Ini Sebab Mengapa Aceh Belum Bisa Semaju Jakarta?

0
Source:

Aceh memiliki sejarah yang mengagumkan dan fantastis. Bukan hanya berskala nasional, Aceh bahkan dikenal dilintas Internasional pada masa kejayaan Kerajaan Aceh. Aceh tempo dulu, juga memiliki masyarakat yang kaya raya, sebagai bukti Aceh satu-satunya daerah yang menyumbang sebuah pesawat peratama kali untuk Indonesia. 

Namaun itu hanyallah sebatas sejarah, sebab Aceh saat ini sangat jauh tertinggal dari daerah maju lainnya di Indonesia seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, dan lain-lain. Aceh bisa berbangga dengan sejarah masa lalu, namun kini memiliki banyak PR untuk menjadikan Aceh seberkelas Jakarta. Adapun sebab mengapa Aceh saat ini tak semaju Jakarta adalah;

1. Masa Konflik

Aceh setelah bergabung dengan NKRI sejak masa kemerdekaan silam memiliki rekod konflik panjang dan berkesinambungan. Pada masa konflik, banyak fasilitas dirusak termasuk sekolah yang menjadi pusat pembentukan masa depan Aceh ke depan. Tidak hanya itu, masa konflik membuat anak-anak Aceh takut dan putus sekolah. Dengan demikian, Aceh semakin tertinggal dengan daerah lain yang stabilitas perdamaiannya lebih kondusif.

2.  Bencana Gempa dan Tsunami

Gempa dan Tsunami, bencana dahsyat pernah melanda Aceh sehingga menyita perhatian nasional bahkan internasional. Ribuan nyawa melayang bahkan banyak bangunan yang rata dengan tanah. Sistem pemerintahan, perekonomian, apalagi pembangunan mengalami lumpuh total. Aceh pun baru bisa bangkit dan berbenah setelah memperoleh bantuan berbagai negara di seluruh penjuru dunia. Dengan adanya bencana besar tersebut, Aceh seolah kembali memulai segalanya dari awal lagi. Tak heran mengapa Aceh tidak semaju Jakarta yang sudah aktif membangun daerahnya sejak zaman kemerdekaan.

3. Letak Geografis

Sejatinya letak geografis Aceh sangat setrategis, akan tetapi dalam tulisan ini lebih dimaksudkan dengan posisi Aceh yang jauh dengan pusat pemerintahan negaranya, Indonesia. Coba kita analisa, semakin jauh suatu daerah dari pusat pemerintahan, semakin tertinggalkan daerah itu dibanding daerah lainnya. Sebagaimana kita ketahui, Aceh dan Papua adalah daerah yang paling ujung dari Indonesia yang berarti dua daerah yang paling jauh dari Jakarta, menjadikan Aceh dan Papua sebagai daerah yang kurang memperoleh perhatian pusat. Sejak diberlakukan otonomi daerah, Aceh bisa dibilang mendapatkan hak nya kembali.

4. Fanatik Mazhab

Gelar ‘keistimewaan’ yang disandang Aceh sebagai daerah syariat Islam tidak hanya melahirkan buah positif semata. Dibalik itu, effek negatif kerap terjadi pada masyarakat, terkhusus bagi mereka yang tidak bisa berfikir objektif dan menerima perbedaan. Sebagaimana diketahui, Aceh didominasi oleh kaum Islam yang mengklaim dirinya ‘Aswaja’ (ahli sunnah waljamaah). Mereka digandrungi oleh kaum pesantren yang menerapkan nilai-nilai tradisionalis.

Problem selanjutnya, adalah ketidak terimaan mereka dalam menanggapi perbedaan mazhab dan aliran Islam lainnya. Apabila ada ajaran Islam yang dinilai modernis, mereka sangat menentangnya dan dianggap sebagai paham wahabi. Diakhir 2016 silam, sangat gencar terjadi demo besar-besaran tentang penolakan mereka terhadap golongan Islam Wahabi.  Perbedaan ini tentu menjadi pemecah belah masyarat Aceh. Sehingga menghambat persatuan dan kemajuan Aceh di kancah nasional

5. Eksistensi Aliran Sesat

Eksistensi aliran sesat ternyata cukup berpengaruh dalam menghambat kemajuan Aceh. Secarat pengakuan hukum keagamaan, aliran sesat adalah kelompok yang berbeda dengan aliran keislaman. Berbagai macam bentuk aliran Islam,kesamaan mereka tetap menyembah tuhan yang sama dan meyakini rukun iman dan rukun Islam yang sama. Jika ada perbedaan, biasanya meupakan perbedaan khilafiah yakni perbedaan dalam perkara sunnah.

Sedangkat aliran sesat, adalah sekelompok aliran yang sudah melenceng jauh dari Al-Qur’an dan Hadis. Baik dalam bertauhid maunpun bersyariat. Fenomena aliran sesat sering bermunculan di Aceh, sehingga membuat pemerintahan dan masyarakat gencar melaksanakan program pendangkalan aqidah (antisipasi aliran sesat) yang tentu menghabiskan waktu, tenaga serta anggaran.

6. Kurangya Investor Asing

Salah satu kelebihan daerah maju di Indonesia adalah kreativitas mereka dalam mendatangkan para investor asing. Para kaum stageholder dinilai memberikan pengaruh yang sangat krusial apabila suatu daerah ingin cepat maju dan berkembang. Kendatipun APBA Aceh memiliki anggran yang masih cukup, kurangnya pihak investasi menjadi pembeda bear untuk mengejar ketertinggalan khususnya dalam konteks pembangunan.

Banyak faktor yang mengakibatkan para investor enggan mempercayakan sahamnya di Aceh, beberapa diantaranya adalah faktor SDM Aceh yang masih minim, karakter masyarakat yang anti pembangunan, karakter petinggi agama yang tak bisa menerima kehadiran pemeluk agama lain, dan masih banyak lagi.

7. Belum Ada Pemimpin yang Revolusioner

Sejak merdeka bersama NKRI, Aceh sudah mengalami banyak pergantian pemimpin dan sistem pemerintahannya. Dari semua pemimpin yang sudah memerintah Aceh, belum ditemukan sosok revolusioner yang dapat mengangkat marwah rakyat Aceh atau mengembalikan Aceh pada masa kejayaan Sultan Iskandar Muda. Padahal pemimpin merupakan esekutor utama dalam membawa rakyatnya menuju kelevel yang lebih baik atau sebaliknya.

Aceh butuh pemimpin yang dapat merubah negri serambi mekah dalam berbagai aspek. Perubahan yang dibutuhkanpun bukan sekedar evolusi melainkan percepatan perubahan (revolusi) sehingga mampu mengejar ketertinggalan dari daerah lainnya. Hal ini tentu sangat berkaitan dengan SDM orang Aceh dalam berpolitik. Sejauh ini kuantitas membuktikan bahwa hanya segelintir orang Aceh yang mampu menjadi pakar politisi di dataran pusat, Jakarta. Padahal jika orang Aceh bisa menjadi pemimpin NKRI mungkin bisa menjadi amunisi agar Aceh cepat berkembang dan maju.