Mengapa Ada Tiang Pancang Warna-warni Di tengah Kota Banda Aceh

0
Source: garuda-aceh.blogspot.com

Kalo ke banda aceh pasti tidak asing lagi dengan tanah kosong dengan dihiasi tiang pancang dengan bermacam warna. Pasti anda bertanya-tanya tempat apakah itu ? Sebenarnya tanah kosong tersebut dulunya pernah bediri Hotel Aceh tempat Presiden Soekarno singgah dalam undangannya ke Aceh pada Juni 1948. Di hotel inilah Soekarno sambil menangis tatkala meminta rakyat Aceh untuk membantu membeli pesawat guna kepentingan diplomatik Indonesia. Kedua pesawat sumbangan rakyat Aceh kemudian diberi nama Seulawah 01 dan Seulawah 02

Sejak 1997, Hotel Aceh tidak beroperasi lagi. Lalu, pada April 2001, hotel ini terbakar. Seperti dikutip Gatra, kebakaran hotel yang berumur sekitar 100 tahun itu terjadi selepas zuhur. Api melalap seluruh bangunan.

Menurut rencana, hotel tersebut akan diberi nama "Novotel Hotel Aceh" yang merupakan gagasan dari Bustanil Arifin, mantan Menteri Koperasi semasa Orde Baru.

Untuk mewujudkan itu Bustanil menggagas kerjasama dengan Accor Asia Pacific atau AAPC. Ini perusahaan pariwisata yang memiliki 2.650 jaringan hotel di dunia.

Namun, rencana proyek itu gagal di tengah jalan. Krisis moneter yang menghayak Indonesia pada 1998 membuat pembangunan hotel dihentikan. Padahal sejumlah tiang pancang telah didirikan.

Setelah tsunami 2004, pancang-pancang di areal bekas Hotel Aceh itu dicat warna-warni.  Tempat bekas Hotel Aceh itu pun kerap menjadi lokasi pagelaran seni budaya. Festival musik, pembacaan puisi bahkan dimanfaatkan untuk deklarasi calon gubenur. Letaknya persis di samping Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh  dan berdekatan dengan Taman Sari, lokasi itu strategis dan menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung yang sedang berada di Banda Aceh. 

Sumber: bandaacehtourism.com, atjehcyber.net