Urgensi Perempuan Menurut Zakir Naik

0
Source:

    Dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, manusia menjadi cenderung mengandalkan daya pikirnya secara mutlak. Padahal untuk menjawab ataupun mengantisipasi tantangan seperti tersebut di atas tidak cukup hanya dengan mengandalkan daya pikir, tanpa dilandasi nilai agama sebagai kualitas spritual. Kekhawatiran kita adalah akan semakin mewabah para pemikir yang hanya mengandalkan dan menggunakan kekuatan daya pikirnya saja, sebab dengan begitu pemikiran mereka akan bersifat sekularitis (pemisahan antara hal yang menyangkut agama dengan non agama).[1] Begitu juga dalam konteks perempuan, Islam atau tepatnya kaum muslimin dihadapkan dengan zaman multi dimensi dimana kebanyakan penemuan sains dan tehnologi seakan lebih mengarah kepada hal yang mempermudah maksiat bukan sebaliknya.

Amin Abdullah menyatakan: Agama lebih-lebih teologi tidak lagi terbatas hanya sekedar menerangkan hubungan antara manusia dan Tuhan-Nya tetapi secara tidak terelakkan juga melibatkan kesadaran berkelompok (sosiologis), kesadaran pencarian asal usul agama (antropologis), pemenuhan kebutuhan untuk membentuk kepribadian yang kuat dan ketenangan jiwa (psikologis) bahkan ajaran agama tertentu dapat diteliti sejauh mana keterkaitan ajaran etikanya dengan corak pandangan hidup yang memberi dorongan yang kuat untuk memperoleh derajat kesejahteraan hidup yang optimal (ekonomi).[2] Jadi Islam bukan hanya membahas tuhid dan fiqh semata, melainkan banyak aspek yang membimbing manusia menjadi mahkluk yang terbaik dari mahkluk lainnya, salah satunya Islam menjelaskan pentingnya perempuan dalam bersosial, ekonomi, dan pendidikan.

 

1.      Sosial

Perdebatan, pada posisi perempuan dalam spektrum sosial, telah berlangsung sejak berabad-abad, namun akhir-akhir ini, posisi perempuan dalam aspek sosial lebih menghawatirkan.  Alasan atau motivasi sosial yang melatari wanita untuk eksis umumnya adalah hasrat untuk ikut serta dalam lingkungan bersosial yang aktif. Naluriah wanita cenderung ingin berada di lingkungan sekitarnya yang dapat membuatnya mengikuti apa yang dilakukan oleh warga sekitar.

Apabila seorang wanita bergaul dengan ibu-ibu pengajian, maka kemungkinan besar ia akan menjadi wanita pengajian, apa bila ia bergaul dengan wanita karir, tidak menutup kemungkinan wanita tersebut akan ikut menuai karir juga. Wanita kerap berhasrat memiliki status sosial yang tinggi, yang salah satu pencapaiannya adalah dengan berkarir. Wanita yang aktif dalam kehidupannya akan merasa kurang jika ia tidak melakukan kerjaan dan memiliki profesi atau skill tertentu.

Terkait tentang aspek kehidupan bersosial wanita, Zakir Naik mengkatagorikannya kedalam beberapa bagian, yaitu perempuan sebagai seorang istri, ibu, anak, dan adik atau kakak.

Sebagai seorang istri, peran sosial wanita sangat krusial dalam meningkatkan nilai keluarga dimata masyarakat. jika seorang wanita sholeha menikahi seorang pria, dia mencegahnya untuk melewati jalur yang salah dan mempertahankannya di jalan yang benar. Wanita juga dinilai sebagai penjaga kehormatan dan harga diri keluarga. Ketika seorang suami meninggalkan rumah maka istri yang amanah akan memagari dirinya dari kemasiatan dan fitnah sehingga nama baik keluarga dalam bersosial tetap baik dan tak ternoda.[3]

Wanita mempunyai peranan yang amat besar dalam mewujudkan keharmonian dan kebahagiaan dalam rumah tangga selaku ruang lingkup sosial terkecil dalam masyarakat. Mereka boleh mewarnai rumah tangga sehingga menjadi seindah surga. Suami dan istri adalah sepasang makhluk manusia yang atas dasar cinta kasih suci mengikat diri dalam jalinan pernikahan. Keduanya saling melengkapi dan saling membutuhkan. [4]

Dalam kehidupan bermasyarakat, banyak hal yang menjadi hak dan kewajiban setiap anggotanya. Hak dan kewajiban itu harus dijunjung tinggi oleh setiap anggota dalam kegiatan dan kehidupan sehari-hari. Al-Qur’an sebagai rujukan prinsip dasar masyarakat Islam menunjukkan bahwa pria dan wanita diciptakan dan satu nafs (living entity), di mana yang satu tidak memiliki keunggulan terhadap yang lain dan mempunyai hak dan kewajiban sama.[5]

