Tips Agar Anak Tidak Nakal

0
Source: bisamandiri.com

Anak merupakan anugrah Tuhan yang maha esa yang tidak ternilai harganya. Anak sebagai amanah Tuhan merupakan pelengkap keluarga yang diidamkan dan diharapkan sehingga hampir seluruh kasih sayang dicurahkan untuknya. Anak terlahir seperti kertas putih yang bersih tanpa noda dan dosa. Tahapan selanjutnya adalah tanggung jawab orang tua dalam mendidik dan membawanya menjadi anak yang baik atau sebaliknya.

Anak nakal merupakan masalah yang tidak asing lagi dalam kehidupan berkeluarga dan sosial. Sikap dan prilaku anak dalam kehidupan sehari-hari sering menjadi indikator sebuah keluarga dinyatakan berhasil atau tidak dalam membangun keharmonisan rumah tangga, sebab anak adalah cerminan dari orang tuanya sebagai mana pepatah mengatakan; ‘Air cucuran atap jatuhnya kepelimbahan’ yang bermakna ‘Sikap orang tua akan diturunkan pada anaknya’.

Adapun beberapa tips mendidik anak agar tidak nakal diantaranya;

1. Memberikan kasih sayang yang cukup

                Faktor yang krusial dalam mendidik anak adalah implementasi orangtua dalam memenuhi kasih sayang untuk anaknya. Anak yang kurang kasih sayang secara naluriah akan menjadikannya hiperaktif dan nakal. Sejatinya ia nakal bukan karena keinginannya melainkan bentuk dalam pemberontakan dalam dirinya akan hausnya cinta dan kasih sayang yang tidak ia dapatkan. Kita bisa menganalisa sendiri, sejarah telah membuktikan bahwa hampir semua anak yatim misalnya. Mereka sering bersikap hiper aktif karena hanya mengenyam kasih sayang dari ibu. Padahal peran ayah sangat penting dalam memenuhi keseluruhan kasih sayang untuk kebaikan sang anak.

2. Terlalu memanjakan anak

                Sudah sewajarnya seorang anak mendapat perhatian khusus dari orangtuanya. Memanjakan anak merupakan sesuatu yang secara naluriah adalah sebuah kewajaran mengingat sang anak adalah oknum penting dalam kehidupan orantua. Akan tetapi, berlebihan dalam memanjakan anak juga tidak baik untuk anak dan keluarga. Anak yang terlalu manja akan merasa dirinya bagaikan ‘raja’ yang harus mendapatkan apapun yang diminta dan diinginkan saat itu juga. Karakter demikian akan mendorong anak untuk berprilaku nakal terutama ketika sang anak berinteraksi dengan anak-anak lainnya. Orangtua yang bijak dituntut untuk tidak terlalu memanjakan anak bila ia ingin sang buah hati menjadi sosok yang baik dan rendah hati.

3. Komunikatif dengan anak

                Anak membutuhkan wadah untuk berbicara dan bertukar fikiran. Dalam hal ini, orangtua adalah sosok pertama yang menjadi partner bicaranya. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, anak terlahir bersih tanpa noda. Ia juga terlahir dalam keadaan polos dan belum mengetahui dan mengenal banyak hal. Sudah sewajarnya apabila ia melakukan sesuatu kesalahan yang ia tidak mengetahui jika itu akan membuatnya dianggap nakal. Jadi, orangtua harus interaktif dan gemar berbicara dengan sang anak. Mengajarinya dalam setiap keadaan dan mengontrol setiap aktivitas sang anak.

4. Memberikan pendidikan

                Pendidikan merupakan aspek vital dalam membentuk tingkah dan prilaku anak. Sebelum mengenyam pendidikan formal, pendidikan anak hampir secara keseluruhan ia peroleh dari orangtuanya. Oleh sebab itu, orangtua diharapkan menjadi pengantar pendidikan yang baik untuk sang anak. Pendidikan tersebut bukan hanya dalam bentuk teori, melainkan juga peraktik sehari-hari yang dapat disaksikan langsung oleh sang anak. Hal ini tentu menjadi tantangan bagi sebuah keluarga, karena bagaimana sang anak ingin berprilaku baik jika prilaku keluarganya mencerminkan nilai-nilai yang negatif. Jadi orangtua adalah ‘the first of education’ anak.

5 Hadiah dan hukuman

                Hadiah dan hukuman merupakan salah satu metode yang dinilai aktif bagi pembentukan prilaku anak. Setelah anak diajarkan tentang perbedaan sikap baik dan buruk, maka tidak ada salahnya jika memberikannya hadiah jika berlaku baik dan memberikannya hukuman jika bersikap nakal. Hal ini bukan bermaksud mengajari anak untuk berbuat dengan pamrih, akan tetapi anak-anak membutuhkan dorongan dan motivasi mengapa mereka harus bersikap baik di umur yang mereka belum mengenal betul  bahwa berbuat baik merupakan aspek spiritual. Hadiah disini tentu ada kadarnya, dan pantas untuk ukuran anak-anak. Begitu juga dengan hukuman, harus dikondisikan dan jangan sampai menjadi pemicu kekerasan dalam rumah tangga. Hukuman tidak harus sebuah kontak fisik, namun bisa berbentuk edukasi yang lain. Misal, jika anak melakukan kesalahan maka hukumannya ia harus menghafal beberapa ayat Al-Qur’an.