Menguak Rahasia Edi Fadhil, Program CLR-nya Telah Menyumbang 42 Rumah Gratis bagi Kaum Dhuafa

0
Source: cetlanget.org

Bagi masyarakat Aceh, khususnya pengguna Facebook mana yang tidak mengenal sosok Edi Fadhil. Bisa dibilang popularitasnya jauh lebih melambung dibandingkan jenis programnya yang telah sangat viral di media sosial. Melalui program CLR (Cet Langet Rumoh) Edi Fadhil telah berjasa dalam membantu para kaum dhuafa dalam membangun rumah yang layak untuk ditempati. Tidak hanya itu, Edi bersama programnya juga membantu anak-anak putus sekolah, bahkan juga ada program rumah singgah yang dilakukan untuk membantu anggota keluarga dalam mendampingi perobatan di rumah sakit.

Tidak ada faktor internal khusus yang menyebabkan Edi bergerak melakukan kegiatan luar biasa ini. Awalnya, berupa aksi spontanitas untuk membantu sebuah keluarga dengan kondisi rumah yang tidak layak huni. Ternyata Tuhan berkehendak lain, programnya cukup sukses dan memperoleh banyak dukungan dari para kaum dermawan yang sudi menyisihkan sebagian danan mereka untuk program kemanusiaan tersebut.

Program CLR memang tergolong unik, bermodalkan akun Facebook pribadinya yang bernama Edi Fadhil, Ia telah mampu menjembatani pihak kaum dhuafa dengan oknum dermawan yang sebelumnya terpisah oleh jurang yang sangat dalam, miss relation. Edi merupakan figur yang layak dicontoh, terkhusus dalam mengimplementasikan fungsi sosial media secara tepat yang akhir-akhir ini sering disalah gunakan.

Sampai saat ini, program CLR sudah membangun 42 unit rumah dengan biaya pembangunan per-unit maksimal Rp. 45 Juta, selain itu CLR juga sudah menyalurkan beasiswa rutin untuk paling kurang 221 anak dengan besaran beasiswa sekitar Rp. 200.000 peranak tiap bulannya. Edi juga telah mendampingi sekitar 100 orang keluarga pasien dengan program terbarunya, rumah singgah.

Rumah singgah merupakan bentuk kemudahan yang diberikan kepada keluarga pasien ketika mendapat rujukan berobat ke rumah sakit. Sejauh ini BPJS dan sejenisnya hanya membantu bebas biaya pasien semata, sedangkan pihak yang membawa pasien (keluarga), mau tidak mau terpaksa menggunakan biaya pribadi. Mudah ceritanya jika mereka memilikinya, bagaimana jika mereka tidak mempunyai dana yang cukup? Secara teknis, inilah cikal bakal lahirnya konsep rumah singgah, dengan begitu para keluarga tidak perlu cemas dengan biaya transportasi atau penginapan selama proses pengobatan pasien berlangsung.

Kreatifitas Edi memang dibilang terus mengalir tanpa batas. Setelah sukses membangun 2 sekolah swasta di daerah terpencil pada akhir 2016, Agustus 2017 Ia merilis program baru yang disebut “Super Store”, yakni berupa intervensi modal untuk keluarga pra sejahtera yang baru memulai usaha. Saat ini Super Store sudah memfasilitasi paling kurang 16 keluarga.

Sampai sejauh ini (2 tahun 2 bulan) sejak pertama kali kegiatan CLR dijalankan, Edi sudah mengelola uang kiriman rekan-rekan pengguna media sosial paling kurang Rp. 2,5 Milyar. Pertanyaanya, “Kok bisa sih? Apa rahasianya?”

Melalui komunikasi langsung antara Edi Fadhil dengan pihak aceh.net, Ia menjelaskan bahwa kunci sukses dari programnya berjalan dengan lancar adalah transparansi pengelolaan dana dan proses penyaluran bantuan yang cepat tanpa pemotongan anggaran (biaya oprasional). Itu berarti, 100% dana yang disumbangkan pihak dermawan seluruhnya dialokasikan untuk program-program kemanusian yang disebutkan di atas. Edi juga tidak sungkan ide kreatifitasnya diplagiat sebagaimana yang ditakutkan oleh penemu ide bisnis pada umumnya, dengan besar hati Ia justru berharap agar ada pihak lain turut mereplikasikan (mencontoh) kegiatannya demi kemaslahatan bersama.