Satu Lagi Pesona Aceh: Provinsi dengan 9 Bahasa Berbeda

0
Source: rri.co.id

Aceh memang suatu daerah yang memiliki ragam daya tarik yang tak habis-habisnya bila dikaji. Selain sebagai daerah model syariat di Nusantara, Aceh juga memiliki daya magis bila dilihat dari ragam bahasanya. Tercatat hingga saat ini, Aceh memiliki 9 bahasa berbeda dari setiap suku original daerah masing-masing, diantaranya:

Bahasa Aceh

Merupakan bahasa daerah yang mendominasi masyarakat yang tinggal di Aceh. Kurang lebih sekitar 75% masyarakat pada umumnya menjadikan bahasa Aceh sebagai media komunikasi sehari-hari. Kendatipun memiliki corak yang identik namun, sesama pengguna bahasa Aceh memiliki dialek yang berbeda seperti dialek Aceh Besar, Pidie, Aceh Utara, dan Aceh Selatan yang menjadi identitas tersendiri.

Bahasa Tamiang

Meskipun masih bagian dari daerah Aceh, bahasa yang digunakan masyarakat Aceh Tamiang sangat jauh berbeda dengan bahasa Aceh pada umumnya. Mereka memiliki variasi yang lebih condong ke arah bahasa Melayu dibanding bahasa Aceh. Adapun lokasi yang menggunakan bahasa Aceh di Tamiang adalah daerah Manyak Payed yang merupakan salah satu kecamatannya. Sementara daerah kota seperti Kuala Simpang dan sekitarnya menggunakan bahasa Indonesia sebagai media percakapan sehari-hari.

Bahasa Aneuk Jamee

Merupakan bahasa daerah yang berasal dari Aceh Selatan dan Aceh Barat Daya. Logat bahasa ini juga sering disebut sebagai bahasa Baiko sebab kebanyakan dari kosa kata yang ada didominasi oleh huruf ‘o’.

Bahasa Alas

Secara sekilas, bahasa salah satu penduduk Aceh yang satu ini memiliki kemiripan dengan bahasa suku Karo Sumatra Utara. Bahasa tersebut biasanya digunakan oleh masyarakat Aceh Singkil serta masyarakat sekitar Aceh Tenggara lainnya.

Bahasa Kluet

Merupakan media percakapan yang menjadi ragam bahasa di Aceh Selatan. Bahasa ini dikenal sebagai bahasa ibu bagi masyarakat Suku Kluet yang merupakan salah satu kecamatan dari Kabupaten Aceh yang beribukota Tapak Tuan tersebut.

Bahasa Haloban
Bahasa ini juga merupakan ragam komunikasi yang digunakan masyarakat di Pulau Tuanku dan Kepulauan Banyak, Aceh Singkil. Bahasa Haloban tergolong langka, bahkan pihak pemerintah setempat berupaya melestarikannya agar tidak hilang ditelan perkembangan zaman.

Bahasa Gayo

Tak jauh berbeda dengan namanya, bahasa daerah yang satu ini digunakan oleh masyarakat bersuku gayo yang biasanya mendiami daerah Aceh Tengah dan sekitarnya. Bahasa Gayo kian terkenal sejalan dengan eksisnya kesenian tari Gayo seperti Didong dan beberapa syair lainnya.

Bahasa Simeulue

Sama halnya seperti bahasa Gayo, bahasa Simeulue merupakan corak bahasa yang digunakan masyarakat Simeulue dengan perkiraan penggunanya sekitar 70.000 orang. Bahasa Simeulue memiliki dua corak dialek, yakni dialek Sigulai (Simeulue Barat) dan dialek Devayan (Simeulue Timur, dan Simeulue Tengah).

Bahasa Devayan

Bahasa daerah Aceh yang satu ini memang tergolong asing dan masih terbatas. Bahasa Devayan merupakan salah satu bahasa yang ada di Aceh Singkil. Popularitas bahasa tersebut masih kalah pamor dibandingkan eksistensi Bahasa Aceh dan Bahasa Aneuk Jame yang sering digunakan masyarakat sekitar.