Ini yang Harus Dilakukan Mahasiswa Aceh agar Berprestasi di Masa KKN

0
Source: acehterkini.com

Baru-baru ini, sekitar 1.162 mahasiswa Unsyiah (Universitas Syiah Kuala) Banda Aceh, menggelar pelepasan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Kabupaten Aceh Pidie.  KKN adalah salah satu syarat atau formalnya merupakan mata kuliah wajib yang harus diikuti oleh mahasiswa guna menyelesaikan Pendidikan sarjana strata satunya di berbagai perguruan tinggi termasuk Unsyiah. Adanya program tersebut bertujuan agar mahasiswa memiliki skil sosial yang mampu membaur dengan masyarakat. Jika sudah lulus kelak, dengan adanya KKN diharapkan kepada mahasiswa dapat mengimplementasikan keilmuannya bagi kemaslahatan warga dan lingkungannya.

Setiap perguruaan tinggi memiliki durasi tertentu dalam mengirim mahasiswanya terjun dalam program KKN. Ada yang 30 hari, 45, hari, bahkan ada juga yang 60 hari tergantung kebijakan yang diambil dan disepakati. Selanjutnya mahasiswa akan dihadapkan pada lingkungan asing baginya dimana tuntutan kreatif sangat dibutuhkan agar para mahasiswa mendapat perhatian dan apresiasi positif dari warga masyarakat.

Dari segala kegiatan yang pernah dilakukan mahasiswa KKN, mampu menggali dan mengeksplorasi potensi suatu desa adalah bentuk paradigma tertinggi yang akan senantiasa dikenang sepanjang masa. Sebagaimana prosedur yang diberikan, mahasiswa KKN tidak memiliki banyak waktu pada masa pengabdiannya. Jika tidak memberikan kontribusi yang ‘waow’ maka kehadiran mahasiswa ibarat angin lalu yang hanya datang sekedar memperoleh nilai sebagai syarat perkuliahan.

Bagi mahasiswa yang cerdas dan professional, waktu yang singkat tentu menjadi indikator bahwa mereka harus mengukir sejarah baru dan mengundang simpatisan masyarakat. Dengan mampu mengangkat potensi desa yang mungkin sebelumnya terpendam karena beberapa factor akan menjadikan mahasiswa seolah pahlawan diumur mereka yang masih sangat hijau.

Potensi desa dapat ditemukan dengan berbagai mekanisme, bisa melalui observasi langsung, wawancara masyarakat dan tokoh setempat, serta dengan mengkaji kembali berbagai sejarah desa yang mungkin dulunya sudah memiliki keunggulan yang telah ditinggal oleh zaman. Biasanya permasalahan desa adalah kurangnya keterkaitan relasi antara satu oknum dengan oknum lainnya hingga potensi yang ada tidak teraplikasi dengan baik.

Potensi papaya misalnya, di suatu daerah terdapat jumlah yang melimpah ruah. Begitu banyaknya hingga buah yang mudah tumbuh tanpa ditanam tersebut menjadi terbengkalai dan tak diperdulikan. Harga papaya di pusat pembelanjaan anjlok dan banyak dari buah papaya yang ada, busuk sendiri di atas pohon. Suatu hari daerah tersebut dikunjungi oleh sekelompok mahasiswa yang melaksanakan tugas pengabdian masyarakat. Dengan segala ide kreatifnya, mahasiswa tersebut berupaya mengelola papaya yang dulunya terbuang begitu saja menjadi produk jadi yang lebih menarik yakni jus pepaya. Alhasil, jus pepaya tersebut sangat laris di pasaran. Singkat cerita pepaya sudah tidak lagi terbuang begitu saja dan menjadi aset pemasukan warga kampung setempat.

Masih banyak kegiatan eksplorasi potensi desa yang dapat diimplementasikan seperti air kemasan, produk kopi, kripik, minyak wangi,minyak makan, dan masih banyak lagi tergantung SDA atau SDM yang ada di suatu desa. Dibutuhkan daya nalar kreatif yang dibarengi komunikasi yang baik sehingga sekelompok mahasiswa menjadi pahlawan desa bukan sebaliknya.