Eksistensi Ganja Aceh dan Solusinya

0
Source: gn.or.id


             Aceh memiliki tiga kekuatan dan keunggulan tersendiri, yaitu kehidupan masyarakatnya yang religius, budayanya yang luhur, dan adat istiadat yang sangat dihormati baik oleh masyarakat Aceh maupun oleh kita semua. Demikian dikatakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono hari Rabu 5 Agustus 2011 sore, saat membuka Pekan Kebudayaan Aceh Ke-5 dan Aceh International Expo, di Stadion H. Dimurthala, Lampineung, Banda Aceh, NAD.[1]

            Disatu sisi Aceh merupakan daerah syari’at Islam, namun disisi yang bersebrangan ternyata Aceh  merupakan daerah yang paling sering mendapat laporan kasus narkoba khususnya jenis ganja. Kedua paradigma yang bertolak belakang ini menimbulkan tanda tanya besar dikepala kita, apakah syari’at Islam di Aceh bisa bangga berdiri kokoh berbarengan dengan kokohnya gelar narkoba?

            Ganja, bukan nama yang asing ditelinga masyarakat Aceh. Bahkan anak seusia dini sekalipun tidak sedikit yang mengenal barang haram tersebut. Hampir seluruh berita baik televisi, koran dan sebagainya mengatakan proses penyelundupan ganja berasal dari Aceh. Hal ini tidak menutup kemungkinan bahwa ganja di Aceh merupakan ganja yang memiliki kualitas terbaik di dunia. Apakah prestasi ini bagian dari pada kelebihan Aceh?

            Menurut Penasehat PB Ikatan Dokter Indonesia (IGI), Dr. Kuntoro Muhammad; “secara kualitas ganja Aceh masih terbaik dibandingkan dengan negara-negara lain di dunia. Sebab, faktor alam dan lingkungan yang mempengaruhi pertumbuhan ganja Aceh sangat baik. ”[2]

            Menurut Banta, seorang rakyat Indonesia yang ada di Nanggroe Aceh Darussalam: “Telah ditakdirkan Tuhan, tanah kelahiran saya secara struktur geografis menjadi tempat tersubur untuk tanaman jenis Ganja, secara kuantitas, apalagi secara kualitas, Ganja Aceh number one in the world, Tuhan telah menjadikan tanah kelahiran saya sebagai Pabrik Ganja Terbesar di atas muka bumi ini dan sampai saat ini belum ada satu makhlukpun diatas muka bumi ini yang mampu merubah takdir itu, dan saya yakin seyakin-yakinnya, sampai kapanpun, tidak akan ada satu kekuatanpun yang mampu merubah takdir itu, baik Pemerintah Indonesia ataupun pemerintah sehebat apapun yang ada diatas muka bumi ini.”[3]

            Baik orang pribumi maupun bukan dan apakah itu berdasarkan kaca mata Sains atau Sosial sudah menilai sendiri, Aceh terbukti sebagai sumber ganja yang membuat oknum tertentu tertarik untuk turut andil dalam memperolehnya  baik dengan alasan Sains, Hedonis, dan Ekonomi.

 

Beberapa Solusi

a. Mempositifkan Fungsi Ganja

            Indonesia merupakan salah satu negara pemilik hutan hujan tropis (rainforest) terbesar di dunia. Beragam jenis tanaman yang berpotensi untuk diolah menjadi biofuel, tumbuh berkembang di negara ini. Selain kelapa sawit dan tebu yang sudah lazim dijadikan biofuel, ada satu jenis tanaman lain di Indonesia yang berpotensi untuk diolah menjadi bahan bakar, yaitu ganja atau yang dikenal juga sebagai cannabis, marijuana, hemp atau hasish.Walaupun bukan tanaman asli Indonesia, ganja dapat tumbuh dengan baik di hampir seluruh wilayah perbukitan di Aceh. Kualitas ganja Aceh pun sangat terkenal di dunia. Sayangnya, ia diasosiasikan dengan tanaman yang dapat dihisap daunnya dan membuat mabuk penghisapnya. Ia dimasukkan ke dalam kategori narkotika dan penggunaannya dilarang di banyak negara di dunia, termasuk di Indonesia.

