Gerakan Tari Saman Menandakan Orang Aceh Angkuh, Benarkah?

0
Source: loveaceh.com

Tari Saman merupakan seni tari asal Aceh tepatnya Aceh Gayo yang amat terkenal. Popularitasnya bukan hanya dikenal secara nasional, bahkan tarian yang memukau ini turut menyita perhatian internasional melalui keunikan gerakannya yang tak bisa diperankan sembarangan. Hal tersebut terbukti dari Badan PBB Urusan Pendidikan, Sains dan Kebudayaan (UNESCO) yang secara resmi mengakui Tari Saman Gayo merupakan milik Provinsi Aceh.

Begitu eksistensi tari Saman, tak jarang mengundang kabar miring yang berupaya untuk menjatuhkan popularitas   dan kharisma tarian tersebut. Salah satunya adalah kabar burung yang beredar dikalangan masyarakat bahwa dibalik gerakan tari Saman khususnya bagian 'tepuk dada' mengilustrasikan kesombongan orang Aceh. Sebagian kalangan mengklaim melalui seni tari Saman orang Aceh berupaya menunjukkan sisi 'aku' nya yang memiliki kehebatan dan agungan dibandingkan bangsa lainnya. Sungguh mereka yang percaya dan beranggapan demikian telah keliru dan tak memahami subtansi dari tari Saman yang sebenarnya.

Tak jauh dari namanya, tari yang penuh akan gerakan kolektif dan bersinergi ini didirikan oleh salah seorang ulama Aceh, Syekh Saman dalam melakukan islamisasi di tanah Gayo. Nilai-nilai dakwah keagamaan disampaikan melalui syair-syair yang sesuai dengan kultur dan peradaban Aceh tempo dulu, sehingga eksistensi Islam selaku kepercayaan yang kini mendominasi di negeri Serambi Mekah dapat diterima dengan baik.

Mengenai 'tepuk dada', dalam syiar keagamaan bukan bermakna sombong, melainkan bentuk gerakan yang mengindikasikan bahwa sebagai insan harus sering mengintropeksi diri (bertobat) dengan menyadarkan hati melalui aksi tepuk dada. "Coba tepuk dada dan tanyakan hati, sudahkan kita menegakkan syariat dengan totalitas?" setidaknya seperti itulah ilustrasi dari makna tepuk dada yang sering disalah tafsirkan.

Islam adalah ajaran yang hakiki dengan Al-Qur'an sebagai landasannnya. Kesempurnaan kitab suci umat Islam ini dengan sisi universalnya mampu diterima dan memberikan pencerahan dimanapun dan kapanpun. Termasuk masa Aceh silam dengan berbagai model budayanya.

Ketika Al-Qur'an bersentuhan dengan budaya arab, metode pengambilan kebenaran lebih dititik beratkan pada penalaran teks (bayani), sehingga terbentuklah hukum fiqh, dan penganutnya disebut fuqaha. Ketika Al-Qur'an bertemu dengan budaya timur, (india dan sekitarnya) maka penalaran kebenaran lebih didoninasi pada intusi (khasyaf) atau mata batin. Sehingga terbentuklah ilmu tasawuf dan pelakunya dikenal dengan sebutan sufi. Ketika Al-Qur'an berinteraksi dengan budaya barat (eropa), maka penalaran kebenarannya lebih didominasikan atas kenyataan yang dapat diterima oleh akal (rasional), sehingga lahirlah ilmu filsafat dengan pelakunya disebut filosof.

Begitu juga ketika Al-Qur'an turun di Aceh, ulama tertentu termasuk Syekh Saman akan menyesuaikan dengan kondisi, adat, dan geografis daerah tersebut sehingga Islam dapat diterima sebagai ajaran yang membawa kebaikan dunia dan akhirat, salah satunya dengan mediasi Tari Saman.