Si Mata Biru Dari Aceh

0
Source: Boombastis.com

Aceh merupakan daerah atau provinsi yang berada paling barat dan menjadi titik awal dari batas wilayah Indonesia. Kebanyakan orang luar daerah jika ditanya tentang Aceh, pasti akan menjawab bahwa daerah ini sering terjadi konflik dan sangat parah dilanda bencana Tsunami tahun 2004. Jawaban seperti itu pasti sangat sering kita dengar untuk daerah dijuluki sebagai Serambi Mekkah atau Tanah Rencong ini bukan? Akan tetapi tidak banyak yang mengetahui keunikan serta keragaman yang ada pada budaya dan masyarakat Aceh. Salah satu keunikan dari keragaman Aceh yaitu adanya masyarakat yang memiliki kornea mata berwarna biru (mata biru) serta warna rambut pirang.

Masyarakat Aceh yang memiliki kornea berwarna biru (mata biru) dan rambut pirang tersebut biasanya dikenal oleh masyarakat Aceh sendiri dengan istilah Bulek Lamno atau Si Mata Biru. Penyebutan istilah tersebut dikarenakan daerah mereka yang berasal dari Lamno, Kabupaten Aceh Jaya. Meskipun mereka berasal dari Lamno, namun masyarakat sekitar lebih dominan memiliki ciri-ciri bermata coklat gelap atau hitam serta rambut yang berwarna hitam, namun mengapa Si Mata Biru berbeda? Hal ini dikarenakan mereka memiliki keturunan darah dari Eropa dan lebih tepatnya orang Portugis yang pernah berada di Aceh yang selanjutnya dikenal dengan Si Mata Biru atau Bulek Lamno.

Sejarah Singkat Si Mata Biru Aceh

Asal mula Si Mata Biru berdasarkan cerita dari masyarakat dikatakan berawal dari masuknya Portugis ke Nusantara. Ada dua versi kisah mengenai Portugis di Aceh khususnya di daerah Lamno, Aceh Jaya. Satu versi mengatakan bahwa mereka masuk melalui jalur perdagangan, sedangkan versi kedua dikatakan mereka masuk melalui jalur pelayaran.

Kisah versi pertama dikatakan Purtugis masuk ke Selat Malaka kemudian ke Aceh pada abad ke-16, untuk mencari rempah-rempah. Mereka yang melakukan perdagangan rempah-rempah di Selat Malaka memilih Aceh untuk dijadikan tempat tinggal. Para pedagang dari Portugis ini kemudian dikatakan ada yang menikahi wanita sekitar dan akhirnya menetap yang selanjutnya sampai turun temurun. Hasil perkawinan antara orang Portugis yang identik dengan mata biru dengan penduduk setempat yang identik dengan mata coklat gelap menghasilkan keturunan ada yang bermata biru dan biru kecoklatan. Itulah versi pertama mengenai asal mula Si Mata Biru di Aceh.

Versi kedua asal mula Si Mata Biru berbeda dengan versi pertama. Jika versi pertama dikatakan Si Mata Biru keturunan dari orang Portugis yang melakukan perdagangan rempah-rempah di Selat Malaka. Akan tetapi pada versi ini dikatakan bahwa Si Mata Biru berawal dari adanya kapal perang Portugis yang terdampar di Wilayah Kesultanan Daya (Aceh). Mengetahui adanya kapal asing yang karam, Sultan Daya kemudian menangkapi para awak kapal yang masih hidup. Mereka yang diselamatkan oleh sultan kemudian diberikan pilihan, jika ingin ditolong maka mereka harus memeluk dan masuk Agama Islam. Akan tetapi apabila mereka menolak, Sultan mempersilahkan dan membiarkan mereka kembali ke laut. Para awak kapal yang setuju untuk tetap tinggal di Kesultanan Daya (Aceh) memilih memeluk Islam. Mereka kemudian menikahi wanita dari penduduk setempat untuk dijadikan istri. Hal inilah yang kemudian menjadi awal adanya Si Mata Biru yang merupakan keturunan dari mereka. 

Kedua versi di atas adalah sejarah singkat awal mula adanya keturunan Si Mata Biru di Aceh. Kisah dari kedua versi tersebut berdasarkan inforamsi dari cerita masyarakat setempat yang tinggal di Provinsi Aceh, khususnya daerah Lamno, Kabupaten Aceh Jaya.

Keberadaan Si Mata Biru

Lamno merupakan salah satu kecamatan yang berada di Kabupaten Aceh Jaya yang menjadi tempat tinggal atau pemukiman keturunan Si Mata Biru. Di kecamatan ini pada mulanya masyarakat yang ada notabene memiliki mata coklat gelap dan warna rambut hitam. Akan tetapi sejak peristiwa sejarah seperti yang telah diceritakan di atas, daerah ini kini sebagian besar penduduknya adalah keturunan Si Mata Biru terutama sebelum Tsunami 2004 melanda. 

Keberadaan dari keturunan Si Mata Biru sebelum Tsunami banyak menempati di beberapa wilayah di Kecamatan Lamno yang daerahnya tidak jauh dari kawasan pesisir. Mereka tinggal di daerah seperti di Lambeso, Kuala Daya, Ujong Muloh, Gle Jong, dan Teumarem. Semua daerah gampong (desa) yang mereka tempati berada dan berhadapan langsung dengan Samudera Hindia.

Ketika peristiwa Tsunami tahun 2004, keberadaan dari keturunan Si Mata Biru berlahan berkurang. Hal ini disebabkan pada saat peristiwa tersebut, pemukiman mereka menjadi salah satu daerah yang terparah dilanda Tsunami. Oleh karena itu saat ini keberadaan mereka sangat susah untuk dapat dijumpai lagi. Keturunan Si Mata Biru yang selamat dari Tsunami lebih banyak memilih untuk pindah ke kota atau kabupaten lain yang ada di Aceh. Meskipun mereka keturunan Si Mata Biru, tetapi saat ini mereka sudah menjadi penduduk asli dari Kerajaan Daya yang ada sampai sekarang.

Demikianlah sejarah singkat keberadaan dari keturunan Si Mata Biru di daerah Kecamatan Lamno, Aceh Jaya. Apabila kawan-kawan penasaran dengan keberadaan mereka, mungkin saat ini memang sangat susah dijumpai namun apabila beruntung dapat dijumpai di kawasan kecamatan tersebut.