Perjanjian Traktat Sumatera, Titik Awal Belanda Menyerang Kerajaan Aceh

0
Source: gurusejarah.com

Nino Bixio selaku partner perjuangan tokoh nasionalis Italia Giuseppe Garibaldi ternyata pernah menjadi seorang budak di kerajaan Aceh silam. Ia diperdagangkan dan bebas setelah dibeli oleh para kerabat dan saudagar Penang. Riwayat buruk tak menghalangi Nino untuk menjadi oknum penting yakni Senator Italia pada tahun 1869. Ia pula yang mengirim kapal Hindia Belanda yang berekspedisi salah satunya menuju ke Aceh.


Saat Nino seorang budak, Aceh merupakan sebuah kerajaan yang masih berdaulat serta memiliki relasi diplomatik dengan berbagai negara penting pada abad ke-19. Sebuah kapal perang belanda mendarat di pelabuhan Aceh. Kapal yang mengangkut kontrolir pemerintah dalam negeri E.R Krayenhoff tersebut datang sebagai perwakilan gubernur jendral Hindia Belanda. Adapun motif awal kedatangan Krayenhoff didasari akan peluang pulihnya persahabatan antara Belanda dan kerajaan Aceh yang saat itu dipimpin oleh Sultan Mahmud Syah.

 

Setelah berbulan kedatangannya, kemakmuran Aceh terancam khususnya setelah Inggris yang sebelumnya membiarkan Aceh berdaulat hendak melakukan perubahan di Sumantra. Sedengkan Belanda berimprovisasi untuk menjadikan daerah yang langsung berbatasan dengan Aceh tersebut sebagai aset ekonomi liberal pengganti sistem Tanaman Paksa yang telah dihapus sebelumnya.

 

Begitu maraknya persaingan ekonomi antar bangsa Eropa, akhirnya Inggris mengambil kebijakan agar Sumatra dan sekitarnya jatuh ke tangan penjajahan Belanda. Hal itu tak terlepas dari destinasi politik Inggris yang beranggapan bahwa Aceh lebih baik dibawah kekuasaan Belanda dari pada jauh ke tangan Amerika atau Perancis yang yang memiliki riwayat permusuhan hebat dengan negara beribukota London tersebut.

Belanda dan Inggris kemudian sepakat bekerjasama dengan pertukaran kawasan jajahan.  Inggris memperoleh Pantai Gading dari Belanda sementara Belanda memperoleh Aceh sebagai bentuk kompesasinya. Padahal pada perjanjian sebelumnya, nama Aceh tidak terkait dengan enpansi Inggris terhadap Sumatra yang menjadi aset pertukaran kekuasaan.


Pada 2 November 1871 pertukaran daerah jajahan Inggris-Belanda yang dikenal dengan Traktat Sumatra akhirnya menemukan titik temu, di dalamnya berisikan berbagai perjanjian yang salah satunya adalah kesediaan Inggris yang mengizinkan Belanda dalam perluasan wilayah ke seluruh Pulau Sumatra termasuk Aceh.


Traktat Sumatra merupakan awal mimpi buruk bagi kerajaan Aceh yang sebelumnya lebih kondusif kala Inggris menduduki Sumatra. Dua tahun berselang, pasukan militer Belanda mulai melakukan penyerangan ke Aceh yang di pimpin oleh Johan Harmen Rudolf Köhler sebagai panglima ekspedisi. Sengitnya perlawanan Aceh, Jendral Köhler menghembuskan nafas terakhirnya di perkarangan Mesjid Raya Baiturrahman. Tewasnya tokoh penting ekspedisi tersebut membuat Belanda semakin meningkatkan frekuensi penyerangannya terhadap Aceh.  

Gejolak perang Aceh-Belanda tercium oleh Nino Bixio yang secara literatur memiliki dendam kusumat terhadap Aceh. Dengan motif tersebut Ia mengirimkan bantuan berupa kapal pengangkut besar yang berbobot 1.500 ton, Maddaloni. Bantuan tersebut tentu sangat berpengaruh bagi armada tentara Belanda yang dapat meningkatkan quota penyerangan khususnya melalui jalur laut Aceh.