Pada umumnya, wanita adalah bagian dari masyarakat. Peranan dan tanggung jawab wanita dalam pembentukan masyarakat sangat penting dan bermakna sekali. Oleh karena itu, wanita perlu memahami tentang kadudukan, peranan dan hak mereka yang ditentukan oleh syari’at Islam. Peranan utama wanita bermula sebagai anak perempuan, istri, ibu, anggota masyarakat dan pemimpin.[6]

 

2.      Ekonomi

  Aspek ekonomi termasuk salah satu dari sekian banyak faktor yang memotivasi wanita untuk berkarir. Kebutuhan finansial keluarga yang belum menemukan kesejahteraan ekonomi oleh seorang suami akan secara alami mendesak seorang wanita yang menjadi istri untuk ikut membantu suami yakni bekerja mencari nafkah untuk keluarganya. Selain itu, perempuan yang merasa membutuhkan keperluan tambahan akan sangat berminat untuk menyelami dunia karir agar kebutuhannya dapat tercapai dengan mudah. Wanita merasa sanggup dan perlu untuk memenuhi kebutuhannya sendiri tanpa harus selalu bergantung kepada orangtua ataupun suami. Terkadang wanita memilih bekerja agar ia tidak sungkan dalam membeli kebutuhannya yang mungkin saja sesuatu yang tidak penting dimata suami.

Dalam perekonomian, menurut Zakir Naik, wanita tidak wajib mencari nafkah, namun wanita memiliki pilihan untuk membantu suami jika perekonomian keluarga lemah atau mebutuhkan perekonomian yang lebih tinggi. Namun, seorang wanita dalam Islam, jika dia ingin bekerja dia bisa bekerja. Tidak ada teks dalam Al-Qur'an atau hadis asli yang mencegah atau membuatnya dilarang untuk melakukan pekerjaan apapun, asalkan tidak melanggar hukum, selama itu dalam pratinjau Syariah Islam dan selama ia tetap mengenakan busana Islami.[7]

Suami tidak bisa memaksakan istrinya untuk bekerja, istri terlibat bekerja dari kehendak bebas (mutlak) nya sendiri. Adapun profesi yang dianjurkan Zakir Naik, wanita bisa bekerja di rumah dan menjahit, bisa menyulam bordir, bisa melakukan tembikar, membuat keranjang dan lain-lain. Wanita juga diperbolehkan bekerja di pabrik dan industri kecil, di mana, yang telah dirancang khusus untuk para wanita, tidak bercampur baur dengan laki-laki, karena Islam tidak setuju dengan adanya percampuran lelaki dan wanita. Wanita selaku seorang istri juga bisa melakukan bisnis, dan juga boleh melakukan transaksi dengan pria asing, dengan didampingi muhrimnya, wanita harus melakukannya melalui seorang ayah atau saudara laki-laki atau suami atau anak laki-lakinya.[8] Dengan terlibatnya perempuan dalam tindak-tanduk ekonomi, memberikan sumbangan besar kepada kemaslahatan keluarga terkhusus bagi suami yang secara totalitas belum mampu memenuhi segala kebutuhan yang mensejahterakan finansial keluarga.

Di Indonesia sendiri, sosok wanita yang sangat berperan dalam ranah ekonomi adalah Sri Mulyani. Ia ditunjuk sebagai Mentri Keuangan RI. Pada tahun 2006 ia dianugrahi sebagai Mentri Keuangan terbaik Asia oleh Emerging Markets pada 18 September 2006 di sela Sidang Tahunan Bank Dunia dan IMF di Singapura. Tidak hanya itu, oleh majalah Forbes tahun 2008 ia terpilih sebagai wanita paling berpengaruh ke-23 di Dunia. Ia juga mendapat prestasi sebagai wanita paling berpengaruh ke-2 di Indonesia versi majalah Globe Asia pada Oktoer 2007.

 

3.      Pendidikan

Modernitas dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) melahirkan tantangan beruntun. Dari luar Islam, kaum muslimin menghadapi tantangan ilmu dan kebudayaan modern. Dari dalam Islam, kaum muslimin menghadapi tantangan konservatimus, dan tradisialismus. Ilmu dan kebudayaan modern melahirkan faham materialisme dan ateisme, juga merupakan tantangan terberat baik Islam sendiri, atau bagi umatnya.[9] Sehingga tak jarang dinamika tersebut berpengaruh terhadap kedudukan wanita dalam berbagai perspektif. Baik dalam Islam itu sendiri atau agama-agama lainnya.

