Islam Membatasi Lelaki Dengan 4 Istri, Mengapa Nabi Beristri 11?

0
Source: bloggerkeren.com

Pernahkah terlintas difikiran Anda, batasan dalam Islam untuk wanita, agar pria menikahi empat istri.  Tapi mengapa Nabi Muhammad Saw, memiliki sebelas istri? Apakah Nabi hiper seksual?

Al-Qur’an menyebutkan di Surat Annisa (4), ayat 3, bahwa lelaki maksimal memiliki 4 istri. Tapi ada ayat lain di Surat Al-Ahzab (33) ayat 52, yang mengatakan bahwa;

“Hai Nabi, kamu tidak bisa menikahi lebih banyak wanita, kamu juga tidak bisa menukar wanita lain dengan yang sekarang, bahkan jika kecantikan mereka menarik hatimu, kecuali apa yang dimiliki oleh hak mu.

Ayat Al Qur'an, Surat Al- Ahzab (33), ayat 52 memberikan izin kepada Nabi, untuk menjaga (mempertahankan) semua istrinya, tapi pada saat bersamaan, tidak bisa menikahi wanita lain, kecuali yang menjadi haknya.

Jika kita menganalisis mengapa Nabi Muhammad Saw tidak diperbolehkan untuk menikahi lebih banyak istri, dan selain itu, dia tidak dapat menceraikan mereka, karena ada satu ayat lagi dalam Al-Qur'an, yang mengatakan bahwa; “Adapun istri Nabi, Apakah mereka bercerai atau apakah mereka menjadi janda, tidak ada yang bisa menikahi mereka, karena mereka adalah Ummul Mukminin, mereka adalah ibu dari orang-orang yang beriman .”

Jadi karena tidak ada yang bisa menikahi istri nabi, secara alami, nabi juga tidak bisa menceraikannya juga. Dan jika Anda menganalisis, bahwa sebelas pernikahan yang dilakukan oleh nabi, semuanya demi kemaslahatan sosial atau karena alasan politik , bukan untuk menyenangkan seksnya. Perkawinan pertama yang dia lakukan, adalah dengan Siti Khadijah, Khadijah berusia 40 tahun saat nabi berusia 25 tahun, dan Khadijah adalah seorang janda dua kali.

Bayangkan, jika dia menikah untuk seks, mengapa dia menikahi wanita berusia lima belas tahun lebih tua darinya, dan menjanda dua kali. Dan jika Anda menganalisis, sampai dimana Siti Khadijah, masih hidup, Nabi Muhammad tidak mengambil istri lainnya.

Ketika usianya di usia 50, Siti Khadijah, sudah tua. Hanya antara usia 53 sampai 56 tahun, nabi menikah lagi dengan istri lainnya. Bayangkan, jika nabi hiper seksual, dia pasti sudah menikah di usia muda. Ilmu pengetahuan memberi tahu kita, 'Semakin tua pria itu, semakin sedikit gairah seksual yang dia miliki.’

Ini adalah insinuasi pada nabi. Hanya 2 perkawinannya yang normal, yakni dengan Siti Khadijah, dan Siti Aisya. Semua perkawinan lainnya disebabkan oleh keadaan, salah satunya adalah perubahan sosial, atau keuntungan politik. Jika Anda menganalisis semua, hanya 2 istri nabi yang berusia di bawah 36 tahun. Istri lainnya berusia antara 36 dan 50 tahun. Anda bisa memberi contoh bahwa setiap pernikahan memiliki beberapa alasan.

Misalnya Siti Jauhariyah, yang berasal dari suku Banu-Mustalik yang merupakan suku yang sangat kuat, dan yang telah lama berjauhan dengan Islam. Setelah beberapa waktu, mereka ditekan oleh tentara Islam, dan kemudian nabi menikahinya. Setelah dia menikahinya, para sahabat berkata; “Bagaimana kita bisa tetap menawan keluarga nabi” - Dan mereka membebaskan orang-orang itu, dan setelah itu, kedua suku ini menjadi damai.

Ada contoh, saat dia menikahi Siti Maimunah (semoga Allah berkenan dengan dia), yang merupakan saudara perempuan dari istri kepala suku Najad, yang membunuh 70 orang Muslim yang merupakan deputi Islam. Setelah Muhammad (semoga damai besertanya) menikahinya, mereka menerima Madinah sebagai pusat kepemimpinan, dan mereka menerima Nabi sebagai pemimpin mereka.

Semua, semua perkawinan yang nabi lakukan, memiliki beberapa alasan politik atau perubahan sosial. Dia menikahi Ummu Habibah, yang merupakan anak dari pemimpin Mekkah, Abu Sufiyan. Secara alami, pernikahan ini sangat penting bagi penaklukkan kota Mekkah.

Contoh lain seperti Shafiyah binti Huyay, dia adalah putri seorang pemimpin Yahudi yang kuat. Setelah pernikahan ini, orang Yahudi menjadi sangat ramah kepada kaum Muslimin. Jika Anda melihat, semua pernikahan memiliki beberapa perubahan sosial. Nabi menikahi putri Ummar, Hafsah, untuk menjalin hubungan lebih dekat antara para sahabat.

Sebagai sebuah reformasi sosial, dia menikahi seorang wanita yang sudah bercerai, sepupu pertama  Zainab. Setelah dia bercerai, nabi menikahinya. Semua perkawinan memiliki beberapa alasan politik atau reformasi sosial. Jadi, semua perkawinannya didasarkan kepentingan memperbaiki masyarakat dan hubungan yang lebih baik. Bukan untuk kepuasan seks yang sering dilakukan para pelaku poligami saat sekarang ini.