Mengenal Faktor Kemiskinan di Aceh

0
Source: kompasiana.com

Kemiskinan dalam pengertian yang paling sederhana adalah kurang-nya kepemilikan uang, dalam arti yanglebih luas dan lebih relevan untuk didiskusikan sehubungan dengangangguan mental dan tingkahlaku, kemiskinan adalah keadaankurangnya alat, termasuk kurangnya sumberdaya sosial atau pen-didikan. Kemiskinan dan keadaan yang terkait seperti pengang-guran, pendidikan yang rendah, tidak mempunyai tempat tingaldan tidak memiliki apa-apa bukan hanya berlaku di negara miskin tapi juga pada minoritas di negara maju.[1]

Kemiskinan juga merupakan penghantar dari berbagai variabel yang memperbesar resiko kegagalan atau ketidak mampuan. Kondisi ini secara tidak langsung memperbesar resiko perkembangan masyarakat khususnya anak-anak melalui: perawatan prenatal, gizi buruk, serta taraf pendidikan yang rendah. Anggota masyarakat yang sangat rentan oleh kondisi ini adalah anak dan perempuan.[2]

Banyak sekali masyarakat harus hidup dalam kondisi yang berdampak buruk, baik secara fisik maupun kognitif, pada anak diakibatkan oleh kemiskinan. lingkungan tempat masyarakat memiliki peran yang sangat penting bagi per-kembangan kognisi, fisik dan psiko-sosial. Pendapatan keluarga yang sangat rendah merupakan salah satu resiko yang paling potensial disamping beberapa masalah lain terhadap terbentuknya masalah pada masyarakat. Pada tahun 2010 ditemukan bahwa masalah tersebut masih merupakan momok yang menempatkan anak-anak pada kondisi yang rentan terhadap kegagalan pendidikan dan dalam kehidupansecara luas meskipun berbagai usaha telah dilakukan untuk menga-tasinya.

Penyebab kemiskinanan pada umumnya terdapat tiga faktor utama. Pertama, terkait dengan wilayah bencana (disaster prone area), dimana dipercayai sebagai penyebab yang menjadi alasan kemiskinan dalam setiap negara, kemiskinan selalu menjadi problem sosial sebagai tolok ukur keberhasilan pembangunan, akan tetapi bencana dipercayai sebagai sebab utama dari faktor kemiskinan dimana orang-orang yang terkena dengan berbagai peristiwa bencana sangat rentan terhadap kemiskinan, kekeringan seperti yang telah melanda beberapa negara di Afrika, banjir, peperangan, tsunami di Aceh dan berbagai faktor alam lainnya telah membuat setiap orang yang dekat kepada peristiwa tersebut kehilangan harta benda[3].

Kedua, faktor kebijakan atau struktural seperti kebijakan ekonomi yang tidak adil. Dalam sebuah negara suku bunga bank yang tinggi, susahnya mendapat pinjaman modal, nilai mata uang yang rendah, subsidi pemerintah yang kecil dan tidak tepat, sistem pemberian upah pada buruh yang rendah, dan tidak adanya subsidi pemerintah dalam pendidikan dan kesehatan dipercayai sebagai faktor umum yang menjadi penyebab utama kemiskinan.[4]

Ketiga, faktor mental. Mental yang lemah memiliki potensi sebagai penyebab kemiskinan. Mental dan tingkah laku, termasuk gangguan penggunaan narkoba, tentang mengapa masalah kesehatan mental cukup tinggi dikalangan orang miskin. Menuai perdebatan apakah kemiskinan yang menjadi pokok permasalahan orang mengalami ganguan kesehatan mental (causal mechanism) atau karena masalah mental pula yang menjadi sebab orang menjadi miskin (drift me- chanism).[5]

Tampaknya kedua alasan tersebut relevan menjelaskan faktor pendidikan yang rendah pada setiap individu dapat berpotensi mengalami masalah mental karena mereka miskin, dan orang bisa saja menjadi papa karena mereka sakit. contohnya: kerena mengalami abnormalitas mental orang menjadi rendah tingkat pendidikannya, pengangguran, dan menjadi tunawisma, ada juga bukti yang menunjukkan bahwa perjalanan gangguan mental dan tingkah laku ditentukan oleh status sosial ekonomi dari individu.

Jelas bahwa kemiskinan tidak berdiri sendiri dengan dampak yang negatif bagi masyarakat dan anak-anak. Kemiskinan di Aceh adalah sebuah fakta yang tak terhindarkan meskipun daerah ini sangat kaya sumber daya alam yang terkandung didalamnya namun Aceh merupakan “disaster prone area”, wilayah rentan bencana. Ditambah lagi dengan kebijakan pemerintah yang memperparah kemiskinan di Aceh secara struktural. Badan Pusat Statistik Provinsi (BPS) Aceh mengeluarkan data jumlah penduduk miskin tingkat kemiskinan Aceh tahun 2010 yang memaparkan bahwa jumlah penduduk miskin di Aceh pada tahun 2010 sebesar 861,85 ribu jiwa atau 20,98 persen. Jika dibandingkandengan penduduk miskin pada tahun 2009 yang berjumlah 892,86 ribu jiwa atau 21,80 persen maka jumlah penduduk miskin di Aceh menurun hingga 0,82 persen.[6]

Jika dihitung kedalam angkapendapatan perkapita per bulan, angka garis kemiskinan pada tahun 2009 sebesar Rp.261.898 perkapita/bulan meningkat menjadi Rp278,389 perkapita/bulan untuk tahun 2010. Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh merilis angkat kemiskinan periode September 2016 mengalami penurunan. Pasalnya jumlah penduduk miskin di Aceh pada September 2016 mencapai 841,31 ribu orang, atau 16,43 persen. Kepala BPS Aceh Wahyudi mengatakan jika dibandingkan dengan persentase penduduk miskin pada Maret 2016, maka selama periode tersebut terjadi penurunan jumlah penduduk miskin sebanyak 7,13 ribu orang. Sementara apabila dibandingkan dengan Maret tahun sebelumnya, penurunan jumlah penduduk miskin yaitu sebanyak 18,10 ribu orang.[7]

Selama periode tahun 2014 sampai dengan 2016, persentase penduduk miskin di Aceh juga cenderung mengalami penurunan. Pada Maret 2014 persentase penduduk miskin sebesar 18,05 persen atau sebanyak 881,25 ribu orang, kemudian pada September 2014 berkurang menjadi 16,98 persen.

 



[1] Badan Pusat Statistik dan Bappeda Provinsi NAD, Buku Saku Nanggroe Aceh,  (Darussalam  Banda Aceh: BPS & BAPPEDAProv. NAD, 2007), hlm. 77.

[2]  Siti Rahayu, Psikologi Perkembangan: Pengantar dalam Berbagai bagiannya, Jogjakarta: UGM Press, 2004), hlm. 112.

[3] D. Supardi, Masalah Pendidikan Untuk Anak Miskin, (Jakarta: Majalah Prisma, 1994), hlm. 56-61.

[4] Gujarati, Basic Econometrics, (USA Texas: McGraw hill University, 2003), hlm. 39.

[5] Claudia Zayfert, & Becker, Cognitive-Behavioral Therapy for PTSD a case formulation approach, (New  York London: The Guilford Press, 2007), hlm. 102.

[6] Aceh.bps.go.id. diakses Juni 2017.

[7] Ibid.