Mengenal Adat Upacara Pernikahan di Aceh

0
Source: linguis-andi.blogspot.com

Sebagai daerah dengan identitas keislaman yang tinggi, budaya Aceh kerap menyita perhatian para masyarakat Indonesia selaku negara dengan populasi umat Islam terbesar di dunia. Bukan sekedar eksis dalam implementasi peusiju, atau bahasa lainnya ‘tepung tawar’, budaya Aceh yang tak kalah menarik adalah adat upacara pernikahan.

Di Aceh pada umumnya, pasangan yang berencana menikah akan melakukan kesepakatan tersirat yang dikenal dengan cah r?t. Cah r?t dalam bahasa Indonesia juga dikenal dengan istilah ‘merintis jalan’, yang bermakna sebuah upaya pendekatan secara diam-diam yang dilakukan masing-masing perwakilan yang dipercaya (keluarga lelaki dan perempuan) untuk memperoleh kesepakatan atau tidak. Secara filosofis, cah r?t digelar agar pihak keluarga tidak harus menanggung malu jika rencana pernikahan tidak menemui kesepakatan (batal).

Jika agenda cah r?t berjalan baik, fase selanjutnya adalah adalah proses meulakèe dan seulangké.  Dalam pemahaman masyarakat Indonesia, meulakkèe diartikan sebagai meminang atau melamar. Bagi oknum meulakèe yang paham akan pentingnya marwah tradisi, tidak cukup hanya datang pihak keluarga dengan membawa gula dan teh semata. Melainkan dilakukan secara terbuka dengan seulangké (perantara atau mak comblang dalam istilah kekinian) dengan keikutsertaan petinggi kampung seperti   geuchik, dan imam.

Sebagai bentuk penghargaan atas mulianya calon pengantin wanita di Aceh, proses meminang biasanya dilakukan dengan membawa beberapa talam yang berisi cendra mata serta ditutup dengan upacara kecil yang dikenal dengan istilah ba ranup kong haba. Dalam kesempatan ini, seulangké merupakan juru bicara terkait pertunangan dengan menyelesaikan beragam syarat dan prosedur adat yang berlaku.

Pada agenda ba ranup, kedua belah pihak akan membahas secara resmi mengenai jumlah mahar atau jeunamèe dalam istilah Aceh diikuti dengan jadwal yang baik untuk meungatip (menikah), dan waktu yang ideal untuk menggelar peuduek sandéng (peresmian atau walimah).

Bila proses ba ranup sukses, maka proses meungatip (menikah) pun akan digelar sebagaimana sunnah rasul yang sangat sakral.Biasanya, masyarakat Aceh memiliki 3 versi dalam menggelar pernikahan, ada yang melakukannya di KUA, di masjid, bahkan ada juga menggelarnya di rumah salah seorang mempelai tergantung kesepakatan yang diambil.

Agenda pernikahan lemudian dilanjutkan dengan walimatul ursyi (pesta pernikahan). Kegiatan tersebut berlangsung sesuai kesepakatan kedua belah pihak, ada yang menggelarnya di hari akad nikah namun tak jarang juga yang melaksanakannya di hari yang berbeda. Tahap prosesi dalam kesempatan ini meliputi fase persiapan, jadwal pelaksanaan, serta acara akhir peresmian.

Mempelai pengantin wanita yang dalam hal ini diistilahkan dengan dara baro akan melakukan berbagai persiapan rumah tangga, seperti acara kenduri, bôh gaca, manoe pucôk bagi dara barô. Sedangkan pihak pengantin pria yang dalam hal ini diistilahkan dengan lintô barô  mempersiapkan peuneuwoe lintô, acara intat lintô, dan acara kenduri sekaligus dengan acara tueng dara baro. Dalam kenduri perkawinan, bagi pihak lintô dan pihak dara barô biasanya berlangsung pada hari yang sama.