Pesawat Yang Ada di Lapangan Blang Padang Banda Aceh Bukan Hanya Sekedar Pajangan

0
Source: indoflyer.net

Bila Anda berkunjung ke Kota Banda Aceh, singgahlah di Lapangan Blang Padang Banda Aceh yang terletak di pusat kota. Lapangan yang terletak di Kp. Baru, Kecamatan Baiturrahman, Kota Banda Aceh ini paling digemari masyarakat Kota Banda Aceh.

Lapangan Blang Padang selain di gunakan warga sebagai tempat berwisata, olahraga, dan menikmati kuliner ini memiliki banyak nilai sejarah. Selain terdapat tugu peringatan tsunami, monumen Thank to The World, dan 53 monumen (prasasti) negara yang ikut membantu Aceh saat tsunami dan sebelum tsunami, di lapangan ini juga terdapat replika Pesawat Dakota RI-001 Seulawah.

Pesawat Dakota RI-001 Seulawah adalah pesawat angkut pertama Indonesia yang sangat berjasa dalam mewujudkan kemerdekaan negeri ini. Bukti kecintaan dan sikap patriotisme rakyat Aceh terhadap republik Indonesia.

pesawat ini diberi nama Seulawah atau gunung emas, merujuk pada nama gunung api di Aceh Besar ini, merupakan cikal bakal perusahaan berdirinya perusahaan penerbangan niaga pertama di nusantara, Indonesian Airways, yang sekarang dikenal dengan Garuda Indonesia.

Pesawat ini dibeli dari hasil sumbangan rakyat Aceh atas permintaan Soekarno yang datang khusus ke Aceh, medio Juni 1948. Dalam pertemuannya dengan Gubernur Militer, Abu Daud Beureueh di Hotel Aceh, samping Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Presiden RI pertama itu menangis, mengiba agar rakyat Aceh membantu dana pembelian pesawat.

Tujuannya untuk memperkuat pertahanan negara dan hubungan antar pulau, menembus blokade Belanda yang mulai menguasai sebagian besar nusantara menyusul agresi militer ke II Belanda. Pusat pemerintah Indonesia di Yogjakarta sendiri kala itu mulai dikuasai lagi Belanda.

“Saya tidak akan makan malam ini, kalau dana untuk itu tidak terkumpul,” kata Soekarno dalam pertemuan diselenggerakan Gabungan Saudagar Indonesia Daerah Aceh (GASIDA) itu.

Ketua GASIDA, Muhammad Djuned Yusus yang hadir dalam forum, langsung menyanggupinya. Bersama Said Muhammad Daud Alhabsyi, ia memimpin Dakota Found, panitia penggalangan dana. Para saudagar menyumbangkan uang dan emas. Sementara rakyat biasa ikut mengumpulkan hasil pertanian dan peternakannya untuk disumbang ke panitia. Alhasil dalam dua hari terkumpul dana setara 20 kilogram emas atau 130 ribu dolar Singapura.

Versi lain menyebutkan, saat itu Daud Beureueh yang iba dengan Soekarno langsung memerintahkan langsung Abu Mansor, sekretarisnya untuk mengumpulkan sumbangan.

Menurut Pemerhati Sejarah Aceh, Abdurrahman Kaoy, saat itu Abu Mansor datang ke Pasar Atjeh memungut sumbangan dari warga yang berada di pasar tradisional samping Masjid Baiturrahman itu. “Mereka dengan ikhlas memberikan perhiasan, emas, dan segala barang berharganya untuk disumbangkan,” ujarnya.

Sebelum kembali ke Pulau Jawa membawa sumbangan rakyat Aceh, dalam pertemuan akbar dengan rakyat Aceh di Lapangan Blang Padang, Soekarno berorasi mengajak rakyat Aceh membantu perjuangannya.

“Aku meminta kepadamu hai pemuda-pemuda, pemudi-pemudi, ulama-ulama, saudara-saudara, anak-anakku dari angkatan perang, segenap pegawai, segenap rakyat jelata yang berkumpul di sini, di seluruh daerah Aceh, marilah kita terus berjuang,” katanya.

Dalam kunjungannya ke Aceh, Soekarno juga berpesan khusus kepada Daud Beureueh yang ia panggil Kakak, agar mengajak rakyat Aceh membantu perjuangan mengusir Belanda yang masih bercokol di berbagai daerah di nusantara.

“Saya minta bantuan Kakak agar rakyat Aceh turut mengambil bagian dalam perjuangan bersenjata yang sekarang sedang berkobar antara Indonesia dan Belanda, untuk mempertahankan kemerdekaan yang telah kita proklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945.”

