Pemimpin Harus Adil

0
Source: 303magazine.com

Bersumber dari sebuah hadist Rasullullah saw bersabda yang artinya diantara orang yang mendapatkan perlindungan langsung dari Allah SWT di akhirat nanti adalah imamun ‘adil yaitu pemimpin yang adil. Siapakah pemimpin itu dan apa itu artinya adil?

secara umum yang dinamakan adil itu yaitu orang yang pandai mengambil sikap jalan tengah dari dua persoalan yang dihadapinya dimana tidak berat ke arah kiri maupun ke kanan itu yang disebut adil lalu pemimpin itu siapa? Bahwa sesungguhnya setiap kita itu adalah pemimpin yang besar kecilnya kepemimpinan kita bergantung kepada apa yang kita pimpin dan sudah tentu apa yang kita pimpin akan dimintai pertanggung jawabannya. 

Seorang pemimpin ia menaungi orang-orang yang dipimpinnya dalam kehidupan dunia, pantas kalau diakhirat nanti Allah akan langsung menaunginya, oleh krna itu pemimpin merupkan suatu amanah dan disamping dia merupakan amanah dia juga merupakan nikmat  dan nikmat itu tergantung pada pandai atau tidaknya cara kita mensyukurinya.

Beberapa contoh  dalam sejarah bisa kita lihat seorang yang bernama Umar bin Abdul aziz  pada saat beliau dipilih menjadi seorang pemimpin kata-kata pertama yang keluar dari mulut beliau “Innalillahi Wa inna ilaihi rajiun” coba kita bayangkan dipilih jadi pemimpin bukannya mengucapkan Alhamdulillah tapi malah “Innalillahi Wa inna ilaihi rajiun” kenapa seperti itu, karena beliau menganggap bahwa jabatan itu adalah amanah dan kalau kita menyia-nyiakan amanah berarti khianat dan khianat itu termasuk dosa besar.

Didalam Al-Qur'an Allah SWT memperingatkan bahwa nikmat bisa saja berubah menjadi azab kalau kita tidak pandai mensyukurinya  “Jika kamu pandai mensyukuri nikmatKu maka akan Aku tambahkan nikmat untukmu tetapi Jika  kamu tidak pandai bersyukur dan menyia-nyiakan  nikmatKu, maka azabKu sangat pedih"

Berdasarkan logika dari ayat diatas  bisa dikatakan, bahwa orang kaya bisa saja masuk kedalam surga karena hartanya dan juga bisa masuk kedalam neraka juga karena hartanya tergantung syukur atau tidak syukurnya dia. 

Orang kaya hartanya didapat dari jalan-jalan yang benar dan juga halal lalu hartanya itu tidak hanya untuk ditumpuk sampai tujuh turunan tetapi juga berfungsi social, dia bantu pembangunan masjid, memakmurkan majelis taklim, santuni anak yatim dan untuk kepentingan kebajikan lainnya, maka pantas jika orang kaya seperti itu dengan hartanya dia bisa masuk ke dalam surga

Dan sebaliknya orang kaya hartanya didapat dengan berbagai macam cara asal harta tercapai semuanya halal, perlu jilat atas jilat atas, perlu sikat kiri sikat kiri, perlu injak bawah injak bawah, perlu serong kanan, serong kanan dan setelah dapat harta lalu pelitnya pun tujuh belas setan, dia tidak mau zakat, infak, sedekah pokoknya semua tidak mau yang mau hanya sebatas untuk kepentingan pribadinya, maka orang kaya seperti itulah yang dengan hartanya dia bisa masuk kedalam neraka.


Begitu juga orang alim yang dia  bisa masuk ke dalam surga karena ilmunya dan juga bisa masuk ke dalam neraka juga karena ilmunya. Orang alim dengan ilmunya dia membimbing umat, dia katakan yang halal itu halal dan yang haram itu haram, yang hak itu adalah hak dan yang batil itu adalah batil dan dia tidak peduli apa pun resikonya mau di caci atau di benci orang atas dasar  yang dia katakan benar dia tetap istiqomah memperjuangkannya, pantaslah jika orang alim seperti itu dengan ilmunya dia bisa masuk ke dalam surga.

