Peran Orang Tua Bagi Pembentukan Karakter Anak

0
Source: netralitas.com

Psikologi anak sering disebut sebagai “The Fairytale Stage” (Dunia negri dongeng). Anak yang kreatif cenderung memiliki imajinasi yang tinggi sebagai bukti bahwa ia berkembang dan semakin menuju jenjang yang lebih positif. Anak-anak yang terhambat kreativitasnya berkaitan erat dengan perkembangan akalnya kedepan. Jika seorang anak kehilangan semangatnya bukan gak mungkin masa depan mereka akan suram kendatipun ia dilahirkan dengan berjuta bakat.

Setiap manusia memiliki usia emas atau yang kerap disebut dengan golden age. Masa keemasan adalah masa penting bagi anak yang tak bisa diulang kendatipun sekali saja. Banyak perbedaan para pakar mengenai rentang waktu golden age, diantaranya 0-8 tahun, 0-5 tahun, 0-3 tahun bahkan ada yang mempersempit hingga 0-2 tahun. Kendatipun demikian, tidak ada yang membantah bahwa awal-awal tahun pertama kehidupan pada anak adalah masa penting perkembangan mereka. Pada usia ini, anak dibekali kemampuan daya serap otak yang sangat tinggi. Apapun informasi yang diberikan akan berpengaruh penting bagi sang anak dikemudian hari.

Pada usia emas, seorang anak terkadang disebut sebagai mahkluk peniru paling hebat di Dunia. Bagaimana tidak, dalam hitungan menit ia mampu mengaplikasikan apa yang dilihatnya. Hal itu dapat dilihat dari anak-anak yang cenderung menjadikan kursi sebagai mobil-mobilan, ayahnya sebagai kuda-kudaan bahkan carabicara tokoh TV yang dilihatnya.

Di masa-masa inilah, orang tua berperan penting dalam mendokrak kecerdasan anak baik secara intelektual (IQ), emosional (EQ) dan spriritual (SQ). Usia tersebut merupakan waktu yang ideal bagi anak untuk mempelajari berbagai macam keterampilan, pembentukan karakter, serta  cara bersosial yang akan berpengaruh pada masa-masa kehidupan selanjutnya, dan memperoleh konsep-konsep dasar untuk memahami diri dan lingkungan sekitar.

Watak seorang anak khususnya diusia emas tak lepas dari problema keluarga yang dialaminya. Cara bicara misalnya, bahasa anak baik tutur maupun adap tak pernah terlepas dari dialog yang terjadi dalam lingkungan tersebut. Jika antara ayah dan ibunya sering terjadi perselisihan baik adu fisik maupun mulut hampir dipastikan sang anak akan depresi dan itu memberi dampak bagi anak yang tak jarang membentuk karakter kasar dan mudah menghina.

Titik baliknya, ternyata sang anak juga bisa menjadi cermin atas kebiasaan orang tua. Anak yang enggan beribadah tentu menjadi gambaran bahwa dalam keluarga tersebut kurang akan pengaplikasian spiritualnya. Anak yang mudah mengeluarkan kata-kata tak senonoh juga menjadi cermin bahwa keluarga tersebut memang sudah membudayakan yang demikian.

Agar masa keemasan ini termanfaatkan secara optimal, maka orangtua diharapkan dapat melakukan proses pengasuhan dan pendidikan dengan cara yang optimal pula. Selain kemampuan dan pengetahuan, orangtua juga memerlukan media pendukung untuk membantu proses tersebut.. Menyuruh anak membelikan rokok misalnya, sepele namun sangat berpengaruh besar. Kendatipun sang anak tidak mengkonsumsi, dengan melibatkannya adalah tahap awal sang anak mulai berfikir bahwa rokok adalah hal yang patut ditiru. Bagaimana caranya mencegah anak tak mengenal rokok jika orang tua sendiri yang justru melibatkannya..?

