Sejarah Bangkitnya Nasionalisme di Aceh

0
Source: statusaceh.net

Setelah Belanda berkuasa, bangsa Aceh gencar menyebarkan siar politiknya dengan mengadakan kerjasama dengan berbagai wilayah lain di Indonesia. Aceh juga aktif terlibat dalam beragam agenda politik dan gerakan nasionalis yang mulai menggema diberbagai plosok nusantara. Hal tersebut kian membumi setelah sistem parlemen yang saat itu disebut Volksraad dengan wakil terpilih Aceh yakni Teuku Nyak Arif. Nyak Arif kemudian dilantik sebagai gubernur resmi Aceh oleh  Mr. Teuku Muhammad Hasan selaku gubernur Sumatra pertama.

Ketika Jepang mulai gencar mengusir kolonialis Eropa dari Asia melalui jalur peperangan, tokoh pejuang Aceh tak menyiakan kesempatan tersebut dengan mengirim perwakilan ke pemimpin perang Jepang untuk membantu mengusir Belanda di bumi Serambi Mekkah. Singkat cerita dengan berbagai proses, usaha tokoh pejuang Aceh yang tidak memiliki power untuk berperang secara langsung melawan Belanda, berhasil mendatangkan tentara militer Jepang pada tanggal 9 Februari 1942 yang berlabuh di Ujong Batee. Alhasil, Belandapun melanda kekalahan dan terusir secara totalitas dari tamah rencong.

Mulanya, Jepang memiliki rasa hormat dan menghargai masyarakat terkhusus para pengemuka Aceh. Mereka juga meghormati perbedaan agama dan berikap toleran terhadap pelaksanaan adat dan budaya masyarakat. Rakyatpun tak dalam mendukung dan membantu berbagai program negara yang berjuluk matahari terbit tersebut.

Pada fase selanjutnya ketika suasana sudah mulai stabil, perlahan namun pasti Jepang mulai menunjukkan wajah aslinya. Berbagai pelecehan dan penindasan khususnya terhadap kaum perempuan. Puncaknya, para masyarakat Aceh mulai mendidih darahnya ketika masyarakat Aceh yang beragama Islam diperintah untuk membukuk kea rah matahari terbit kala pagi. Tentu ini merupakan bentuk pemaksaan aqidah yang jauh dari keyakinan umat muslim.

Sejak itu, rakyat Aceh mulai mencoba melakukan perlawanan, salah satu tokoh pahlawan Aceh yang gencar melawan Jepang adalah pasukan yang dipimpin oleh ulama sekitar Lhokseumawe, Teungku Abdul Jalil. Mengalami persamaan penderitaan sebagai daerah yang dijajah, jiwa nasionalisme Aceh kian bangkit dan melakukan beragam hubungan kerjasama dengan daerah-daerah lain yang ada di Indonesia.