Menyorot Pemimpin Ideal

0
Source: log.viva.co.id

Kepemimpinan sebagai salah satu fungsi manajemen merupakan hal yang sangat pentinguntuk mencapai tujuan organisasi, dengan amat berat seolah-olah kepemimpinan dipaksa menghadapi berbagai macam faktor seperti: struktur atau tatanan, koalisi, kekuasaan dan kondisi lingkungan organisasi. Sebaliknya, kepemimpinan juga bisa dengan mudah menjadi suatu alat penyelesaian yang luar biasa terhadap persoalan apa saja yang sedang menimpa suatu organisasi.[1]

Dalam sektor sumber daya alam, Indonesia khususnya Aceh memiliki sumber daya alam yang luar biasa. Sangat disayangkan karunia tersebut tidak sebanding dengan sumber daya manusianya yang bisa dikatakan tertinggal dibandingkan kualitas intelektual negara lain. Salah satu sebab kurangnya intelektual daerah yang berbatasan dengan sumatra tersebut adalah karena berada dimasa yang penuh dengan cobaan sejak bersatu dan merdeka bersama NKRI yaitu masa konflik dan tsunami yang sempat membuat indonesia menangis.

Konflik dan tsunami tidaklah patut disesalkan selamanya, mereka merupakan mimpi buruk yang mungkin memiliki suatu ikhtibar dan hikmah bagi yang sabar menghadapinya. Kini waktunya terbangun, bangkit dan melanjutkan perjalanan panjang Nangroe Aceh Darussalam agar bisa happy ending selamanya. Tentunya dalam mewujudkan ini tidaklah mudah, sesosok pemimpin ideal dan kharismatik sangat penting sebagai tonggak berkibarnya bendera tanah rencong.

Pemimpin yang ideal tidaklah cukup dengan bekal mengerti dalam bidang ilmu pemerintahan semata tapi juga dibutuhkan sesosok pemimpin yang memiliki kebijaksanaan, pemahaman sosial, kekarismaan, mental baja dan banyak lagi.

            Kepemimpinan karismatik biasanya lahir ketika suasana masyarakat dalam keadaan kacau. Suasana seperti ini memerlukan pemecahan tuntas agar keadaan masyarakat kembali normal. Untuk itu diperlukan figur yang mampu menyelesaikan kerisis tersebut.[2] hal yang demikian telah mewarnai sejarah aceh. Masa konflik yang berkepanjangan antara Aceh dan Pemerintahan Indonesia juga mampu terselesaikan dengan lahirnya sesosok pemimpin karismatik yang menggantikan kepemimpinan sebelumnya lewat jalur yang lebih bijaksana. Masalah yang dihadapi untuk menemukan pemimpin yang demikian tentunya tidak mudah mengingat etos kerja baru bisa terlihat jelas ketika sedang berada dalam masa jabatan.

            Penampilan seseorang dianggap karismatik dapat diketahui melalui ciri-ciri fifiknya, misalnya matanya yang bercahaya, suaranya yang kuat, dagunya yang menonjol, atau tanda-tanda lain. Ciiri-ciri tersebut menunjukkna bahwa seseorang yang memiliki jiwa kepemimpinan karismatik,seperti kepemimpinan para Nabi dan sahabatnya.[3] Agar prediksi tersebut lebih relevan, ada baiknya dengan menilai bagaimana ahklak calon pemimpin tersebut, sebab secara bahasa kepemimpinan berarti sifat-sifat, prilaku pribadi, pengaruh terhadap orang lain, pola-pola interaksi, hubungan kerjasama antaraperan, kedudukan dari suatu jabatan adnimistratif, dan persepsi lain-lain tentang legitimasi pengaruh.[4]

            Hal penting lain yang harus dimiliki sang pemimpin bukan hanya kekuasaan wilayah dan otoritas semata, melainkan akan lebih sempurna dengan adanya kekuasaan sosial dan poliik.

            Kekuasaan sosial adalah kemampuan mengendalikan tingkah laku orang lain baik secara langsung dengan memberi perintah maupun secara tidak langsung dengan memanfaatkan alat dan cara yang tersedia.[5] Sedangkan kekuasaan politik adalah kekuasaan politik adalah kemampuan untuk mempengaruhi kebijaksanaan umum (Pemerintah) baik terbentuknya maupun akibat-akibatnya sesuai dengan tujuan-tujuan pemegang kkekuasaan sendiri.Kekuasaan disamping dapat memperoleh ketaatan dari warga masyarakat juga menyangkut pengendalian orang lain dengan tujuan untuk mempengaruhi tindakan aktivitas negara dibidang adnimistartif, legislatif, dan yudikatif.[6]

 



[1] Wahjosumidjo, Kepemiimpinan kepala sekolah, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2003), hal. 15.

[2]Sukamto, Kepemimpinan Kiai Dalam Pesantren, (Jakarta: LP3ES, 1999), hal. 28.

[3] M. Haikal Husein, Sejarah Hidup Muhammad Saw, (Jakarta: PT. Yudhistria, 1989), hal. 80.

[4] Wahjosumidjo, Kepemiimpinan kepala sekolah...,  hal. 17.

[5] Robert M.MacIver, The Web of Goverment, (NewYork: The MacMillan Company, 1961), hal. 87.

[6] Miriam Budiardjo, Dasar-dasar Ilmu Pollitik, (Jakarta: PT. Gramedia, 1989), hal. 37.