Sejarah dan Makna Tari Didong Gayo

0
Source: lintasgayo.com

Salah satu tari kesenian rakyat Gayo yang amat terkenal adalah Didong. Kesenian yang satu ini bukan hanya sekedar unsur tari yang memiliki perpaduan vokal dan sastra semata, lebih dari itu Didong merupakan jantung peradaban Gayo sejak Zaman Reje Linge ke-13.

Didong sangat dinikmati oleh masyarakat Gayo, dalam berbagai agenda Didong kerap menjadi sajian pembuka terkhusus pada acara-acara resmi daerah. Didong berasal dari kata ‘din’ dan ‘dong’. ‘Din’ berarti Agama dan ‘dong’ berarti dakwah. Jadi didong dimaksud untuk penebaran dakwah keagamaan melalui kebijakan yang ada di daerah Gayo. Riwayat lain mengatakan; kata ‘didong’ mendekati pengertian kata ‘denang’ atau ‘donang’ yang bermakna ‘nyanyian sambil bekerja atau untuk menghibur hati atau bersama-sama dengan bunyi-bunyian’.

Sejarahnya, pada saat Reje Linge ke-13 memimpin, Didong merupakan media bagi penyebaran agama Islam melalui bait syair  sekitar tahun 1511 atau sekitar abad ke-16 M. Para seniman Didong yang disebut dengan ‘Ceh Didong’ tidak sekedar melantunkan syair dengan nilai keindahan semata, melainkan di dalamnya memuat nilai positif yang bertujuan supaya masyarakat yang mendengarnya dapat menjalani kehidupan sebagaimana yang telah diajarkan oleh Nabi dan tokoh ajaran Islam.

Berhubung pada Didong terdapat nilai keindahan, nilai kebersamaan, nilai spiritual dan budaya, para Ceh tidak hanya dituntut untuk pandai melantukan syair namun juga mampu memahami cerita religi yang nantinya akan disampaikan melalui seni yang diperankan. Dari dulu hingga sekarang Didong sering digelar pada acara-acara resmi dan hari-hari besar umat Islam.