seperti di atas tentu akan merambah pada kurangnya kepercayaan masyarakat untuk menitipkan anaknya ke pondok pesantren. Padahal, belum tentu seluruh pesantren terdapat kasus demikian, namun efek generalisasi selalu menyerang seluruh pihak yang bersangkutan dengan pesantren walau terkadang itu bukan keslahan pesantren melainkan salah satu oknum didalamnya.

Menghadapi realitas ini, para pesantren harus sedini mungkin mengadakan proteksi isu agar tidak kehilangan kepercayaan masyarakat. Seperti sosialisasi dengan wali siswa terkait kasus pemukulan guru santri, sosialisasi kepada santri mengenai etika dan moral, dan masih banyak lagi hal yang dapat dilakukan agar nilai luhur pesantren tetap terjaga.

Terlepas dari apakah kesalahan berasal dari santri, wali santri, atau guru pesantren, tetap saja ketiga unsur ini mestinya harus bekerjasama dalam menuju kesuksesan belajar-mengajar. Menurut tokoh sejarah Aceh, dulu di Aceh, ketika seorang ayah menitipkan anaknya ke pesantren, ia membawa 3 unsur, yakni anaknya, sarung, dan kayu (rotan). Anak sebagai objek yang dititipkan, kain sarung sebagai bentuk pola pendidikan khususnya dalam menjaga aurat dan ibadah, kayu atau rotan dimaksudkan bahwa wali siswa sudah mempercayakan anaknya untuk dipukul apabila melakukan kesalahan.

Tidak hanya itu, menurut sebagian riwayat, tempo dulu ketika wali santri memberikan kayu kepada pihak pesantren, mereka mengatakan; “Saya percayakan anak saya pada Tengku, jika ia nakal pukul saja, terkilir tangan saya yang urut, patah kaki saya yang obat.”

Dialog diatas merupakan bukti sejarah bahwa kerjasama antara santri dan guru pesantren harus dibina dengan baik dan sejalan. Sebab pendidikan anak bukanlah perkara yang mudah apalagi jika sang anak bersifat manja atau ketergantungan dengan orangtuanya. Jika kasus retaknya hubungan antara wali santri dan guru pesantren terus berlanjut dan tidak ada upaya menetralisirnya, maka tentu akan mempengaruhi eksistensi pesantren selaku sarana pendidikan tertua dan tersohor di Aceh.