Penyebab Lemah Iman

0
Source: Doc. Semua Tentang Agama Islam
Perkara iman merupakan hal terpenting dalam kehidupan seorang muslim, sebab keimananlah yang menjadi faktor penentu terhadap nasib seorang hamba baik di dunia maupun akhirat. Keimanan merupakan wasilah untuk memperoleh rahmat dari Allah Ta'ala berupa syurga, dan sebaliknya, murka Allah akan diberikan bagi hamba-hambanya yang tidak beriman.

Kadang kala keimanan di dalam dada  bisa menjadi surut. Sebenarnya hal ini sudah dimaklumi, karena ada banyak nash yang membahas perihal bertambah dan berkurangnya iman. Selain itu, tingkat-tingkat keimanan itu ada yang membagi menjadi level mukhlis, muttaqin, muhsin, mukmin, dan muslim. Semua ini menunjukkan bahwa level keimanan tidak berada dalam satu martabat. Ini menandakan bahwa iman bisa bertambah dan berkurang.

Mengenai bertambah dan berkurangnya keimanan, dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda, "Iman itu kadang naik kadang turun, maka perbaharuilah iman kalian dengan la ilaha illallah (HR. Ibn. Hibban)."

Jika direnungkan secara mendalam, setidaknya ada tiga faktor utama yang berpengaruh terhadap melemahnya keimanan, yaitu:

1. Minimnya Ilmu Pengetahuan
Ketika kaum muslimin telah mulai jauh dari ilmu dan tidak lagi mau menuntutnya, maka ia akan semakin jauh dari agama Allah Subhanahu wa Ta'ala. Ilmu akan membuat khutbah seseorang mulia, akan membuat seseorang takut kepada Allah 'Azza wa Jalla. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam Al Qur'an yang artinya.

"Sesungguhnya orang yang takut kepada Allah adalah orang-orang yang berilmu (para ulama). (QS Surat Fathir:28)."

Ilmu mengenal Allah akan melahirkan sifat takut kepada Allah. Sifat takut ini akan membawanya untuk meninggalkan larangan Allah dan istiqamah di atas agama Allah. Sementara kebodohan bisa menjerumuskan manusia kepada kesesatan dan kekafiran anpa ia sadari dan orang yang berilmu lebih ditakuti syaitan daripada seratus ahli ibadah.

2. Pengaruh Lingkungan
Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda, "Perumpamaan teman yang salih dengan teman yang buruk itu seperti penjual minyak wangi dan tukang pandai besi. Berteman dengan penjual minyak wangi akan membuatmu harum, karena kamu dapat membeli minyak wangi dahnya atau sekurang-kurangnya mencium bau wanginya. Sementara berteman dengan pandai besi akan membakar badan dan bajumu atau kamu hanya akan mendapatan bau yang tidak sedap (HR. Bukhari Muslim)."

Dalam hadits di atas, Rasulullah mengajarkan supaya kita tidak tersesat kepada situasi yang rusak di lingkungan kita. Lingkungan yang baik Inshaa Allah akan memberi pengaruh yang baik, dan sebaliknya lingkungan yang buruk bisa berakibat buruk jika tidak sanggup untuk melawan arus yang ada.

Kita harus memiliki keberanian untuk meninggalkan lingkungan yang membuat kita jauh dari Allah SWT. Dan pergilah sejauh mungkin dari lingkungan yang malah menjerumuskan kita kepada kemaksiatan, kemunafikan atau kekufuran.

Tidak perlu ragu keluar dari tempat kerja yang dipenuhi oleh perbuatan dosa yang tidak mampu kita lawan atau perbaiki. Dan tidak perlu takut kehilangan penghasilan, yakinlah sesungguhnya Allah SWT, Maha Penjamin Rezeki. Jika orang kafir saja Allah Ta'ala menjamin rezekinya, apalagi kita yang mengimani Allah SWT dan senantiasa berupaya menghindari kemaksiatan dan dosa.

3. Fakir
Mengutip perkataan Imam Al Ghazali yang menerangkan bahwa kefakiran mendekatkan untuk terjerumusnya ke dalam kekufuran. Al Munawi dalam Faidhul Qadir menuliskan, "Karena kefakiran (kemiskinan) menyebabkan orang untuk hasud kepada orang kaya. Sedangkan hasud akan memakan kebaikan. Juga karena kemiskinan mendorongnya untuk tunduk kepada mereka dengan sesuatu yang merusak kehormatannya dan membuat cacat agamanya, dan membuatnya tidak ridha kepada qadha (ketetapan Allah) dan membenci rizki. Yang demikian itu jika itu tidak menjadikannya kufur, maka itu mendorongnya ke sana. Karenanya, Rasulullah SAW dalam sebuah doa memohon perlindungan dari kefakiran dan kefakuran.

"Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu, dari kefakiran dan kekufuran serta adzab kubur (HR. Abu Dawud, Al Nasai, dan Ahmad)."

Namun demikian, kefakiran bukanlah sesuatu yang buruk dan tercela. Karena sesungguhnya kaya miskin merupakan ketentuan Allah. Dia melapangkan rizki kepada siapa yang dikehendakiNya. Begitu juga sebaliknya, menyempitkan rizki dan membatasinya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dia sengaja membuat perbedaan itu dengan hikmah yang Dia ketahui.

Untuk itu, umat Islam harus kuat secara ekonomi, dan menyalurkan zakat kepada setiap mustahiknya. Sehingga dengan demikian akan terjembatani antara orang kaya dan orang miskin, dan menghilangkan kesenjangan sosial antara keduanya.

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Sumber:
Tgk. H. Muhammad. 2017. "Penyebab Lemah Iman". Tabloid Gema Baiturrahman, 21 April 2017.
Tulisan ini saya kutip dari Tabloid Gema Baiturrahman yang pada waktu itu saya melaksanakan Shalat Jum'at di Masjid Raya Baiturrahman. Judul khutbah pada waktu itu terbilang menarik, karena berhubungan dengan penyebab melemahnya keimanan seseorang. Dan beberapa penyebabnya, kini dapat dengan mudah kita jumpai disekitar kita. Tidak perlu berpanjang lebar, berikut saya menulis ulang isi dari apa yang merupakan Khutbah Jum'at pada tanggal 21 April 2017 dengan Khatib Tgk. H. Muhammad, di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh.