Kuah Tuhe: ‘The Power of Silaturrahmi’

0
Source: cookpad.com

Kuah Tuhe bukan hanya sekedar desert yang terkenal di Aceh, melainkan makanan ini seperti kuliner Aceh lainnya terkandung filosofi  yang unik dan dalam, yaitu ‘the power of silaturahim’. Hal tersebut dapat dimaknai dari peran Kuah Tuhe yang selalu eksis dalam setiap ragam acara adat dan kenduri masyarakat Aceh. Jika tidak ada, maka seolah ada mata rantai yang hilang dalam indahnya kebersamaan.

Kuah Tuhe memiliki corak yang variatif, ada yang menggunakan pulut (bulukat) dan ada pula yang menggunakan buah pisang dan nangka sebagai isi kuah. Bulukat Kuah Tuhe yang disajikan dengan citarasa yang khas tersebut memiliki makna simbolis, yakni sajian makanan yang dipercaya dapat mendatangkan berkah, mendatangkan berkat dan menghindari kemurkaan  tokoh kharismatik pada masanya.

Zaman Aceh tempo dulu, ketika orangtua menitipkan anaknya ke balai (pusat pengajian), sang anak diwajibkan membawa bulukat kuah tuhe yang dikemas didalam mangkuk atau talam. Bulukat yang disajikan di pengajian tersebut bukan sekedar oleh-oleh bagi sang guru beserta para santrinya melainkan sebagai wahana simbolis agar ilmu yang diterima sang anak nantinya mudah dipahami dan melekat layaknya bulukat.

Bagi para penyaji Kuah Tuhe dalam acara adat, secara simbolis diharapkan dapat memberikan nuansa positif bagi para tamu melalui manis dan lemaknya Kuah Tuhe yang memanjakan lidah. Bersama Kuah Tuhe para tamu dan pemilik rumah seolah menyatu dalam kebersamaan silaturrahmi layaknya harmonisasi antara kuah dan isi di dalamnya. Inilah salah satu aspek mengapa kebersamaan rakyat Aceh menyulitkan invansi Belanda dalam menguasai Aceh secara totalitas.

Cara membuatnya pun cukup sederhana. Bahan membuat kuah terdiri dari santan yang menjadi kuahnya. Sementara pisang raja dan daging buah nangka yang telah diiris dengan ukuran kecil menjadi isi kolak. Agar lebih harum, kuliner tersebut diberi daun pandan. Jangan lupa memberi garam sedikit untuk menambah gurih rasa manis dan wangi kuah kolak.  Ada juga yang menyajikannya denga bulukat dan ada pula hanya dengan pisang dan nangka semata. Bagi golongan yang masih mengimplementasikan menu Kuah Tuhe dalam kebersamaan, menjadi petanda bahwa merekalah sosok warga Aceh yang sejati dan peduli dengan nilai luhur ke-Acehan.