Tetapi jika ada orang alim dengan ilmunya ia membodoh - bodohi orang yang mungkin sudah bodoh yang halal dikatakan haram dan yang haram di kemas menjadi remang-remang dan menjadi penjilat kesana kemari maka  orang alim seperti inilah dengan ilmunya dia mendapatkan neraka.

Dan begitu juga Pemimpin, dia bisa masuk ke dalam surga karena jabatannya dan juga bisa masuk kedalam neraka juga karena jabatannya. Pemimpin jika dengan jabatannya dia berlaku adil menaunggi rakyat nya, jika orang besar salah dihukum dan orang kecil salah juga dihukum dan dia tidak hanya pandai menuntut kewajiban tetapi juga pandai memberikan hak, pemimpin yang semacam inilah yang dengan jabatannya  dia bisa meraih surga.

Tetapi jika ada pemimpin dengan jabatannya dia berlaku sewenang-wenang yang besar salah di di diamkan saja dan kalau yang kecil salah kalau perlu di pancung langsung, dan hanya pandai menuntut kewajiban dari rakyatnya tapi tidak pandai memberikan hak, maka pemimpin yang semacam inilah yang dengan jabatannya dia dapat mendapatkan neraka.

Oleh karena itu  pemimpin yang menaungi rakyatnya pantaslah jika di akhirat nanti  Allah yang akan langsung menaungginya, dan siapa pemimpin itu? yaitu tiap-tiap kita adalah pemimpin, bapak pemimpin dirumah tangga, ibu pemimpin bagi anak-anaknya, pak lurah memimpin di kelurahannya, pak camat memimpin di kecamatannya, pemuda memimpin bagi dirinya sendri, dan dimana itu semua  akan di mintai pertanggung jawabannya.

Pemuda yang memimpin dirinya sendiri yang nantinya akan di mintai pertanggung jawaban, tanganmu lebih banyak kamu gunakan buat apa, kakimu lebih bnyak kamu jalankan kemana, lidahmu lebih banyak membicarakan apa, dan dihari pertanggung jawaban nanti kita jangan berharapan  akan ada saksi dari luar yang akan membantu kita karena saksinya adalah anggota badan kita sendiri.

Di dalam kitab suci Allah telah jelaskan “Pada hari itu (Hari Pembalasan) kami kunci mulut mereka, tangan-tangan mereka yang akan berbicara kepada Kami, kaki mereka yang akan memberikan kesaksian terhadap apa yang telah mereka lakukan  didalam  kehidupan dunia ini”  Maka oleh karena itu kalau kita memimpin diri kita sendiri  berlakulah adil kepada diri kita sndiri. 

Ada tiga pokok yang kita harus berlaku adil yaitu :


1. Adil kepada Allah artinya kita lebih mendahulukan hak-hak Allah dari pada kepentingan pribadi contohnya shalat, kalau sudah masuk waktu shalat Ashar misalnya dan azan pun berkumandang wala sesibuk apapun kita hendaklah kita berhentilah dulu sebentar lalu shalat kita dan berarti adil kita kepda Allah, coba kita lihat bukankah dalam sehari semalam cuma ada lima waktu shalat yang diwajibkan oleh Allah dan shalat itu kalau shalat yang bisa kita standar waktunya cuma lima menit, jadi kalau hanya lima menit dalam sehari semalam jika di kalikan 5 x 5 = 25 jadi cuma hanya 25 menit yang diminta untuk menghadap Allah, kenapa banyak juga dari kita yang tidak bisa adil kepada Allah alangkah buruknya jika manusia seperti itu.

2. Adil kepada sesama mahkluk Allah contohnya adil kita kepada manusia, binatang, alam yang kalau kita langgar prinsip keadilan itu akan membawa efek bagi diri kita sendiri.

3. Adil kepada diri kita sendiri contohnya mata dimana mata itu punya hak untuk tidur, kalau kita bergadang terus-terusan tiap malam berarti kita tidak adil sama mata, oleh karena itu kalau kita  menjadi seorang pemimpin sekurang-kurangnya memimpin diri kta sendri hendaklah kita menjadi pemimpin yang adil agar nanti diakhirat kelak Allah akan langsung memberikan perlindungan kepada kita. Wallahu ‘Alam