Siapa yang Rugi bila Garam Tradisional Aceh Haram?

0
Source: gomuslim.co.id

Baru-baru ini, negri Serambi Mekkah dihebohkan dengan pernyataan salah satu pengemuka lembaga keagamaan di Aceh yang menyatakan ke media bahwa sebagian besar garam di Aceh najis dan diragukan kehalalannya. Opini tersebut tentu mendapat tanggapan bahkan kecaman dari berbagai pihak mengingat hampir seluruh masyarakat Aceh terlibat dengan produksi atau pengkonsumsi garam.

Terlepas dari apakah pernyataan fenomenal tersebut terbukti benar secara klinis atau tidak, tetap saja akan ada beberapa pihak yang berpotensi dirugikan, diantaranya:

1. Petani Garam Aceh

Merupakan segelintir oknum yang paling dirugikan atas menyebar luasnya opini bahwa garam produksi Aceh najis. Sejauh ini, perekenomian para petani garam secara finansial masih jauh dari angka 'kesejahteraan'. Tentu saja dengan adanya klaim haramnya garam Aceh akan menjadi pukulan telak bagi mereka. Masyarakat, terlepas dari apakah mereka mempercayai atau tidak, demi mencari aman, biasanya akan lebih memilih garam produksi nasional sebagai alternatif. Dengan demikian, tentu permintaan garam tradisional akan anjlok dan lambat laut akan mempengaruhi pemasukan para petani.

2. Toke Garam

Toke garam atau yang juga dikenal sebagai pedagang pengumpul adalah mereka para agen yang menampung produksi garam tradisional untuk dipasarkan. Dengan adanya isu kenajisan garam mereka pasti akan berfikir ulang untuk kembali memborong hasil panen para petani. Kendatipun tak separah yang dialami para petani, tetap saja hal tersebut berdampak pada stabilitas keuangan yang sudah diprediksi sebelumnya.

3. Pedagang Garam

Sebagai salah satu bahan penting dalam kuliner, tentu garam menjadi salah satu aset yang menarik untuk diperjual belikan. Ditambah lagi harganya yang relatif lebih terjangkau dibanding garam nasional tentu akan mempermudah penualan para pedagang. Lagi-lagi, dengan adanya isu 'garam najis', akan merugikan para pedagang yang mungkin telah membeli apalagi yang sudah mempasok garam tradisional dalam jumlah besar.

4. Masyarakat

Sebagai konsumen pengguna garam tradisional, tentu pada umumnya akan hijrah agar terhindar dari unsur najis yang tengah mewabah informasinya di media. Sebab, perkara makanan (halal-haram) merupakan term sensitif yang tidak sembarang orang akan menyepelekannya. Dengan hijrahnya penggunaan garam, walaupun tidak terlalu signifikan, tentu akan berdampak pada bertambahnya pengeluaran.