Syekh Bahauddin Tawar Tokoh Panutan Masyarakat Aceh Singkil Dan Subulussalam

0
Source: PB FAPDAMIN TANAH MERAH

Kerap kali Aceh singkil diibratkan, disebut dengan nama Buaya mungkin karena perairan Aceh singkil sering ditemukan hewan pemangsa tersebut dibumbui dengan cerita-cerita rakyat konon dahulu masyarakat Aceh Singkil ini berkawan, sahabat kemungkinan tidak akan memakan masyarakat yang bermarga Lembong. Selain itu, di tahun 2016 Aceh singkil dikenal dengan kabupaten yang tidak memiliki toleransi sesama umat beragama. Terlihat dari peristiwa pembakaran beberapa Gereja serta umbul-umbul (tempat ibadah non muslim) oleh umat muslim. Hal ini Aceh Singkil menempati halaman pertama dibeberapa media cetak dan medialainnya. Peristiwa ini, menjadi rujukan seluruh masyarakat untuk mengintimidasi Aceh Singkil. Aceh singkil tidak dikenal dengan itu, mereka melihat Singkil secara kasat mata saja tidak mengenal, dan bahkan tidak benar-benar ada pengetahuan mengenai bagaimana sebenarnya daerah Aceh Singkil ini.

Aceh singkil tempat beberapa Ulama Kharismatik mendidik, melahirkan kader-kader islam. Satu diantara beberapa ulama kharismatik yang ada di Aceh Singkil yaitu Syekh Al Fadil Haji Bahauddin Tawar Al Yaqin pendiri pesantren yang paling berpengaruh pada masrakat Aceh Singkil, Subulussalam bahkan disumatera utara. Banyak melahirkan alumni yang tidak hanya berbakat dan berpotensi dibidang agama dan ibadah. Beberapa alumni juga berkecimpung di dunia pemerintahan. Alumni tanah merah tersebar diberbagai pelosok negeri selain berceramah menjadi Da’i dan Da’iyah, ada juga melanjutkan studi didalam negeri ataupun diluar dengan bermodalkan ilmu yang dituntut di ponpes Tanah Merah. Terbentuknya cabang madrasah dan pesantren  yang tersebar Di Kab Aceh Singkil dan Pemerintahan Kota Subulussalam pimpinannya iyalah  Alumni-alumni Tanah Merah.

Pesantren Darulmuta’allimin adalah pesantren tertua yang ada di Aceh Singkil, Subulussalam. Tepatnya didesa Tanah Merah kecamatan Gunung Meriah Kab Aceh Singkil yang dibangun melalui buah cita-cita perjuangan ulama Syekh Al Fadil Haji Bahauddin Tawar Al Yaqin.   

Syekh Al Fadil Haji Bahauddin Tawar Al Yaqin atau Abuya tanah merah (nama penomenalnya di Aceh Singkil dan Subulussalam) lahir tanggal 05 februari 1937 Seping dan menutup usia pada kamis, 03 April 2008 tepatnya 26 Rabi’ul Awal 1429 H pagi 08.30 WIB. Salah satu ulama kharismatik anak bungsu dari tujuh bersaudara dari pasangan Tuan Muhammad Tawar dan Bunda Andak. Abuya menempuh pendidikan umum Sekolah Rakyat Desa Pemuka Aceh Singkil dan melanjutkan studinya Ke Aceh Selatan yang dibina ulama besar Indonesia Syekh Tengku Muda Waly Rahmatullah ‘Alaih Pondok pesantren Darussalam Labuhan Haji dan Abuya Tanah merah ini juga sempat menjajaki pendidikannya di Sumatera Barat Malolo Padang Panjang ditahun 1954-1955.

Perjalanan beliau kala itu, Mencari ilmu pengetahuan di era 90an sulit dan juga berbahaya sering kali mereka harus berlari, bersembunyi menghindari pesawat tempur Jepang atau Belanda yang melintas diatas mereka dan mereka harus menghadapi tentara penjajah. Tidak semudah diera 2000an sampai sekarang. Selain mudahnya memperoleh ilmu, tidak harus menduduki pendidikan formal, namun pendidikan bisa didapat secara informal dengan dukungan teknologi anda bisa memanfaatkannya sesuai selera dan keinginan belajar secara otodidak (mandiri tanpa bantuan pengajar).

Sabaruddin dalam bukunya Mengenang Perjuangan Abuya Tanah Merah  sebagai istri Abuya Tanah Merah Ummi Hj. Siti Khadijah mengatakan “ Beliau seorang ahli ibadah, shalat tahajjud dan tasbih tidak pernah beliau tinggalkan kecuali ketika sedang sakit parah. Bila ada yang berselisih beliau sering dijadikan penengah. Kesibukan beliau sehari-hari hanyalah mengajar, berceramah dan mengontrol pesantren.” Syeikh Tengku Haji Zamzami Syam Rahmatullah ‘Alaih pimpinan Pesantren Darul Hasanah kilangan Singkil “Abuya adalah sosok ulama yang sufi dan sederhana, tidak suka berdebat, lemah lembut dan menyayangi ummat. Karena sifat yang demikian itulah maka santri dan pengikut amaliyah suluknya banyak.”

Akhlak dan kepribadian Abuya Tanah Merah selain sangat mencintai guru-gurunya, menghormati dan menjaga silaturahmi dengan rekan-rekan beliau, tidak membungkuk dan tidak pula berkacak pinggang, mencintai umat dan menghargai santri-santri senior seperti unggkapan Qaharuddin Kombih pimpinan Pondok pesantren Hidayatullah di Subulussalam sekaligus ketua MPU Kota subulussalam  yang tertulis dalam Mengenang Perjuangan Abuya Tanah Merah mengakui bahwa ketika menjadi santri senior di Pesantren Darulmuta’allimin Tanah merah, Qaharuddin senantiasa dipanggil dengan panggilan Tengku Qaharuddin Belukur.

Alumni Tanah Merah Antusias mengingat, mengenang perjuangan-perjuangan, sang tokoh agar selalu ada dibenak para santri dimanapun berada. Komunitas dibangun, terbentuk melalui kesepakatan-kesepakatan alumni diluar Aceh Singkil mahasiswa yang berada di Medan dan Banda membentuk komunitasnya sendiri IKA-PDM Medan Dan IKA-PDM Banda (Ikatan Alumni  Pesantren Darulmuta’allimin) Ali Akbar mahasiswa hukum di fakultas syari’ah Sebagai ketua IKA-PDM Banda mengatakan “ terbentuknya IKA-PDM Banda selain untuk mengayomi, merangkul dan memper erat hubungan silaturahmi sesama alumni  juga  untuk meningkatkan dan mengembangkan amanah dan ilmu Allahuyarham Abuya Tanah Merah.”