Wah Ternyada dalam Islam Ada Solusi agar Suami Tidak Poligami

0
Source:

po,lBeberapa fakta sosial yang sering ditemukan, tentang murkanya seorang istri terhadap suami yang memadunya adalah karena kurangnya pengetahuan istri dalam memahami nilai-nilai poligami dalam Islam. Kerap seorang istri dengan segenap cemburu yang membakar amarahnya cenderung menyalahkan konsep Islam. Padahal bila ia mengetahui lebih awal tentang bagaimana Islam mengatur kemaslahatan umat, ia pasti akan bersahaja dan berbesar hati.

Dalam Islam, seorang suami tidak wajib meminta izin istrinya apabila hendak menikah lagi. Namun, jika izin itu diberikan oleh istri pertama, secara alami akan ada hubungan yang lebih baik antara suami, dan istri kedua. Tapi itu tidak diwajibkan, kecuali dengan satu syarat, jika istri menyebutkan dalam kontrak nikahnya, bahwa; 'Saya tidak ingin anda mengambil istri lain, selama saya berada menjadi istri anda'. Jika demikian, maka menjadi wajib bagi suami, untuk meminta izin dari istri, sebelum menikah. Jika tidak, dalam semua kasus lain itu tidak wajib, hanya itu lebih baik

Jadi solusi yang ditawarkan kepada wanita yang menolak dimadu atau suaminya menikah tanpa izinnya maka dengan membuat kontrak sebelum pernikahan, sehingga bila suami akan menikah lagi maka ia wajib meminta restu dari sang istri, dan istri juga bisa melakukan ‘isma’, yakni membuat dalam kontrak pernikahannya bahwa ia bisa menceraikan atau menjatuhkan talaq pada suami.

Tanpa ‘isma’ seorang wanita tidak bisa memberi talaq, karena talaq adalah kata Arab yang digunakan untuk perceraian. Suami menjatuhkan talaq pada istri, istri tidak bisa melakukannya. Namun wanita bisa meminta cerai.

Ada 5 jenis perceraian, dalam Islam . Jenis pertama, adalah dengan sepakat, dengan kesepakatan antara suami dan istri, keduanya mungkin berkata; “Oke, kita tidak cocok lagi, mari kita berpisah” Tipe kedua, adalah dengan keinginan sepihak dari suami, yang disebut 'talaq', di mana, dia harus merelakan maharnya. Jika dia belum membayarnya, dia harus membayarnya kepada istrinya, dan termasuk hadiah lainnnya, dia harus memberikannya kepadanya.

Tipe ketiga, adalah dengan kemauan sepihak dari istri, Jika dia menyebutkannya dalam kontrak pernikahnya. Dia berhak memberikan perceraian sepihak, dia bisa memberikannya. Ini disebut 'Isma'. Dengan 'Isma' - Bahkan seorang wanita pun bisa memberikan cerai. Kategori ketiga adalah, jika suami memperlakukannya buruk, atau tidak memberinya hak yang sama, dia berhak pergi ke hakim, dan membatalkan pernikahannya. Ini disebut sebagai 'Nikah-e-Fask'.

Dalam hal ini, menurut hakim, dia mungkin meminta suami untuk memberikan maharnya secara penuh, atau sebagian dari mahar, tergantung pada pertimbangan hakim. Dan yang keempat atau terakhir adalah 'Kulah'.  Bahwa meskipun suami itu adalah suami yang sangat baik, istri tidak menemukan kesalahan suami, walaupun untuk alasan pribadi, seperti istri tidak menyukai suami, maka istri bisa meminta suami , untuk menceraikannya, dan itu disebut kulah.

Tapi sangat sedikit orang yang berbicara tentang wanita menjatuhkan cerai kepada laki-laki. Beberapa ulama telah mengelompokkan 5 jenis perceraian ini, menjadi 2 atau 3 kategori berbeda, namun secara umum ada 5 jenis perceraian, dalam Islam.