Aceh dan Sumatra Perlu Perhatian Internasional Tanggapi Bencana Cyclone Senyar

Banda Aceh — Juru Bicara Komite Peralihan Aceh (KPA), Bang Jack Libya, menyerukan perhatian mendesak dari komunitas internasional atas krisis kemanusiaan yang semakin memburuk di Aceh dan sejumlah wilayah Sumatra setelah dampak dahsyat Cyclone Senyar. Ia menekankan perlunya mobilisasi segera Lembaga Swadaya Internasional (INGO) untuk memperkuat operasi tanggap darurat.

Banjir besar dan longsor yang dipicu Cyclone Senyar merupakan bencana terburuk dalam sejarah Aceh, melampaui kapasitas penanganan lokal. Akses antarwilayah terputus, ribuan rumah hancur, dan puluhan ribu warga terpaksa mengungsi. Fasilitas kesehatan kehabisan obat, tempat pengungsian meluap, dan pasokan air bersih semakin kritis.

Pemerintah Aceh telah menyatakan bahwa seluruh wilayah terdampak sepenuhnya terbuka bagi organisasi kemanusiaan internasional, khususnya yang memiliki keahlian dalam layanan medis darurat, pencarian dan penyelamatan, manajemen shelter, logistik, sistem air bersih, serta rekonstruksi pascabencana.

Bencana ini tidak hanya melanda Aceh, tetapi juga Sumatra Utara dan Sumatra Barat, menjadikannya salah satu krisis kemanusiaan terbesar dalam sejarah modern Indonesia. Otoritas menekankan kebutuhan mendesak terhadap unit medis lapangan, sistem pemurnian air, bantuan pangan, logistik darurat, dan dukungan teknis pemulihan.

Bang Jack Libya menegaskan bahwa dunia tidak boleh berpaling: “Aceh dan Sumatra sangat membutuhkan solidaritas global.”

Juru Bicara Komite Peralihan Aceh (KPA), Bang Jack Libya

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada sejumlah INGO yang telah mulai menyalurkan bantuan, serta menegaskan kesiapan KPA untuk mendukung setiap organisasi internasional yang ingin membantu meringankan beban masyarakat terdampak bencana.

Menurut pembaruan terbaru BNPB per 3 Desember 2025, bencana banjir dan longsor di Sumatra telah menyebabkan 753 korban meninggal, 650–663 orang hilang, dan sekitar 2.600 orang luka-luka. Total 3,3 juta warga terdampak dan lebih dari 576.000 orang mengungsi ke lokasi darurat. Kerusakan infrastruktur juga luas, dengan 3.600 rumah hancur, 2.100 rusak sedang, dan 3.700 rusak ringan, serta kerusakan signifikan pada sekolah, fasilitas kesehatan, jembatan, dan infrastruktur vital lainnya.

Scroll to Top