Sejarah Pembantaian Belanda di Tanah Gayo

0
Source: tirto.id

Setelah terjalinnya Traktat Sumatera, melalui pertukaran wilayah jajahan dengan Patai Gading, Inggris melepas pulau Sumatera ke pangkuan Belanda. Dua tahun berselang, agresi militer Belanda mulai bergerak untuk menjadikan Aceh sebagai lahan jajahan baru. Aceh tentu saja tidak tinggal diam, perlawanan panjang dari tahun ke tahunpun mulai memasuki puncaknya pada tahun 1904.

Guna mengakhiri perang Aceh, mendekati abad ke-20 tersebut Belanda menangkap Cut Nyak Dien yang masih konsisten melakukan perlawanan secara bergerilya. Gubernur Jenderal Hindia Belanda saat itu, Yohannes Benedictus van Heutsz sangat bernafsu menguasai setiap jengkal dataran Aceh, sebab kiprahnya dalam upaya menjadi pemimpin kawasan Aceh selalu gagal.

Dalam misi penguasaan total Aceh, pasukan Belanda yang saat itu berpusat di Banda Aceh melakukan penyerangan mereka menuju Lhokseumawe sebagai titik akhir ekspansi. Sesampai di Bireuen, ratusan orang terpaksa berjalan kaki mengingat medan tak layak dilalui kendaraan apapun. Lintas pengunungan yang sulit merupakan rute satu-satunya mencapai dataran Gayo berkat lintas lokasi yang diperoleh dari penelitian  Snouck Hurgronje.

Perjalanan yang memakan waktu hingga 163 hari tersebut menunjukkan begitu ambisinya Belanda untuk memberantas potensi perlawanan Aceh hingga ke akar-akarnya. Memiliki pengalaman berperang di Aceh pada fase sebelumnya, Gotfried Coenraad Ernst van Daalen selaku Gubernur Jendral ditunjuk langsung sebagai pemimpin operasi militer tersebut.

Seusai melalui medan yang ekstrim, menghadapi perlawanan para gerilyawan yang pantang menyerah dari pihak Aceh, serta kebijakan logistik yang memakan anggaran besar, akhirnya pasukan pejalan kaki Belanda tiba di dataran Gayo.

Penaklukan akhirpun dimulai dengan langkah diplomatis awal berupa surat perintah terhadap raja-raja untuk menghadap van Daalen. Daalen menginginkan agar penguasa masyarakat Gayo saat itu menerima perjanjian kekalahan sebagaimana yang telah sukses diterima oleh pemimpin daerah Aceh lainnya guna menghindari pertumpahan darah.

Diluar dugaan, raja-raja gayo tidak memnuhi undangan diplomatis tersebut. Van Daalen akhirnya menunjukkan sosok aslinya dengan membantai satu demi satu perkampungan agar pemimpin rakyat Gayo keluar dari sarangnya. Kendatipun sadar akan perbedaan jauh kekuatan, masyarakat Gayo yang memiliki mental pantang menyerah hingga titik darah penghabisan berusaha melawan dengan berkumpul pada benteng-benteng dari bambu dan semak belukar untuk menahan serangan Belanda.  

Masyarakat Gayo saat itu, hampir seluruhnya menggunakan pakaian putih pertanda kesiapan mereka syahid dalam perang suci melawan kaum kafir. Kendatipun dengan senjata sederhana didorong motivasi memperoleh ridha ilahi, rakyat Gayo terus berjuang dan memilih mati dari pada menjadi tahanan.

Tercatat, akibat pembataian itu setidaknya satu desa saja menewaskan 313 pria, 189 orang wanita, dan 59 anak-anak. Selain di Gayo penyerangan tak berprikemanusiaan juga dilakukan di Alas, informasi yang didapat hampir 3.000 orang termasuk wanita dan anak-anak tewas dalam genosida tersebut.


Dari Aceh, ekspedisi Belanda berlanjut ke Sumatra Utara yang menandakan akhir perang Aceh dengan keberhasilan pihak Belanda menangkap Cut Nyak Dhien selaku spirit peperangan rakyat Aceh yang masih tersisa. Pejuang wanita Aceh tersebut kemudian diasingkan ke Sumedang, Jawa Barat hingga menjelang akhir hayatnya.

Kendatipun Cut Nyak Dien sudah tertangkap, perlawanan dan perjuangan rakyat Aceh tak kunjung pupus. Meskipun intensitasnya kecil, perlawanan masih saja hadir hingga Belanda takluk pada kedatangan Jepang pada tahun 1942.