Mengajar Private, Media Penting Menjaga Keilmuan Mahasiswa

0
Source: bimafika aceh


Walau eksistensinya tidak sama dengan hakikat, sesungguhnya; ‘Mengajar’ merupakan titik tertinggi dari refleksi seorang insan dalam menuntut suatu ilmu pengetahuan. Bagaimana tidak, orang yang mengajar sudah memiliki ketiga komponem dari semuanya termasuk belajar dan mendengar itu sendiri. Tidak akan terbentuk seorang pengajar tanpa belajar sebagaimana tak mungkin belajar seseorang itu tanpa mendengar. Rasulullah Saw juga pernah berpesan bahwa haya ada tiga tipe manusia yang beruntung atau meraih kemenangan dalam hidupnya. Ialah orang yang mengajar, belajar dan mendengar.

 Para Mahasiswa sering disibukkan dengan aktivitas-aktivitas extern maupun intern. Namun tidak sedikit dari mereka yang memagari dirinya dengan aktivitas positif lain dengan alasan untuk memperoleh ‘IP’ atau ‘IPK’ yang maksimal. Mereka memenjarakan diri dalam kecilnya dunia yang mungkin hanya seluas meja belajar yang mereka kenakan. Sehingga tidak jarang mereka menganggap lowongan Bimbel, Private atau Lembaga Belajar tertentu seolah seperti kendala yang sangat tidak mensupport prestasi akademis.

Namun ternyata realita berbicara berbeda. Sejarah menjadi bukti bahwa justru mahasiswa yang menyempatkan dirinya dialam pengajaranlah yang lebih unggul. Pertanyaan yang sering menuak biasanya; “Bagaimana bisa ia memperoleh nilai yang bagus, bukankah ia sibuk mengajar disepanjang hari..? Lantas kapan ia belajar mata perkuliahan…?”

Mengajar disebuah Private, baik yang lembaga maupun personal ternyata sangat memberi peran besar bagi seorang mahasiswa dalam pembentukan karakter. Bukan hanya menggemblengnya menjadi mahasiswa berpenghasilan, aktif dan sosialis bahkan yang demikian bisa membentuk mahasiswa itu sendiri terbiasa dalam ‘memanage’ waktu. Sehingga SKS yang padat sekalipun bukan sebuah hambatan berarti mengingat semua bisa dikondisikan dengan rapi dan disiplin.

Hampir dari semua mahasiswa yang menyibukkan dirinya sebagai tenaga pengajar memiliki prestasi akademis diatas rata-rata. Justru mereka yang duduk termenung di kostlah yang memperoleh hasil yang jauh dari harapan. Sekalipun ianya belajar terus menerus, secara logika ia tetap akan kesulitan melampaui mereka-mereka yang mengajar disebuah Private.

Setelah diselidiki, ternyata yang demikian benar adanya. Seorang mahasiswa biasanya menjadi tenaga pengajar dibidang keahliannya. Ambillah contoh mereka yang kuliah dibidang pendidikan Mate-matika (FKIP MTK atau Tarbiyah Mate-matika). Mata kuliah yang mereka selesaikan disemester 1,2,3,4 dan seterusnya biasanya tidak akan terjadi pengulangan materi disemester berikutnya. Jika disemester 3 mereka mempelajari ‘Integral’ sangat jarang jika disemester yang lain ia membahas hal yang sama. Selain agar tidak terjadi tumpang tindih materi, Ini hal yang dianggap wajar mengingat mereka dianggap sudah kompeten karena terbukti mampu menyelesaikannya.

Akan tetapi, justru dari sinilah titik masalah baru dimulai. Ibarat daun yang berguguran mungkin seperti itulah peran keilmuan yang terlupakan jika sudah tersalip zaman. Biasanya seorang Mahasiswa hanya mengulang keilmuan yang ia ayomi dimasanya. Selain faktor malas terkadang kesulitan membagi waktu menjadi aspek penting terlupakannya materi disemester sebelumnya. Sehingga ketika keilmuan disemester silam tersebut dibutuhkan dibutuhkan dan dipertanyakan  disemester yang jauh didepan, tentu ia akan merasa asing bahkan tak jarang kewalahan. Sehingga mau tidak mau ia terpaksa mengulang dan mengulang masa lalu yang relatif memakan banyak waktu.

Namun itu semua tidak akan terjadi  bagi para mahasiswa pengajar. Disadari atau tidak, seorang mahasiswa yang demikian ternyata mengulang dan merefres materi keilmuannya saat mengajar. Sejauh mana perbedaan materi diperkuliahan, dunia Private tetap menjaga keilmuannya melauli permintaan siswa-siswa yang tak jauh beda dari keilmuan yang ia dapatkan sebelumnya. Sehingga tidak keliru jika dikatakan bahwa sebaik-baiknya belajar adalah mereka yang mengajarkan. Karena didalam mengajar terdapat dua komponen yakni belajar dan mendengar.

Titik balik selanjutnya, tergantung mahasiswa itu sendiri dalam mengaktualisasikan keilmuan diri. Perlu diketahui, tidak semua Mahasiswa eshak saja yang bisa mengimplementasikan metode Private yang demikian. Namun jurusan teologi juga tak kalah hebat jika ia mampu membaca kondisi lapangan. Diantaranya ia bisa mereffres keilmuannya dengan menjadi guru TPA, pengajian, mengisi ceamah-ceramah, berdiskusi dan masih banyak lagi. Semoga dengan terjaganya suatu keilmuan dalan setiap karakter berdampak positif bagi kemajuan dan kemasalahatan bangsa dan Negara. Insya Allah….