Sadar atau tidak, terkadang orang tua mengajarkan anaknya berlaku pelit. Hal itu dapat dilihat dari kecenderungan orang tua yang melarang atau membatasi sang anak agar fasilitasnya tidak dipinjam oleh temannya. “Nak, ini crayonmu jangan kasi orang lain ya,  nanti hilang kalau dipinjamkan.” Mendengar hal itu, tentu sang anak akan mulai berfikir bahwa ‘berbagi’ pada orang lain adalah sikap yang tidak boleh untuk dilakukan.

 

Tips untuk anak usia emas agar mengoptimalkan potensi akal mereka.

1.      Pengalaman alam terbuka

Anak kecil memiliki daya tangkap yang sangat peka. Biasanya mereka belajar banyak dari pengalaman yang mereka lihat. Orang tua bisa bercerita tentang alam (hewan atau tumbuhan)  apalagi bisa membawanya untuk melihat langsung itu semua. Jawablah pertanyaan mereka dengan bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti dan jangan abaikan pertanyaan mereka sebab itu berperan penting bagi rasa ingin tahu sang anak.

 

2.      Refleksi jati diri

Anak juga banyak belajar meniru dari prilaku orang-orang disekitarnya. Jika ia dominan bersama ibu, maka wataknya tak akan jauh beda dari cara sang ibu beradaptasi. Begitu juga jika ia berada pada lingkungan lainya. Oleh dari itu, tentu cerminan sikap-sikap teladan yang baik akan merangsang ahklaknya untuk berprilaku baik.

 

3.      Mengenal potensi

Tak jarang orang tua yang memberikan target buat sang anak. Tidak hanya memaksakannya untuk belajar siang malam bahkan harus mampu mencapai target kendatipun hatinya tidak bahagia. Hal yang seperti ini bisa membuat sang anak stres dan tertian. Ada baiknya untuk lebih menghargai usahanya dan berikan porsi yang layak antara belajar, main dan mengajinya.

 

4.      Puji dan buat mereka percaya diri

Seorang anak juga memilikisikap yang mudah kecil hati jika ia tertekan atau kalah. Sebaliknya, seorang anak akan merasa sangat bersemangat jika ia dipuji kendatipun pujian tersebut tak sesuai dengan apa yang dilakukannya. Berikan juga mereka penghargaan jikaberhasil menggapaiprestasi yang baik. Semua bisa menggedor nalar nya agar senantiasa berusaha untuk menjadi lebih baik.

 

5.      Mainan yang bermanfaat

Anak kecil tetaplah anak kecil. Mereka membutuhkan mainan atau fasilitas tertentu yang membuat mereka menjalani masa kecil dengan bahagia. Untuk dari itu, perhatian orang tua terhadap fasilitas sang anak sangat berperan besar. Carilah mainan yang membuat ia merasa senang namun bermanfaat seperti; mainan yang mengasah huruf dan angka dan masih banyak lagi. Janganlah terlalu pelit untuk tidak memenuhi keinginannya jika itu baik, sikap yang terlalu pelit pada sang anak biasanya dapat membentuk sang anak menjadi karakter yang panjang tangan. Jika tidak mempunyai kemampuan untuk memnuhi apa yang ia inginkan, maka carilah pengganti yang lebih terjangkau atau beri ia penjelasan agar sang anak mengerti dan terjaga.

 

6.      Perhatian dan kasih sayang

Perhatian dan kasih sayang adalah hal yang paling penting bagi kebahagiaan sang anak. Anak yang kurang kasih sayang biasanya akan menjadi karakter yang nakal dan suulit diatur. Ia akan melakukan hal-hal yang memngundang perhatian karena itulah yang ia inginkan. Perhatian dan kasih sayang yang cukup pada masa golden age akan menanamkan memori pada sang anak utnuk merasakan indahnya keluhuran budi pekerti. Dengan begitu bisa membuat sang anak senantiasa bahagia dan terjaga karakternya.