Mirip namun Tak Sama, Rateb Meuseukat Aceh Ternyata Berbeda dengan Tari Saman

0
Source: quora.com

Salah satu budaya seni Aceh yang unik dan tak kalah menarik dengan daerah lainnya adalah Tari Rateb Meseukat. Nama tersebut berasal dari bahasa Arab yakni rateb yang berarti ratib atau ibadah. Sedangkan meseukat berasal dari kata sakat yang berarti diam.

Sejarahnya, Rateb Meseukat sering digelar seusai agenda mengaji pada malam hari, selain sebagai media hiburan halal, hal tersebut merupakan media dakwah untuk menyebarkan nilai-nilai luhur Islam kepada para pengunjung.

Gerakan tarian tersebut diperankan dalam posisi berdiri dan duduk. Saat ini sebagaimana tarian adat Aceh lainnya, Rateb Meuseukat juga sering dipertunjukkan ketika menghadapi hari-hari besar seperti penyambutan tamu dari luar daerah, perayaan perkawinan, kelahiran dan masih banyak lagi.

Makna dan isi syair yang dilantunkan memuat nilai-nilai positif yakni berupa puji-pujian kepada Allah Swt dan shalawat kepada baginda rasul. Biasanya tarian ini dimainkan oleh perempuan dengan pakaian adat Aceh. Eksistensi tarian ini sering dijumpai di Meudang Ara Rumoh Baro di kabupaten Aceh Barat Daya.

Menurut sebagian riwayat menjelaskan bahwa tarian ini diciptakan oleh dua tokoh abad ke-19, Teungku Abdurrahim alias Habib Seunagan (Nagan Raya) selaku pencipta gerakannya dan Teungku Chik di Kala selaku pengarang syair dan rateb-nya.

Sebagian kalangan terkadang menyamakan tarian ini dengan tari Saman dari suku Gayo. Padahal, terdapat beberapa unsur yang membedakan keduanya. Tari Saman menggunakan bahasa Gayo sedangkan tari Rateb Meuseukat menggunakan bahasa Aceh. Tari Saman tidak menggunakan alat musik, sedangkan tari Rateb Meseukat menggunakan rapai dan genderang, Tari Saman diperankan oleh laki-laki sedangkan Rateb Meuseukat dimainkan oleh perempuan.