Hubungan Aceh dan Turki, Bukan hanya Sebatas Sejarah Masa Silam

0
Source: middleeastupdate.net

Sejarah telah mencatat bahwa Aceh dan Turki memiliki hubungan khusus baik sebagai sesama komunitas Islam maupun hubungan politik pemerintahan. Kejayaan Aceh pada masa silam yang menjadi salah satu dari kerajaan terkuat di dunia juga tak terlepas dari peran kerajaan Turki yang pada saat itu merupakan pusat kekhalifaan umat Islam dari seluruh penjuru dunia.

Diawali dengan kisah ‘Lada Sicupak’ (Segenggam Lada), hubungan antara Aceh dan Turki memang terbilang unik. Lazimnya, pada masa silam, ketika dua kerajaan melakukan kerjasama diplomatis, akan ada pertukaran yang setimpal atau upeti yang dijadikan bahan pertimbangan suatu kebijakan kerajaan. Namun, perwakilan Aceh saat itu hanya mampu memberikan segenggam lada sebagai hadiah kepada Sultan Selim II, Putra Suaiman yang adil selaku raja Turki Utsmani saat itu yang naik tahta.

Diluar dugaan, Sultan Turki menanggap baik kunjungan resmi perwakilan Aceh pada saat itu, dan memutuskan untuk memberikan bantuan militer kepada rakyat Aceh, salah satunya adalah meriam besar yang pada abad ke-15 merupakan sebuah senjata perang tercanggih dizamannya. Sebagai bentuk simbolis sejarah, meriam itupun dikenal dengan sebutan ‘Meriam Lada Secupak’ yang didapatkan atas perjuangan rakyat Aceh dengan surat pengantar (sastra) dari Sultan Aceh sebelumnya.

Tidak hanya sebatas itu, Sultan Selim II juga menjalin hubungan baik dengan kerajaan Aceh pada fase selanjutnya. Aceh diberikan bantuan senjata, perwira pelatih tentara, ahli senjata, ahli logam, ahli bangunan, bahkan ahi agama ke Banda Aceh yang saat itu masih bernama Bandar Aceh Darussalam. Sebagai bentuk apresiasi dari pihak kerajaan Aceh, perwakilan Turki diberikan tempat khusus oleh sultan Al Kahar yakni berupa daerah yang kemudian diberi nama Gampong Emperom dan Gampong Bitai ketika mereka tiba di Aceh. Di sana, utusan kerajaan Turki membangin pusat pendidikan militer yang melahirkan berbagai tokoh besar Aceh seperti Sultan Iskandar Muda dan Laksamana Keumala Hayati.

Bagi Aceh sendiri, pengaruh Turki masuk dalam beragam sistem pemerintahan dan budaya dalam masyarakat, termasuk model dan gaya berpakaian aceh serta pola makanannya. Turki pada masa itu dikenal oleh masyarakat Aceh sebagai ‘Bangsa Rum’ telah dianggap sebagai bagian dari Aceh sendiri dengan berbagai bantuan mereka, sala satunya bersama kerajaan Aceh dalam memerangi jajahan Portugis. Bahkan menurut literatur sejarah, sepanjang sejarah Aceh, tidak ada bangsa manapun yang bersedia membantu seperti yang dilakukan Kerajaan Turki Ustmani. Rakyat Aceh secara totalitas setuju dengan sumpah setia yang dilakukan Sultan Aceh dalam mendukung penuh kepemimpinan Sultan Khalifah Istanbul sebagai raja yang memimpin dunia.

Sepenggal sejarah singkat di atas menunjukan bahwa Aceh dan Turki memiliki hubungan yang khusus. Bukan hanya sebatas sejarah, hingga saat ini Turki tetap menjalin hubungan harmonis dan peduli dengan masyarakat Aceh. Ketika Aceh dilanda musibah dahsyat gempa dan tsunami 2004 silam, Turki sebagai saah satu negara yang terdepan dalam memberikan bantuan dalam berbagai aspek. Pada Februari 2005, Recep Tayyip Erdogan, sebagai Perdana Menteri Turki mengunjungi Aceh, dan memerintahkan orang Turki untuk memperioritaskan bantuan sosial bagi rakyat Aceh.

Baru-baru ini, 13 Oktober 2017 perwakilan Turki juga menyampaikan nada yang selaras, bahwa Aceh dan Turki memiliki ikatan emosional yang baik. Mengindikasikan bahwa hubungan Aceh dan Turki bukan hanya sebatas sejarah namun masih berlanjut hingga saat ini. Hal itu terungkap dari apa yang dipaparkan oleh Wakil Perdana Menteri Turki Fikri Isik kala memberikan pidato singkatnya kepada jamaah shalat Jumat di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh.

"Saya membawa salam dari seluruh rakyat Turki dari Presiden Turki Erdogan," papar Fikri dalam bahasa Turki yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Terdengar beberapa kali kalimat takbir dikumandangkan para jemaah ketika Fikri menyebut hubungan antara Turki dan Aceh. "Ada sebuah kata bagus dari Maulana Jalaluddin Rumi. Dia berkata yang penting bukan bahasa tapi bahasa dari hati, kemarin saat saya shalat di Masjid Istiglal merasa hal yang sama dengan saya shalat di Masjid Baiturrahman. Semua muslim adalah saudara," pungkasnya. Wakil Perdana Mentri Turki juga menegaskan bahwa Turki dengan segala kapasitasnya akan berupaya mengikuti langkah pendahulu mereka yang membina dan menjalin hubungan baik dengan Aceh.