Menurut Zakir Naik, wanita sangat penting memiliki pendidikan, bahkan seorang wanita harus memperoleh pendidikn oleh ayahnya, jika ia sudah menikah maka ia memperoleh dari suaminya. Jika suami tidak bisa mengajar, maka suami harus mengizinkan atau memfasilitasi wanita untuk memperoleh pendidikan.[10] Wanita berilmu dinilai mampu menghadapi apapun halangan dalam hidupnya. Syaratnya wanita perlu mempunyai ilmu yang seimbang antara dunia dengan akhirat.[11]

Lingkungan keluarga merupakan lingkungan pendidikan yang pertama, karena dalam keluarga inilah anak pertama mendapatkan didikan dan bimbingan. Juga di katakana lingkungan yang utama, karena sebagian besar dari kehidupan anak adalah di dalam keluarga, sehingga pendidikan yang paling banyak diterima oleh anak termasuk  peletak dasar bagi pendidikan ahlak dan pandangan hidup keagamaan adalah dalam keluarga. Ibu adalah bagian penting dalam sebuah keluarga, sehingga peran wanita untuk pembentukan karakter dan pendidikan anak sangat diperlukan.[12]

Wanita selaku orang tua merupakan cermin bagi anak-anak di dalam keluarga. Anak-anak cenderung meniru apa yang ia lihat dan temukan dalam keluarga sebab anak diibaratkan bagaikan radar yang akan menangkap segala macam bentuk sikap dan tingkah laku yang terdapat dalam keluarga. Jika yang ditangkap radar anak tersebut adalah hal-hal buruk, maka ia akan menjadi buruk meskipun pada hakikatnya anak dilahirkan dalam keadaan suci.[13]

Keluarga merupakan persekutuan hidup pada lingkungan keluarga tempat dimana ia menjadi diri pribadi atau kelompok. Sebagai mana dalam teori Sigmun freud yang menyatakan bahwa “Das ueber ich” atau aspek sosiologis dan nilai-niai tradisional serta cita-cita masyarakat bagaimana di tafsirkan orang tua terhadap anaknya.[14]

Factor orang tua sangat besar pengaruhnya terhadap keberhasilan dalam belajar anak, karena tinggi rendahnya pendidikan orang tua, besar kecil penghasilan, cukup atau kurang perhatian dan bimbingan orang tua, rukun atau tidaknya kedua orang tua, akrab tidaknya hubungan orang tua dengan anak-anak tenang atau tidaknya situasi dalam rumah, semua itu turut mempengaruhi pencapaian hasil belajar anak.[15]

Tidak bisa dipungkiri bahwa anak belum bisa mengekspresikan dengan kata-kata apa yang ia rasakan. Akan tetapi, sejak hari pertama kelahirannya, anak sudah dapat merasakan kasih sayang orang-orang di sekelilingnya. Ia merefleksikan kasih sayang yang ia rasakan dengan senyuman. Menurut Banu Garawiyan, kasih sayang merupakan “makanan” yang dapat menyehatkan jiwa anak.[16] Dan sebagian besar makanan itu ia dapatkan dari peran ibunya sebagai yang melahirkan dan menyusuinya.

Apabila peran wanita tidak ada dalam pendidikan, dengan demikian anak tidak akan berkesempatan untuk mendapatkan perhatian dari orang tuanya. Padahal anak sangat membutuhkan dorongan dari orang tua bila anak sedang belajar, mengaji, tumbuh, berkembang, dan berprestasi.[17]

 



[1] Nur Cholis Madjid, Islam Kemoderenan dan Keindonesiaan (Bandung: Mizan, 1998),  hlm. 221.

[2] Amin Abdullah, Studi Agama: Normativitas atau Historisitas? (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004), hlm. 10.

[3] Zakir Naik, Right of Women in Islam (New Delhi: Adam Publishers, 2009), hlm. 29.

[4] Bushrah Basiron, Wanita Cemerlang (Johor Bahru: Universiti teknologi Malaysia, 2006), hlm. 4.

[5] Siti Muri’ah, Nilai-nilai Pendidikan Islam dan Wanita Karier (Semarang: Rasail Media Group, 2011), hlm. 159.

[6] Ray Sitoresmin Prabuningrat, Sosok Wanita Muslimah Pandangan Seorang Artis (Tiara Wacana, Yogyakarta, 1993), hlm. 1.

[7] Zakir Naik, Right of Women in Islam…, hlm. 21.

[8] Zakir Naik, Right of Women in Islam…, hlm. 22.

[9] Sidi Gazalba, Islam Integrasi Ilmu dan  Kebudayaan…, , hlm. 8.

[10] Zakir Naik, Right of Women in Islam…, hlm. 37

[11] Bushrah Basiron, Wanita Cemerlang…, hlm. 4.

[12] Hasbullah, Dasar-dasar Ilmu Pendidikan (Cet. XI; Jakarta: Rineka Cipta, 2013), hlm. 38.

[13] Khairiyah Husain Taha Sabir, Peran Ibu dalam Mendidik Generasi Muslim (Jakarta: Firdaus, 2001), hlm. Xviii.

[14]  Sumadi Suryabrata, Psikologi Pedidikan (Cet. V;  Jakarta: Rajawali Pers, 2004), hlm. 103.

[15] M. Dalyono, Psikologi Pendidikan (Cet. 1; Jakarta: Asdi Mahasatya, 1997), h. 59.

[16] Banu Garawiyan, Memahami Gejolak Emosi Anak (Bogor: Cahaya, 2002), hlm. 73.

[17] Daryanto, Belajar dan Mengajar (Cet. I; Bandung: Yrama Widya,  2010), hlm. 44.