Perbedaan Poligami Masa Rasul dengan Lelaki Masa Kini

0
Source: dakwatuna.com

Poligami adalah diskursus yang selalu hadir dan menyita perhatian tiap-tiap kehidupan setiap zamannya. Ia sudah ada bahkan jauh sebelum Islam datang, hal itu dapat ditandai dari sejarah kerajaan diberbagai belahan dunia yang pada umumnya raja mereka memiliki istri utama dan selir yang lebih dari satu.

Setelah Islam datang, isu poligami lebih dikhususkan, yakni Islam membatasi para lelaki hanya boleh memiliki maksimal 4 istri. Adanya topik poligami dalam Islam menandakan bahwa agama syamawi ini adalah ajaran yang membahas segala aspek tata kehidupan manusia yang tidak ada pada ajaran lainnya.

Membahas persoalan poligami, masa kini kerap menimbulkan problema tersendiri. Poligami tidak hanya dilakukan oleh segelintir orang kaya semata melainkan juga turut digandrungi oleh para lelaki yang padahal secara finansial belum sanggup menafkahi banyak istri. Apakah yang nereka lakukan adalah apa yang rasul lakukan? Tentu saja tidak, ini perbedaan poligami zaman rasul dengan zaman sekarang.

Pertama,  Nabi poligami bukan Karena Nafsu. Sejarah telah mencatat bahwa realitas poligami nabi Muhammad disebabkan faktor kemaslahatan sosial yang saat itu mengharuskannya berpoligami. Jika memang nabi menikah karena nafsu, tidak sewajarnya nabi menikahi Siti Khadijah yang secara usia notabennya jauh diatas rasul. Nabi adalah lelaki yang tampan dan sehat, jika nabi mau pasti banyak wanita yang tertarik denganya masa itu.

Kedua,  Nabi poligami dengan wanita yang lebih tua dari Aisya. Semasa Khadijah masih hidup nabi tidak pernah menikah lagi. Hanya Siti Aisya yang merupakan istri nabi yang dinikahi lebih muda darinya dan dalam keadaan gadis. Selebihnya para istri nabi adalah wanita yang lebih tua dari Aisya. Lebih dari itu, wanita yang dinikahi nabi adalah para janda yang sudah kehilangan suami salah satuya karena peperangan. Berbeda dengan Zaman sekarang, kebanyakan orang melakukan poligami dengan wanita yang masih gadis (bukan janda) dan terindikasi yang lebih muda dari istri pertamanya.

Jadi, tidak cukup beralasan jika pihak tertentu zaman sekarang ini menjadikan alasan bawah poligami adalah sunnah nabi. Jika memang mereka mengikuti cara nabi berpoligami seharusnya mereka menikahi para janda yang lebih tua dari istrinya bukan menikahi mereka yang jauh lebih muda dan masih gadis. Intinya setatus berpoligami dalam Islam merupakan perkara diizinkan bersyarat bukan dianjurkan (sunnah).