Wah! Ternyata Ini Sebab Mengapa Gelar Bangsawan Cut Semakin Pudar di Aceh

0
Source: helloacehku.com

Gelar Cut merupakan suatu gelar yang tidak dimiliki oleh seluruh wanita yang lahir dan menetap di Aceh. Gelar tersebut hanya dapat disanding pada awal nama seorang wanita yang memiliki garis murni bangsawan atau keturunan raja dan ratu Aceh. Gelar tersebut biasanya akan terus diwariskan pada anak cucu dengan syarat wanita yang memiliki gelar Cut menikah dengan Teuku selaku lelaki yang memiliki garis bangsawan. Jika tidak, maka gelar tersebut akan terhenti pada dirinya saat itu dan tidak dapat diwariskan kepada generasi selanjutnya.

Sejarah gelar Cut berawal dari sistem kerajaan garis keturunan Ulee Balang pada masa kesultanan Aceh. Gelar tersebut mendeskripsikan sosok perempuan yang anggun, mengagumkan, tegas, dan dapat membangun rumah tangga dengan baik. Literaur sejarah menjadi bukti bahwa wanita yang bergelar Cut dinilai sebagai wanita yang berkharisma, terpandang, taat, dan berdedikasi tinggi dibanding wanita lainnya. Tak heran jika masa kerajaan silam, pihak keluarga akan memilih pasangan anaknya dengan garis keturunan bangsawan juga guna mempertahankan darah biru mereka.

Hingga saat ini masih bisa ditemukan beberapa kalangan wanita yang menyanding gelar Cut. Sayangnya tidak semua dari mereka mengimplementasikan makna dan beban moral yang seharusnya menjadi kebanggaan dari nama besar tersebut. Banyak ditemukan gelar Cut hanya sebatas nama, bahkan tak jarang segelintir orangtua memberikan nama anaknya dengan sebutan Cut walaupun tidak memiliki garis bangsawan yang murni lagi.

Eksistensi dan urgensi gelar Cut mulai pudar seiring terkikisnya sistem monarki yang hilang ditelan zaman. Budaya kerajaan yang sudah diwariskan dari generasi ke generasi mulai dilupakan sendiri oleh masyarakat Aceh sehingga gelar bangsawan ini semakin hari semakin berkurang kuantitasnya. Apalagi di era modern saat ini, sudah bukan zamannya memilih pasangan dari sisem perjodohan. Anak lelaki maupun wanita sudah memiliki kriteria masing-masing dalam menemukan pasangan hidupnya, yang tentu saja, kriteria mereka dalam memilih bukan berdasarkan darah yang dibawa calon pasangan, lebih dari itu mereka lebih memilih pasangan yang dinilai dapat membahagiakan mereka walau bukan dari kalangan bansawan.