 

b. Mencontoh Kebijakan Negara Yang Berhasil

            Masalah Narkotika, Psikotropika dan zat adiktif lainnya (NAPZA), termasuk didalamnya ganja memang bukan monopoli sebuah negara saja. Hampir semua negara baik negara maju maupun negara yang sedang berkembang, memiliki masalah tersebut. Berbagai macam cara dilakukan oleh pemerintah masing-masing negara untuk “menumpas” napza dari negaranya, akan tetapi tidak ada satupun negara yang tercatat telah berhasil mengalahkan musuh besar tersebut.[4]

            Salah satu upaya Australia yang menunjukkan hasil positif walau belum 100% memberantas penyalahan narkoba adalah dengan pengurangan bahaya. Untuk pengurangan pasokan, mereka semakin memperketat pembatasan akses untuk mendapatkan narkoba. Misalnya untuk mendapatkan narkoba legal, diterapkan batasan umur, pembatasan tempat pemakaian dan pembatasan tempat pembelian. Sementara untuk narkoba ilegal, Australia juga melakukan pembinasaan produksi narkoba, menyeret petani yang menanam narkoba kepengadilan dan melakukan program subtitusi tanaman.[5]

 

c. Rehabilitasi Pemakai

            Mempelajari kehidupan manusia disaat tertentu jelas lebih bermanfaat dan efektif dari pada mempelajarinya dengan membayangkannya dalam keadaan diam.[6] Salah satu yang menjadi peran penting adalah dengan mengenali pemakai, mencari solusi dan upaya mengobati pemakai agar mereka terobati. Hukum saja tak memberi merka solusi maksimal ketika mereka sudah jatuh dalam jurang narkoba.

Bagi para pecandu yang serius hendak merubah, puasa bisa menjadi salah satu alternatif. Puasa membantu Penyembuhan Ketagihan Narkoba, fakta ilmiah membuktikan bahwa seseorang yang terbiasa dengan sesuatu atau ketagihan sesuatu, jika keinginannya betul-betul murni dan meningkat kepercayaan dirinya, maka ia mampu keluar dari  kebiasaan kebiasaan yang ingin ia tinggalkan tersebut.[7]

 

d. Kerjasama Semua Oknum

            Masyarakat awam sangat mudah melemparkan batu kekesalan dan kesalahan pada sebuah lembaga yang bertanggung jawab pada bidangnya. Tidak jarang kepolisian, Pemerintah, Wilyatul Hisbah, Polisi Pamong Praja menjadi kambing hitam dari maraknya kasus narkoba. Padahal orang tua dan lingkungan adalah faktor yang seharusnya lebih berperan dari lembaga apapun.

            Bukan hanya itu, dalam ranah medis pemerintah juga turut andil besar dalam  upaya mengobati penyakit mental yang cenderung lahir akibat dampak dari penyalahgunaan narkoba. Sebagai salah satu bukti, pada 26 September 1996, undang-undang  Federal Mental Health Parity Act of 1996 diresmikan.  Dalam pengertian yang paling sederhana undang-undang tersebut menetapkan peliputan asuransi untuk penyakit mental dengan ketentuan yang sama yang diberikan untuk penyakit fisik. Pada April 1998, undang-undang itu menjadi hukum negara.[8] Jadi mulailah dari kesadaran diri untuk memperbaiki dan bekerjasama bukan untuk saling menyalahkan.         



                [1] “Aceh Memiliki Tiga Keunggulan Tersendiri” [Berita], Madina, No 808, 5 Agustus 2011, h. 15.

                [2] Malikul Kusono, “Ganja Aceh Mempunyai Kualitas Terbaik Dunia”, Today Healthy, No. 30750, 9 Mai 2011, h. 13.

                [3] http://legalisasiganja.tumblr.com/post/5686082375/ganja-dan-hukum-indonesia, diakses Februari 2012.

                [4] Siswanto Sunarso, Penegakan Hukum Psikotropika Dalam Kajian Sosiologi Hukum, (Cet. XX; Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2005), hal. 168.

                [5] Siswanto Sunarso, Penegakan Hukum Psikotropika..., hal. 170.

                [6] Piotr Sztompka, Sosiologi Perubahan Sosial, (Cet. II; Jakarta: Pernada Media, 2004), hal. 9

                [7] Al –Ahmady Abu An Nur, Saya Ingin Bertobat Dari Narkoba, Tetapi..., (Cet. I; Jakarta: PT. Darul Falah, 2000), hal.  12.

                [8] Ken Steele dan Clire Berman, The Day the Voices Stopped: A Memmory of Madness and Hope diterjemahkan oleh Rahmani Astuti dalam buku, Mereka Bilang Aku Gila: Memoar Seorang Skizofrenik, (Cet. I; Bandung: Mizan Pustaka, 2004), hal.  417.