Islam Pemicu Lahirnya Asuransi Syariah

0
Source:

Sejarah kelahiran asuransi di Indonesia dimulai sejak terjadinya migrasi usaha ini dari negeri Belanda pada masa penjajahan. Batavianche Zee & Brand assurantie Maattschappij adalah maskapai asuransi pertama untuk Indonesia yang berdiri pada tahun 1843. Dalam perjalanannya usaha ini mengalami banyak kendala terutama pada masa pendudukan Jepang, bahkan setelah Indonesia merdeka. Mayoritas penduduk Indonesia yang beragama Islam berpendapat bahwa transaksi dalam asuransi yang selama ini ada (asuransi konvensional) termasuk transaksi yang diharamkan Syara, karena mengandung unsur gharar, maysir dan riba.

Atas landasan itulah, maka kemudian dipikirkan dan dirumuskan bentuk asuransi yang bisa terhindar dari ketiga unsur yang diharamkan Islam. Di beberapa negara Islam yang mayoritas penduduknya muslim mulai bermunculan asuransi yang prinsip operasionalnya mengacu kepada nilai-nilai Islam. Pada tahun 1979 berdiri Islamic Insurance Co. Ltd. Di Sudan dan Saudi Arabia, di negara tetangga yang paling dekat dengan Indonesia, yakni Malaysia telah berdiri Syarikat Takaful Sendirian Berhad pada tahun 1984.

Kebutuhan akan kehadiran jasa asuransi yang berdasarkan Syari’ah diawali dengan mulai beroperasinya bank - bank Syariah. Pendirian asuransi takaful di Indonesia dipelopori oleh ICMI melalui Yayasan Abdi Bangsa, bersama Bank Muamalat Indonesia dan Perusahaan Asuransi Tugu Mandiri sepakat memprakarsai pendirian asuransi Islam di Indonesia dengan menyusun Tim Pembentukan Asuransi Takaful Indonesia (TEPATI) pada tanggal 27 Juli 1993. Setelah melalui  berbagai seminar dan mengadakan studi banding dengan Takaful Malaysia, akhirnya berdirilah PT Syarikat Takaful Indonesia (PT STI) sebagai Holding Company pada tanggal 24 Februari 1994 kemudian PT STI mendirikan 2 anak perusahaan, yakni PT Asuransi Takaful Keluarga (Life Insurance) dan PT Asuransi Takaful Umum (General Insurance) melalaui Surat Keputusan Nomor. Kep. 385 / KMK. 017/ 1994 tanggal 4 Agustus 1994.

Masuknya asuransi ke Indonesia membuka peluang baru bagi para pengusaha untuk membuka usaha perasuransian. Begitu pula dengan H. Emil Abbas pemilik Ranji Group turut mendirikan usaha perasuransian dengan nama Asuransi Mubarakah. Pada awal pendirian asuransi ini merupakan asuransi konvensional, namun sejak 3 Mei 2001 melakukan konversi polis dari polis konvensional ke polis syari’ah. Gagasan ini berasal dari H. Emil Abbas selaku Komisaris. Dengan alasan bahwa asuransi konvensional mengandung unsur-unsur yang dilarang agama, disamping hal itu beliau ingin menjalankan syari’at agama dalam menjalankan usahanya. Dari nama perusahaan yang sudah islami mengapa tidak menerapkan nilai – nilai Islam didalamnya.