Jejak Yahudi di Aceh

0
Source: mediaaceh.co

Bangsa Yahudi pertama kali datang ke Indonesia ketika orang-orang Eropa mulai memasuki nusantara untuk menjajah. Umumnya etnis Yahudi ini berasal dari Belanda, Timur Tengah, dan Afrika  bagian Utara. Namun yang masih bertahan hingga sekarang adalah yang berasal dari Belanda.

Dengan kondisi ini, banyak keturunan Yahudi di Indonesia lebih memilih merahasiakan identitasnya. Meski demikian, kebudayaan dan keturunan Yahudi masih hidup di Indonesia. Penganut Yudaisme ini masih bisa kita jumpai di sekitar Manado, Sulawesi Utara. 

Kehadiran orang Yahudi di Indonesia setidaknya sudah ada sejak 1290 M. Mereka adalah pedagang yang berdagang di Barus, Sumatera Utara. 

Begitulah menurut Jacob Saphir, yang menulis soal Yahudi di Indonesia. 

Di zaman kolonial Hindia Belanda, jumlah orang Yahudi di Indonesia mencapai 2 ribu orang. Mereka biasanya menjadi pedagang atau pegawai pemerintah. 

Komunitas Yahudi ternyata pernah bermukim di Kota Banda Aceh. Hal ini terbukti dengan adanya peninggalan berupa simbol-simbol khas Yahudi pada nisan-nisan di kompleks kuburan kolonialis Belanda, Kherkhof. 

Kompleks Kerkhoff merupakan pemakaman militer tentara Belanda yang terletak bersebelahan dengan Museum Tsunami. Komplek yang dikenal Kherkhof Peucut ini memiliki lahan seluas sekitar 3,5 hektar. 

Saat pengunjung memasuki areal kompleks ini, pengunjung terlebih dahulu akan melewati sebuah pintu gerbang yang megah. Dibagian atas pintu gerbang tersemat sebuah tulisan "Aan Onze Kameraden Gevallen op HetVel Van Eer" yang artinya “Aan onze kameraden, gevallen op het van eer (Untuk sahabat kita, yang gugur di medan perang)”. Gerbang yang dinamakan "Gerbang Kehormatan Peutjoet" ini sendiri dibangun pada tahun 1896. 

Amri, salah satu penjaga kuburan Kherkhoff mengatakan, setidaknya ada sekitar 2.200 makam milik tentara Belanda. Makam ini menandakan sejarah heriok pejuang Aceh melawan kolonialis Belanda saat melakukan ekspansinya ke bumi Tanah Rencong pada 26 Maret 1873. 

Makam ini juga sekaligus menandakan kenangan pahit tentara Belanda menerima kekalahan telak, baik dari segi materil maupun nyawa sekaligus.

"Dari 2.200 makam ini, ada sekitar 24 nisan milik Belanda keturunan Yahudi yang terletak di sudut kanan makam yang berbatasan dengan Gampong Blower," ujar Amri kepada mediaaceh.co saat ditemui di kompleks Kherkhoff Peutjoet, Selasa, 28 Maret 2017. 

Adapun jejak Yahudi di kompleks Kherkhoff ini bisa ditandai dengan simbol bintang David terukir jelas pada beberapa nisan di kompleks Kherkhoff, Banda Aceh. Amatan Mediaaceh, salah satu simbol itu terdapat pada sebuah nisan yang terletak di bawah pohon trembesi kompleks makam. Nisan yang berkontruksi semen ini tertulis “Hermann Werebeitschik, Geb. Te Grogng, Ausland, Oug 56 Jaar diketahui meninggal di Koetaradja, 23 Oktober 1931 lalu.

Begitu juga dengan logo ular melingkar di nisan Jenderal Kohler Ridder yang dikenal dengan istilah Ouborus, tulisan Ibrani di nisan Salomon Mozez, Juda Joseph, Rachel Emmanuel, L. Bipkenfeld, Catharina Daniels, Evelline Goldenberg , Meir Bolchover dan Deborah Bolchover.

"Pasca musibah gempa dan tsunami, banyak sekali nisan di Kherkhof ini rusak dan bahkan hilang. Begitu juga dengan nisan milik keturunan Yahudi. Kebanyakan nisan mereka ada yang sudah rusak dan hampir rata dengan tanah," ujar Amri. 

Sementara itu, sejarah mencatat, umumnya keturunan Yahudi ini masih punya garis famili. Berdasarkan penelitian Teuku Cut Mahmud Azis, sebanyak 30 keluarga Yahudi pernah menetap di Banda Aceh. Hal ini berdasarkan data penelitian yang dilakukan dosen FISIP Al-Muslim Bireuen ini saat menjadi narasumber pada diskusi rutin ICAIOS pada Jumat, 20 Mei 2016 lalu. 

Teuku Cut Mahmud Aziz menjelaskan, bukti lain yang juga menunjukkan rekam jejak Yahudi adalah nama Gampong Blower. Menurutnya, kampung yang letaknya bersebelahan dengan kompleks Kherkhoff ini dulunya pernah tinggal kelurga Yahudi bernama Bolchover. 

Di kalangan tentara militer Belanda maupun rakyat Aceh sendiri, Bolchover ini dikenal sebagai tuan tanah. Sebutan namanya ini kemudian menjadi cikal bakal sejarah Gampong Blower.

Sumber: mediaaceh.co