Asal Usul Desa Pangur, Gayo Lues

0
Source:

Desa Pangur terletak di Kecamatan Dabun Gelang, Kabupaten Gayo Lues, Provinsi Aceh. Warga desa ini dikenal dengan keahliannya di bidang menempa besi (Nepa). Desa Pangur ini memiliki sejarah yang unik. Menurut cerita salah satu tetua desa, Husin (54 tahun), nama Pangur diambil dari bahasa Karo yang berarti pisau/penutup pisau. Dulunya, ada serombongan orang yang berasal dari Karo datang ke Gayo Lues. Lalu mereka meninggalkan sarung pisau di daerah Pangur. Orang Karo menyebut benda itu dengan sebutan Pangur. Dari sanalah tercipta nama Desa Pangur.

            Awalnya Desa Pangur hanya didiami lima kepala keluarga yang dipimpin oleh Raja Tengku Mata Ie. Hingga suatu hari datanglah tetua dari Desa Bukit meminta kepada para tetua Desa Pangur untuk bergabung menjadi satu wilayah di bawah satu kepemimpinan. Tetapi, para tetua Desa Pangur menolak untuk bergabung hingga mereka bermusyawarah menjadi sahabat antar kampung. Dari sanalah penduduk Desa Pangur bertambah karena perpindahan penduduk dari Desa Bukit ke Desa Pangur.

            Raja Desa Pangur dikenal sebagai raja yang pandai menempa besi. Ia juga mengajarkan warganya menempa besi saat penduduk di desanya masih sedikit. Keahlian raja ini bermula sejak ia merantau ke Tanah Karo. Di sana, sang raja belajar menempa besi dengan penduduk asli Tanah Karo. Setelah kembali dari perantauan, raja membangun tempat mengolah besi (pepanen) di Desa Pangur. Lalu ia mengajarkan kepada penduduknya hingga akhirnya mereka mahir menempa besi. Keahlian ini pun menjadi sumber pencaharian utama penduduk Desa Pangur untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.



Hingga saat ini, penduduk Desa Pangur masih menempa besi dan memproduksi parang, pisau, pedang, hingga keris. Di Gayo Lues, Desa Pangur terkenal sebagai satu-satunya desa tempat menempa besi. Barang olahannya telah dipasarkan secara luas hingga ke Takengon, Aceh Tenggara, Medan, Aceh Besar, dan beberapa daerah lainnya. [fer]