“Saudara Presiden! Kami rakyat Aceh dengan segala senang hati dapat memenuhi permintaan Presiden asal saja perang yang akan kami kobarkan itu berupa perang sabil atau perang fisabilillah, perang untuk menegakkan agama Allah sehingga kalau ada di antara kami yang terbunuh dalam perang itu maka berarti mati syahid,” jawab Daud Beureueh.

“Kakak! Memang yang saya maksudkan adalah perang yang seperti telah dikobarkan oleh pahlawan-pahlawan Aceh yang terkenal seperti Teungku Cik Di Tiro dan lain-lain, yaitu perang yang tidak kenal mundur, perang yang bersemboyan merdeka atau syahid,” timpal Soekarno.

Sekembali ke Pulau Jawa, sumbangan terkumpul dari Aceh dipakai untuk membeli pesawat jenis Dakota DC-3 melalui Singapura pada Oktober 1948, oleh perwira penerbangan Wiweko Soepono yang akhirnya menjadi Direktur Utama garuda. Diberi registrasi RI-001 Seulawah, inilah pesawat angkut pertama milik Indonesia dan cikal bakal berdirinya Indonesian Airwasy yang saat itu berkantor di Burma (Myanmar), karena sebagian besar wilayah nusantara masih dikuasai Belanda.

Memiliki panjang badan 19,66 meter dan rentang sayap 28,96 m, pesawat ini ditenagai dua mesin pratt & whitney berbobot 8,030 Kg. Mampu terbang dengan kecepatan maksimum 346 Km per jam.

   

credit image: s54.photobucket.com

Pada awal beroperasi, RI-001 Seulawah menjadi penghubung Jawa dan Sumatera, mengangkut obat-obatan dari Burma dan India dengan menembus blokade-blokade Belanda. Burung besi ini juga berperan menyelundupkan senjata, amunisi dan perangkat komunikasi dari Burma ke Aceh, untuk logistik perang melawan Belanda. Dengan perangkat radio yang diselundupkan pesawat ini, dari Aceh disiarkan kabar ke penjuru dunia bahwa “Indonesia masih ada”.

Agar tak terdeteksi musuh, penerbangan di lakukan malam hari. Pesawat biasanya mendarat di Lapangan Udara Lhok Nga atau Blang Bintang, Aceh Besar. Begitu mendapat konfirmasi pendaratan, para pemuda Aceh membakar daun kepala kering sebagai tanda bahwa lokasi siap menerima landing. Siang harinya, tubuh pesawat ditutupi dengan daun dan rerumputan agar tak terlihat dari pengintaian udara Belanda.

Pesawat hasil sumbangan barang-barang pribadi rakyat Aceh ini selain digunakan Soekarno melawat ke berbagai daerah dalam di Sumatera dan Jawa untuk mendapat dukungan kemerdekaan RI, juga dipakai dalam menjalin diplomasi demi terwujudnya Negara Kesatuan Republik Indonesia ke berbagai Negara. RI-001 Seulawah ikut mengangkut tokoh-tokoh bangsa ke luar negeri untuk menjalin hubungan international dalam memperoleh dukungan kemerdekaan.

Ketika agresi Belanda memanas, pesawat RI-001 Seulawah sempat dilarang kembali ke Indonesia dan tertahan di Burma. Tahun 1949, RI-001 Seulawah kemudian disewa (carter) oleh Pemerintah Myanmar, dijadikan pesawat angkut negara itu. Inilah kali pertama RI-001 Seulawah dikomersilkan. Myanmar saat itu sedang menghadapi gejolak pemberontakan dalam negeri. Pesawat ini ikut dipakai dalam menjalankan berbagai misi operasi militer di negara tersebut.

Untuk mengenang jasa rakyat Aceh lewat sumbangan pesawat ini dalam membantu mewujudkan Indonesia, dibangun sebuah monumen replika Dakota RI-001 Seulawah di Lapangan Blang Padang. Peresmian monumen ini ditandai dengan penandatanganan prasasti pada 29 Juli 1984 oleh Kepala Staf TNI Angkatan Udara Marsekal Sukardi dan Hadi Tajeb, Gubernur Aceh saat itu.

Pesawat Dakota RI-001 Seulawah yang sudah menjadi monumen kini menjadi salah satu situs wisata sejarah di Banda Aceh. Bukti cinta rakyat Aceh kepada Ibu Pertiwi yang tetap kokoh berdiri walau sempat diterjang tsunami Aceh 2004 silam.

Sumber: Loveaceh.com, Bandaacehtourism.com